Aspirasi Mahasiswa

Selama sejarah peradaban Indonesia, banyak peristiwa yang menyisihkan celah buruk yang cenderung dilupakan dan tidak di imbangi oleh pengetahuan. Generasi masa kini cenderung acuh pada negrinya sendiri dan tidak merasa memiliki bangsa yang sudah dibangun dengan dasar susah payah dengan perjuangan yang sangat luar biasa. Pengorbanan nyawa yang dipertaruhkan memberikan pesan moral kepada kita, bahwa Indonesia sampai di antarkannya ke gerbang kemerdekaan bukan di capai atas dasar main- main. Setelah penghantaran dan pengisian kemerdekaannya oleh para pendiri bangsa tibalah pada masa generasi kita sekarang ini, yang sangat disayangkan jika kita tidak mampu mengenang historis itu dan bahkan cenderung melupakan perjuangan perih itu. Berbagai halangan dan rintangan yang membelenggu serta kebertentangan faham kerap membuat polemik yang sulit dipecahkan dan membuat panas meja diskusi. Seperti ir. Soekarno dan Moh.Hatta dalam ketetapan sistem yang harus dianut oleh bangsa ini, Soekarno menginginkan sistem presidensial sedangkan Hatta menginginkan sistem parlementer yang keduanya saling kekeh, walaupun akhirnya argument soekarno yang ditetapkan. Walaupun kadang keduanya saling bermesraan namun tidak menjamin dalam pemikiran mereka sepaham. Itu semua wajar, karena memang begitulah dinamika kehidupan.

Terlalu jauh jika kita harus bicara historis berdirinya Negara ini, namun yang pasti kita harus paham betul bagaimana bangsa ini bisa ada. Hanya sejarahlah yang bisa mengatasi masalah ini. Dan disamping sejarah, ini jga perupakan kewenangan dan kewajiban suatu lembaga yang memang sudah diamanatkan dalam Undang-Undang, yaitu Majlis Permusyawaratan Rakyat (MPR). namun kita khususnya yang sedikit punya pengetahuan tentang itu tidak ada salahnya berpartisipasi membantu untuk menyosialisasikan amanat undang-undang untuk MPR itu. Karena jika kita lihat beberapa kasus di Indonesia saat ini, banyak peristiwa yang miris yang jauh dikatagorikan mempunyai jiwa nasionalisme yang mumpuni (ke indonesiaan). Seperti kasus yang baru-baru ini dilakukan oleh remaja yang melecehkan patung pahlawan dengan berbagai aksinya yang sangat memalukan dan sangat melecehkan, juga penghinaan terhadap pancasila yang tidak sedikitpun memikirkan bahwa kita bisa hidup damai bergandengan tangan dengan agama,budaya,ras lain karena atas dasar terikat ikrar oleh pancasila itu. ini akan terus terjadi jika kita sebagai pemuda Indonesia tidak ikut serta dan aphatis saja membiarkan negeri ini benar-benar mati (kehilangan jati diri)nya.

Dari beberapa kasus itu, setidaknya bisa membuka mata kita bahwa sebagai orang Indonesia yang lahir, tidur, memijaki tanah Indonesia dan lain sebagainya tidak menjamin seseorang mencintai negaranya dengan sungguh-sungguh. Ini termasuk keadaan darurat Negara yang secepatnya harus dibenahi dan di antisipasi. Jika dibiarkan saya tidak menjamin Indonesia ini akan tetap dibawah kendali bangsanya sendiri. Jika begitu, lantas apa bedanya Indonesia sekarang dengan Indonesia jaman dahulu?. Alasan mendasar yang membuat Indonesia seperti ini iyalah dipengaruhi oleh faktor globalisasi yang tidak bisa kita pungkiri. Pola westernisasi yang berlebihan ini membuat generasi kita tidak mengenal jatidirinya sebagai anak bangsa yang pada pundaknyalah negri ini berada.