Aspirasi Mahasiswa

Universitas Airlangga kembali mendorong para dosen untuk lebih aktif menulis di media massa dengan menggelar pelatihan penulisan opini di Gedung Kahuripan 301 Kampus C pada Rabu (6/12).

Hadir dalam acara itu Wakil Rektor I UNAIR Prof. Djoko Santoso, dr., Ph.D., Sp.PD., K-GH., FINASIM. Dalam sambutannya, Prof. Djoko menyatakan bahwa pelatihan tersebut merupakan upaya untuk mendorong para dosen agar mengambil peran dalam mengisi kolom-kolom di media massa.

”Pokoknya, harus banyak dosen yang berani menulis di media massa,” tegasnya.

Sebagai pemateri pertama, Sri Hartati Samhadi selaku redaktur opini Harian Kompas membuka materi dengan memperkenalkan sekilas tentang karakteristik opini di media tempatnya bekerja. Selain itu, menurut Sri, UNAIR merupakan salah satu kampus yang paling sering mengirimkan opini ke Harian Kompas dari wilayah Surabaya.

“Tapi, ya hanya orang-orang itu saja yang mengirim kepada kami. Karena itu, selepas kegiatan ini, saya berharap sebaran penulis bisa semakin banyak lagi,” tuturnya.

Selanjutnya, Sri memberikan beberapa tips agar tulisan opini bisa diterima redaksi. Tips umum yang diberikan Sri, antara lain, opini di Harian Kompas selalu menyangkut isu nasional terkini.

”Sebab, kami koran nasional. Jadi, isu-isunya, ya, harus yang menyangkut kepentingan nasional. Boleh isu lokal, asal bisa mengandung pada hal-hal yang menasional,” ucapnya.

Lebih penting dari itu, tambah Sri, penulis jangan hanya mengirim tulisan ke redaksi sekali atau dua kali, tapi harus berkali-kali. Sebab, jika demikian, tulisan sangat mungkin akan diterima redaksi. Selain itu, semakin sering penulis mengirimkan ke redaksi, secara tidak langsung hal itu akan menjadi wadah untuk mengasah kemampuan.

”Perbanyak jam terbang, itu intinya,” tegas Sri.

Menjadi pemateri selanjutnya adalah Ibrahim Ali Fauzi. Redaktur Eksekutif GEOTIMES itu dalam paparannya mengajak peserta pelatihan melihat sisi lain dalam mengangkat isu-isu nasional. Bagi dia, menulis tidak sekadar untuk dibaca oleh banyak orang.

”Perihal isu-isu kekinian, esensi yang ditekankan adalah bukan untuk menarik pembaca saja. Lebih dari itu, yakni membuka wawasan khalayak yang lebih luas,” katanya. (*)

(Penulis: Nuri Hermawan)