CultureFeatured

Polemik Kebangkitan Becak Sebagai ‘Angkutan Lingkungan’ di Ibu Kota. Yuk Lihat Faktanya

Becak adalah salah satu moda transportasi tradisional kebanggaan Indonesia. Jelas harus dilestarikan dan dihargai rekam jejaknya. Namun saat ini di jalanan-jalanan modern yang diharapkan efektif, efisien, dan bebas macet, posisi kendaraan tradisional seperti becak ini seakan-akan semakin tidak diterima. Terlebih lagi di kota besar seperti DKI Jakarta yang menjadi pusat kegiatan ekonomi dan pemerintahan, becak bahkan sudah dilarang sejak akhir tahun 1980-an. Meskipun diprotes para penarik becak dan lembaga-lembaga kemanusiaan, becak dianggap tidak lagi efektif dan bahkan menyebabkan kemacetan. Setelah sempat diperbolehkan kembali menyusul krisis ekonomi 1998 karena tingginya angka pengangguran, becak dilarang lagi dengan Peraturan Daerah No.18/1998 hingga sekarang.

Nah larangan becak inilah yang ingin diubah dalam era kepemimpinan baru Ibu Kota di bawah Anies Baswedan. Dilansir dari Kompas, Gubernur DKI Jakarta ini baru saja mengungkapkan rencana pengoperasian kembali becak sebagai moda transportasi umum (14/01). Menurut Anies, becak akan dioperasikan di beberapa wilayah perkampungan sebagai ‘angkutan lingkungan’dengan beberapa jalur operasi. Selain menuai banyak pro dan kontra, sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan angkutan lingkungan?! Simak yuk fakta lengkapnya bareng Hipwee News & Feature!

1. Polemik pengoperasian kembali becak di DKI Jakarta berawal dari kontrak politik Anies-Sandi kepada Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK)

Kontrak politik yang disetujui Gubernur Anies Baswedan dan wakilnya tahun 2016 lalu coba perlahan diwujudkan mereka. via tirto.id

Rencana pengoperasian becak di jalan non-protokol oleh Anies Baswedan ini berawal dari kontrak politik yang disetujui Anies saat masa kampanye 2016 lalu. Dia menandatangi selembar kontrak yang bersama Forum Komunikasi Tanah Merah Bersatu. Isi dari kontrak politik tersebut adalah perihal pemenuhan dan perlindungan hak warga kota. Salah satu isi poinnya adalah soal penataan ekonomi informal (pedagang kaki lima, becak, nelayan tradisional, dan sebagainya) seperti yang dinukil dari CNN Indonesia. Sandiaga Uno pun membenarkan kontrak politik yang ditandatangani sejawatnya, Sandi juga menambahkan bahwa beberapa poin adalah kontrak politik di masa kepemimpinan sebelum mereka.

2. Tak pelak usulan tersebut mengundang pro dan kontra di lini masa media sosial, banyak yang dukung tak sedikit yang protes

Banyak yang pro dan kontra, sebagian yang tak setuju merasa kehadirannya kurang efektif. via metro.tempo.co

 

Becak yang sudah terlanjur dicap sebagai biang kemacetan dan juga dianggap sebagai bentuk ‘eksploitasi manusia atas manusia’ kehadirannya kini malah dipermasalahkan. Selain itu, banyaknya kendaraan pribadi roda empat di jalan perkampungan yang tak memiliki lahan garasi atau lahan parkir juga tak ramah becak. Banyak netizen yang kecewa dengan rencana Pemprov DKI ini, mereka mengeluhkan padatnya jalur perkampungan ditambah dengan keriuhan dari para penarik becak dengan kendaraanya. Tapi tak sedikit juga yang mendukung keputusan Anies Baswedan, mereka menganggap kalau beroperasinya becak adalah jawaban untuk pemenuhan hak para penarik becak.

3. Para pengamat dan ahli di bidang transportasi publik pun pesimis dengan rencana yang akan diambil Pemprov DKI terkait pengoperasian becak

Helicak, salah satu kendaraan umum yang dulu digadang-gadang dapat menggantikan peran becak. via majalahouch.com

Dilansir dari Tempo, beberapa pengamat juga mempertanyakan rencana Anies Baswedan ini, Ellen Tangkudung dari Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) salah satunya. Dia menilai moda transportasi becak sudah kalah bersaing dengan bajaj dan ojek online, dia juga menambahkan kalau pengoperasian becak fungsinya tidak efektif lagi. Lain lagi, pengamat transportasi Djoko Setijowarno beranggapan bahwa becak sudah tidak menarik lagi bagi penumpang dan pengemudinya. Dia berpendapat, penghasilan mereka terlalu kecil untuk mengayuh becah sepanjang hari. Dia juga memberikan saran supaya Pemprov DKI agar mementingkan keterhubungan sarana transportasi. Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio menyayangkan rencana Gubernur DKi tersebut, Agus mengusulkan kalau perizinan operasi becak ditujukan di tempat wisata saja, karena di jalan umum para penarik becak memiliki risiko keselamatan kerja yang mengancam menurutnya.

 

4. Menanggapi banyak suara negatif, Anies kembali menggarisbawahi wacana ini untuk melindungi profesi penarik becak yang selama ini jadi korban

Becak di beberapa kawasan wisata memiliki peran yang efektif. via Akurat.co

 

Meski mendapat banyak kritik, Anies tetap bersikukuh tentang rencananya itu. Menurutnya, izin operasional becak penting dilaksanakan karena Jakarta bukan milik sebagian orang saja, dia beranggapan bahwa banyak masyarakat yang masih membutuhkan moda transportasi becak ini. Dilansir dari Kompas.com, mengacu pada Serikat Becak Jakarta (Sebaja) yang memiliki 1.000 anggota, Anies mendapati pengoperasian becak masih berlangsung di berbagai wilayah di DKI Jakarta. Atas dasar rasa iba kepada profesi penarik becak yang menurut Anies telah menjadi korban, dia tetap bersikukuh dalam perwujudan perencanaan ini terlepas dari kontrak politik yang disetujuinya.

5. Polemik ini harusnya menemukan jalan tengah, tak bisa menyalahkan kepentingan salah satu pihak. Keberlangsungan operasional baik becak maupun kendaraan lain harus bersinergi

Pedicab di New York yang jadi inspirasi Sandiaga Uno memilki regulasi yang jelas. via wirednewyork.com

Dilansir dari Tempo, Ketua Forum Warga Kota Jakarta (Fakta) Azas Tigor Nainggolan mengatakan bahwa becak adalah transportasi manusiawi dan ramah lingkungan karena tak menggunakan mekanisme seperti sepeda motor atau sejenisnya. Menurutnya perizinan operasional ini harus didampingi dan diawasi, Pemrov DKI perlu membuat aturan supaya nantinya becak tetap nyaman bagi penggunanya. Polemik ini mestinya akan terus berlangsung, sejauh mana Pemprov DKI bisa mewujudkan pengoperasian becak kembali tanpa mengurai masalah baru? Pertanyaan ini pasti akan selalu berdampingan selama proses perwujudan rencana Anies-Sandi ini.

Becak sebagai moda transportasi sebenarnya sudah beberapa kali digantikan oleh kendaraan lain, sebut saja bajaj, helicak dan kancil. Namun kembali lagi kendaraan pengganti itu juga tak bisa berlangsung dan bertahan lama. Di zaman yang terus berkembang, kendaraan tak bisa dipisahkan dari kelangsungan kehidupan manusia. Kendaraan umum yang populer dewasa ini sangat eksklusif. Becak sebagai kendaraan umum yang ramah lingkungan harusnya dikelola pemerintah, pembentukan regulasi yang jelas dan tentunya menentukan konsep eksklusifitas becak sebagai kendaraan favorit. Ini semua masih PR!

Copyright: hipwee.com

loading...

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close