Aspirasi Mahasiswa

Entahlah akupun tak mengetahuinya dengan jelas, siapa dia sebenarnya tak ada yang tahu, secara penampilan fisik, dirinya masih sangat muda untuk bisa disebut sebagai guru, tapi entahlah bila diukur dari segi umur, bisa jadi ia lebih tua, hanya saja penampilan fisiknya begitu muda, bahkan teramat sangat muda, mirip pemuda yang masih berumur sekitar 20 tahun, siapapun tiada yang tahu pasti, hingga pada suatu hari ketika selesai belajar dari majelis aksara, aku memberanikan diri untuk sekedar bertanya kepada lelaki ini, aku benar-benar penasaran, dan ingin membuktikan cerita dari orang-orang yang bercerita tentangnya.

Langit masih terlihat biru namun agak gelap dan sedikit pekat, terlihat burung-burung mulai kembali ke sarangnya di pepohonan, menandakan waktu senja akan segera tiba.

Dengan sedikit ragu dan agak gugup, tapi aku tetap memberanikan diri, aku mulai datang menghampiri lelaki itu, ia sedang duduk sambil menatap langit di halaman belakang majelis aksara.

“Wahai Guru, bolehkah aku ikut bergabung bersamamu disini?”

Sembari tersenyum ia menjawab “silahkan saja”

“Guru, aku ingin bertanya sesuatu hal padamu?”

“Apa yang hendak kau tanyakan, Sas?

“Aku ingin bertanya padamu tentang apa itu BENAR?”

“mengapa kamu menanyakan hal itu, Sas?”

“Karena di luar sana banyak yang mengklaim dirinya benar, bahkan paling benar.”

“Kamu mau menilai benar dari sisi mana? Kalau kita menilai kebenaran yang berasal dari pandangan manusia, maka manusia tidak bisa menyatakan kebenaran mutlak, bahkan para nabi dan rasul sekalipun, karena nabi dan rasul pun mereka juga manusia, kebenaran yang kita terima dari para nabi bukanlah kebenaran mutlak mereka, kebenaran yang mutlak hanyalah milik Tuhan, para nabi hanya diajarkan untuk mengetahui tentang kebenaran, bukan diajarkan tentang arti kebenaran itu sendiri, ini bisa kita lihat contohnya bahwa para nabi pun tidak bisa memiliki hak mutlak bahwa dirinya benar.

“Mengapa bisa demikian? Biar aku jelaskan” contoh seperti halnya Musa pernah lancang meminta ingin bisa melihat Tuhan secara wujud, lalu kemudia ia pingsan karena kaget dan tidak tahan dengan kedatangan hadirat Tuhan, padahal baru hadiratnya yang datang, Tuhan belum menampakan diri Nya sama sekali, tapi gunung yang ada di depan Musa hancur lebur karena datangnya hadirat Tuhan, lalu kemudian Musa tersadar akan kesalahanannya, sehingga bersujud dan memohon ampunan atau ketika Musa membunuh orang Qibti, walaupun ia tidak sengaja karena membela orang yang berasal dari kaumnya (Bani Israil), atau Daud yang khilaf dan ditegur Tuhan karena bersikap tidak adil ia ingin memperistri salah seorang istri dari anak buahnya, dia ingin menggenapkankan untuk memiliki 100 istri namun kemudian Tuhan menegurnya dengan mengirimkan malaikat yang menyamar menjadi manusia, para malaikat yang sedang menyamar ketika itu sedang berselisih soal kepemilikan ternak gembalaan, lalu Daud menghampiri untuk melerai, tapi betapa kagetnya Daud ternyata permasalahkan para malaikat yang sedang menyamar itu sama dengan masalah yang dilakukan oleh dirinya.

“Kenapa kau serakah sekali, bukankah kau telah memiliki banyak kambing, tapi mengapa kau masih menginginkan kambing orang lain” ucap Daud pada salah seorang gembala

“Apakah kau tidak berpikir, bukankah kau juga berlaku seperti itu? Kau ingin memaksakan kehendakmu untuk memiliki apa yang sudah dimiliki orang lain, kau ingin mempersunting istri dari anak buahmu, padahal kau sudah memiliki banyak istri.

Tapi kemudian Daud menyadari bahwa mereka adalah utusan Tuhan yang datang untuk memberikan peringatan, dan yang paling mahsyur adalah kisah moyang kita yang dikeluarkan dari surga, yaitu Adam dan Hawa, mereka melanggar perintah Tuhan untuk tidak mendekati pohon khuldi, tapi justru mereka malah mendekatinya bahkan memakan buahnya.

Ini jelas menunjukan bahwa nabi dan rasul sekalipun tidak bisa memiliki kebenaran mutlak, karena manusia itu bersifat fana , kebenaran-kebenaran manusia itu adalah hanya apa yang disepakati bersama oleh para manusia tersebut, maka kita tidak bisa serta merta kemudian mengatakan golongan saya yang paling benar karena hanya sayalah yang benar-benar mengikuti perintah Tuhan dan nabi, padahal nabi sendiri masih mengatakan bahwa ia tidak bisa menjamin dirinya akan masuk surga bila bukan karena rahmat Allah.

“Tidak ada amalan seorangpun yang bisa memasukannya ke dalam surga, dan menyelamatkannya dari neraka, tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” (HR.Muslim no.2817).

Maka sesungguhnya benar dan ketidak benaran di mata manusia adalah relatif, di masa yang sekarang sesuatu hal tersebut mungkin bisa dikatakan benar, tapi belum tentu benar di masa yang akan datang, maka sehebat apakah dirimu bila kamu menganggap dan merasa bahwa hanya dirimu saja atau golonganmu saja yang benar dan paling benar.