Aspirasi Mahasiswa

Fakta Dibalik Tugu Romusha di Lebak Selatan Banten

 

Oleh : Ajat Sudrajat – Banyak kenangan sejarah pahit yang dialami bangsa ini dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.  Sejarah romusha di kecamatan Bayah Kabupaten Lebak adalah satu dari sekian banyak luka sejarah yang dialami bangsa ini,  kini kenangan sejarah di pesisir pantai ujung Banten ini hanya tinggal tersisa berupa tonggak monumen berbentuk Tugu atau yang lebih dikenal tugu Romusha. Terletak di Wilayah Bayah Lebak Selatan, provinsi Banten, Tugu ini di buat sebagia bentuk penghargaan dan pengingat akan adanya sejarah Romusha di Lebak Selatan.

Bayah menjadi tempat berkumpulnya Pekerja Romusha atau pekerja yang dipaksa oleh para penjajah Jepang tanpa bayaran yang layak, bahkan untuk makan mereka saja tidak cukup, sehingga keadaan ini membuat para pekerja sering kelaparan dan kesakitan namun penjajah tak menghiraukan keadaan tersebut,  mereka dipaksa bekerja dalam kondisi apapun.

Mulai terjadinya praktik Romusha ini sejak Jepang mengeksploitasi tambang batu bara pada 1 April 1943. Karna waktu itu Jepang mengalami kendala saat melintasi jalur laut maka munculah ide untuk membuat jalur darat yaitu menggunakan kereta. Dari sinilah para Romusha mulai di rekrut. Para Romusha tidak hanya di pekerjakan membuat jalur kereta saja namun mereka di pekerjakan sebagai penjaga kebun karet milik belanda yang diambil alih oleh pemerintah jepang, membangun prasarana perang seperti kubu-kubu pertahanan, gudang senjata, mereka dipekerjakan pula di pelabuhan- pelabuhan antara lain memuat dan membongkar barang-barang dari kapal-kapal, mereka juga di pekerjakan  untuk menanam sayuran dan palawija guna memenuhi kebutuhan makan sehari-hari tentara Jepang, bahkan mereka  dijadikan sebagai penambang batu bara karena Bayah menjadi satu-satunya tempat yang mengandung batu bara di Pulau Jawa, kandungan batu bara yang berada di bayah mencapai 20-30 juta ton (Sumber : http://dulang777.blogspot.co.id

Bukan jumlah yang sedikit 4 -10 jutaan warga dipekerjakan secara paksa oleh bala tentara Jepang. Tak sedikit nyawa yang hilang akibat terjadinya praktik ini karna kelaparan, kelelahan dan terserang penyakit, hampir 500 Romusha mati setiap harinya, dan mereka dikuburkan ditempat yang tak layak, mereka dikubur secara massal di tempat bekas galian batu bara tersebut.

Jawa adalah tempat dimana populasi manusia cukup tinggi, maka dari pola fikir inilah meskipun ratusan bahkan ribuan nyawa melayang, seakan-akan tak menjadi beban, karena mereka akan sangat dengan mudah mencari penggantinya. Tidak hanya warga pribumi yang di pekerjakan secara paksa, sebagian para Romusha itu didatangkan dari Jawa Tengah, seperti Purworejo Kutoharjo, Solo, Purwodadi, Semarang, Yogyakarta dan daerah di Jawa lainya. Para romusha ini tersebar di sejumlah tempat di kecamatan Bayah yakni di Kampung Pasir Kolecer, Cikadu, Kampung Sawah, Purwodadi dan Pulomanuk.

Peninggalan yang menyisakan luka itu adalah  Salah satu bukti yang kuat mengenai tragedi kerja paksa di lebak selatan, ini adalah sebuah upaya pencarian 19 titik lubang penggalian batu bara di Gunung Madur dimana Kawasan ini dijadikan kuburan massal para korban romusha yang tewas karena kelaparan dan penyiksaan.  

Dari saksi sejarah dan mantan romusha yang saat ini masih hidup untuk mengetahui zaman kerja paksa yang dilakukan tentara Jepang, Badjaji, tokoh masyarakat Bayah, mengaku sempat melihat kekejian tentara Jepang saat kerja paksa terjadi.Pada saat itu beliau berusia  8 tahun.” Setiap hari dua sampai lima orang romusha mati, karena kelaparan,” kata Badjaji

You might also like
Comments
Loading...