Aspirasi Mahasiswa

Unik Dan Menakjubkan Asal – Usul Nama Kecamatan Yang Ada Di Pandeglang

Indokampus.com – Kabupaten Pandeglang adalah sebuah kabupaten di Provinsi Banten, Indonesia. Ibu kotanya adalah Pandeglang. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Serang di utara, Kabupaten Lebak di Timur, serta Samudra Indonesia di barat dan selatan. Wilayahnya juga mencakup Pulau Panaitan (di sebelah barat, dipisahkan dengan Selat Panaitan), serta sejumlah pulau-pulau kecil di Samudra Hindia, termasuk Pulau Deli dan Pulau Tinjil. Semenanjung Ujung Kulon merupakan ujung paling barat Pulau Jawa, dimana terdapat suaka margasatwa tempat perlindungan hewan badak bercula satu yang kini hampir punah.

Pusat perekonomian Kabupaten Pandeglang terletak di dua kota yakni Kota Pandeglang dan Labuan. Sebagian besar wilayah Kabupaten Pandeglang merupakan dataran rendah dan dataran bergelombang. Kawasan selatan terdapat rangkaian pegunungan. Sungai yang mengalir diantaranya Sungai Ciliman yang mengalir ke arah barat, dan Sungai Cibaliung yang mengalir ke arah selatan.

Kota Pandeglang Juga Memiliki beberapa julukan Yaitu : Kota Badak, Kota Berkah, Kota Santri, dan The Sunset of Java.

Berikut Asal-Usul Nama Kecamatan Di Kota Pandeglang :

  1. Kecamatan Pandeglang

Asal-usul nama Pandeglang memiliki beberapa versi, pertama adalah cerita tentang pembuatan gelang pada meriam Ki Amuk, sebuah meriam besar yang berada di Banten Lama, bekas pusat pemerintahan Kesultanan Banten. Menurut cerita, Meriam Ki Amuk awalnya memiliki bentuk yang hampir sama dengan bentuk meriam Ki Jagur, meriam yang kini berada di museum Fatahillah, Jakarta.

Seperti meriam Ki Jagur pada bagian pangkalnya atau bagian belakangnya memiliki bentuk yaitu bentuk jari tangan yang mana ibu jari diselipkan diantara jari telunjuk dan jari tengah, bentuk ini biasanya disimbolkan sebagai bentuk senggama, demikian pula meriam Ki Amuk. Oleh karena bentuk seperti itu dianggap kurang etis bagi amsyarakat dilingkungan Kesultanan Banten yang islami, maka kemudian muncul cerita di masyarakat yang menyampaikan bahwa bagian belakang meriam Ki Amuk dipotong dan kemudian material potongan dilebur kembali menjadi bentuk gelang sebanyak lima pasang atau sejumlah sepuluh gelang. Pembuat gelang-gelang itu selanjutnya diceritakan dibuat oleh pande besi dari Pandeglang yang bernama Ki Buyut Papak, sekitar 30 Km ke arah selatan Banten Lama.

Versi kedua menceritakan seorang putri dari sebuah kerajaan yang bernama Putri Arum. Diceritakan Putri Arum sedang bersedih karena akan dilamar oleh seorang pangeran yang memiliki paras tampan namun memiliki perilaku jahat bernama Pangeran Cunihin. Lamaran sang Pangeran sulit untuk ditolak karena jika ditolak maka kerajaan sang putri akan dihancurkan.

Singkat cerita Putri Arum lalu bersemedi meminta petunjuk agar terbebas dari Pangeran Cunihin dan setelah itu sang putrid didatangi seorang kakek bernama Pande Gelang. Kakek Pande Gelang menyarankan agar putrid menerima lamaran Pangeran Cunihin dengan tapi dengan syarat yaitu Pangeran Cunihin harus membuatkan lubang pada sebuah batu keramat yang tingginya setara dengan tubuh manusia.

Pangeran Cunihin menyanggupi persyaratan tersebut dan berhasil, hal ini membuat Putri Arum gelisah. Ki Pande kemudian menyuruh Putri Arum (Cadasari) untuk meminta Pangeran Cunihin melewati lubang di batu keramat. Ki Pande telah meletakkan gelang saktinya pada lubang batu itu, setelah melewati lubang di batu keramat itu seluruh kesaktian Pangeran Cunihin langsung hilang dan seketika itu pula berubah menjadi sosok kakek yang tua.

Sebuah versi lain yang tidak berbentuk cerita, namun berdasarkan topografi daerah Pandeglang yang berada di daerah yang lebih tinggi dari lingkungan sekitarnya. Berdasarkan topografi tersebut Pandeglang berasal dari kata Paneglaan yang mengandung makna tempat tersebut orang dapat melihat ke berbagai arah, pengucapan paneglaan lama kelamaan berubah menjadi Pandeglang.

  1. Kecamatan Majasari

Majasari berasal dari dua kata yaitu Maja; Maja diambil dari nama tanaman yang sama dengan nama derah tersebut yaitu tanaman sekaligus nama buahnya yaitu tanaman Maja. Sari dalam kosmologi sunda seringkali diidentikkan dengan keindahan atau manifestasi dimensi feminitas. Ada juga versi yang mengatakan bahwa Majasari diambil dari salah satu tokoh legenda wilayah tersebut yaitu Ki Maja.

  1. Kecamatan Cadasari

Cadasari pokok katanya adalah cadas yang artinya lapisan tanah yang keras, batu yang terjadi dari padatan pasir dan tanah. Cadasari diartikan air yang keluar dari batu cadas.

Penamaan Cadasari didasarkan pada pertamuan Ki Pande dan Putri Arum. Ketika itu Putri Arum sedang mengalami dilemma dan mencari cara untuk menolak lamaran Pangeran Cunihin. Untuk memecahkan masalah tersebut kemudian Ki Pande mengajak Putri Arum ke kediamannya. Karena tempatnya yang sangat jauh Putri Arum tidak kuat lagi berjalan dan kemudian pingsan, dan hanya akan siuman/sadar jika diberi air gunung dari batu cadas, dan kemudian sang putrid tersadar dan semenjak itu dinamakan Puteri Cadasari.

Karangtanjung diambil dari kegiatan masyarakat setempat yang membuat rumah tinggalnya berbahan baku batu karang. Karang-karang tersebut dicampur dengan kapur dibakar kelapa. Mayoritas masyarakat setempat juga berdagang karang yang dibakar tersebut menjadi pokok usaha.

Koroncong diambil dari bahasa Sunda-Banten, keroncong atau ngoroncong yaitu membuat minyak keletik dari buah kelapa. Nama tersebut adalah kegiatan yang sering dulu dilakukan mayoritas masyarakat setempat disana sebagai salah satu kegiatan usaha.

  1. Kecamatan Sumur

Nama Kecamatan ini memiliki satu kata yang merujuk pada benda, secara etimologis, dalam bahasa sunda Sumur berarti tempat ngumpulkeun cinyusu di dinya keneuh atawa cai nua aya dijero taneuh (terj, tempat mengumpulkan mata air dan masih ditempat tersebut atau air yang berada didalam tanah). Keberadaan pulau sumur, yang diatasnya terdapat sumur purba menjadi latar sejarah penamaan kecamatan ini dan konon, sumur purba tersebut ada sejak lama serta memiliki beberapa keistimewaan, diantaranya debit serta rasa air yang selalu konstan tak mengenal musim. Bahkan pada saat air laut pasang ataupun surut debit dan rasanya tidak berubah.

  1. Kecamatan Cimanggu

Nama Kecamatan ini memiliki dua kata, yaitu Ci dan Manggu Dalam Bahasa sunda Ciringkesan tina kecap “cai” (terj. Ci merupakan ringkasan dari kata Cai yang berarti air). Manggu merupakan nama buah, yang dalam Bahasa Indonesia disebut Manggis. Manggis yang dalam istilah latinnya Garcinia mangostana merupakan tumbuhan tropis dan dipercayai berasal dari Asia tenggara. Pohon manggis biasa tumbuh mulai dari 7 hingga 25 meter. Banyaknya pohon Manggu di wilayah ini menjadi latar sejarah penamaan Kecamatan ini.

  1. Kecamatan Cibaliung

Nama Kecamatan ini memiliki dua kata, yaitu Ci dan Manggu. Secara etimologis, dalam Bahasa Sunda Ciringkesan tina kecap “cai” (terj. Ci merupakan ringkasan dari kata Cai yang berarti air). Baliung adalah alat untuk menebang pohon besar atau sebagai salah satu perkakas untuk membangun rumah. Di daerah lain disebut juga Kapak. Gagangnya terbuat dari kayu yang agak panjang (30-35 cm). Tenaga dan daya tekan Baliung harus lebih besar dari pada Bedog (Golok), dan karena itu dibuat dari besi baja yang lebih besar dan tebal pada bagian pangkal (bagian yang tumpulnya). Cibaliung juga dipakai nama salah satu sungai yang cukup besar diwilayah Kabupaten Pandeglang.

  1. Kecamatan Cibitung

Nama Kecamatan ini berasal dari dua kata, yaitu Ci dan Bitung. Secara etimologis, dalam Bahasa Sunda Ciringkesan tina kecap “cai” (terj. Ci merupakan ringkasan dari kata Cai yang berarti air). Bitung (betung) sebangsa awi gombong anu leuwih gede jeung dagingna kandel pisan sok dijieun sasak, tihang, dangdanan nu kuat (terj. Sejenis bambu gombong yang lebih besar dan dagingnya sangat tebal suka dibuat jembatan, tiang, aksesoris yang kuat).

Bitung, betung atau petung dengan nama lain dendrocalamus asper merupakan nama dari salah satu jenis bambu. Sifatnya keras, baik untuk bahan bangunan karena seratnya besar-besar dan ruasnya panjang. Bambu ini dapat dimanfaatkan untuk saluran air, penampung air aren yang disadap, dinding rumah yang dianyam (gedek atau bilik), dan berbagai jenis barang kerajinan.

  1. Kecamatan Cikeusik

Nama Kecamatan ini berasal dari dua kata, yaitu Ci dan Keusik. Secara etimologis, dalam Bahasa Sunda Ciringkesan tina kecap “cai” (terj. Ci merupakan ringkasan dari kata Cai yang berarti air). Keusik : bubuk batu nu laleutik, gedena teu sarua, biasana aya dijero walunganatawa di basisir (terj. Keusik : Bubuk batu yang kecil, besarnya tidak sama, biasanya berada didalam sungai atau dipantai), dalam bahasa indonesia berarti pasir. Karena daerah ini merupakan wilayah dataran rendah yang langsung menuju laut, sehingga memiliki banyak hamparan pantai yang pasti banyak pasirnya. Masyarakat setempat kemudian menamainya wilayah ini dengan Cikeusik untuk memudahkan pengenalan.

  1. Kecamatan Cigeulis

Nama Kecamatan ini diambil dari dua kata, yaitu Ci dan Geulis. Secara etimologis, dalam Bahasa Sunda Ciringkesan tina kecap “cai” (terj. Ci merupakan ringkasan dari kata Cai yang berarti air). Geulis : Awewe nu hade rupana, dina sagala euweuh cawadeunana (terj. Wanita yang bagus parasnya, dalam segala hal tidak ada cacatnya). Dalam bahasa indonesia berarti Cantik. Cigeulis juga dijadikan nama sebuah sungai yang berada diwilayah Kabupaten pandeglang.

  1. Kecamatan Panimbang

Kecamatan Panimbang merupakan salah satu lokasi tujuan wisatawan. Disebelah barat, Kecamatan Panimbang berbatasan langsung Selat Sunda. Dimana di kecamatan Panimbang terdapat wisata Bahari yaitu Pantai Tanjung Lesung. Kawasan Tanjung Lesung, dan direncanakan akan dibangun menjadi kawasan wisata bertaraf international.

Menurut sebuah literatur, pada tahun 130 M diwilayah Panimbang, terdapat sebuah kerajaan Salakanegara (Salaka = perak) atau Rajatapura yang termasuk kerajaan Hindu. Cerita tersebut tercantum pada naskah Wangsakerta. Raja pertamanya yaitu Dewa warman yang memiliki gelar Prabu Darmalokapala Dewa warman Haji Rakja Gapura Sagara yang memerintah sampai tahun 168 M.

Sejalan dengan hal tersebut , mengenai latar Penamaan Panimbang adalah kegiatan perdagangan di zaman kolonial. Konon, daerah panimbang merupakan wilayah tempat mengumpulkan barang-barang yang biasa ditransaksikan, terutama hasil pertanian atau rempah-rempah. Sebelum diangkat ke kapal, barang-barang tersebut ditimbang terlebih dahulu. Dan tempat tersebut dinamai panimbangan yang berarti tempat untuk menimbang.

Jika mendasarkan asal nama Panimbang kepada literatur lain. Pada tahun 264 M Panimbang adalah sebuah negeri dengan penghasilan tambang melimpah. Perjalanan panjang sejarah negeri maritim nusantara ini menunjukan bahwa ada dua negeri yang pernah dikunjungi bangsa india dan cina pada eksodus pertama pada tahun 264 hingga 195 SM. Pendatang asing ini umumnya telah memiliki berbagai tingkat keterampilan dibidang kelautan, pertukangan, pertanian, serta memiliki seni budaya yang jauh lebih tinggi dari penduduk pribumi.

  1. Kecamatan Sobang

Tidak banyak potensi pada Kecamatan Sobang yang ditemukan leiteratur, legenda, sejarah atau cerita masyarakat yang menjabarkan secara spesifik pengertian atau padanan dari kata Sobang, Pandeglang. Namun jika dirujuk pada perjalanan sejarah atau kondisi alam dan masyarakatnya, asal kata sobang dapat didasarkan pada pengadopsian dari penamaan daerah sebuah kecamatan di Lebak, Banten yang juga bernama Sobang, atau diserap dari kata Subang, nama sebuah kabupaten di jawa barat. Versi lain dari pengertian kata Sobang adalah berasal dari kata suweng. Suweng adalah istilah untuk menyebut perhiasan yang dipakai wanita didaun telinganya, atau biasa disebut juga dengan kata anting.

Sementara itu ada yang berpendapat bahwa kata Sobang atau Subang berasal dari kata Kubang, berdasarkan pada ceritera rakyat yang dikisahkan bahwa di daerah sobang terdapat banyak kubangan atau rawa. Definisi berdasarkan kondisi alam tersebut dapat terjadi, jika merujuk pada jaman sebelum daerah ini ramai penduduk atau padat permukiman juga karena memiliki garis pantai. Pengertian ini, lebih jauh lagi dapat dipastikan dengan penelitian lebih lanjut terhadap kondisi demografi dan topografi sebelum atau pada masa kesultanan hingga hari ini.

  1. Kecamatan Munjul

Kecamatan Munjul adalah nama sebuah Kecamatan di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, Indonesia, Munjul dikenal juga sebagai negri kidul, karena munjul berada di pedalaman. Secara administratif, Kecamatan Munjul terdiri dari 9 (Sembilan) desa, 49 Rukun Warga (RW) dan 155 Rukun Tetangga (RT). Desa Kota Dukuh merupakan desa terkecil dengan luas 4,96 Km2, sedangkan Desa Gunung Batu merupakan desa terluas dengan ketinggian rata-rata dibawah 100 meter di atas permukaan laut.

Munjul, Bahasa Sunda, secara etimologis berarti Mucunghul yang dalam Bahasa Indonesia bisa diartikan Muncul. Ini berkaitan dengan tipologi atau kontur tanah didaerah tersebut. Ada juga mitos yang menyatakan bahwa orang dari daerah tersebut biasanya memiliki kelebihan atau kemampuan diatas rata-rata pada umumnya. Hal ini dimungkinkan berkaitan dengan Bahasa sunda Punjul: Pinunjul yang artinya mempunyai kelebihan dibanding yang lainnya.

  1. Kecamatan Angsana

Angsana merupakan nama jenis pohon yang bunganya kuning dan berbau jeruk. Angsana atau sono kembang (Pterocarpus indicus) adalah sejenis pohon penghasil kayu berkualitas tinggi dari Suku Fabaceae (Leguminosae, Polong-polongan). Kayunya keras, kemerah-merahan, dan cukup berat, yang dalam perdagangan dikelompokkan sebagai narra atau rosewood. Di pelbagai daerah, angsana dikenal dengan nama-nama yang mirip : asan (Aceh): sena, sona, hasona (Batak) : Asana sanasana, langsano, lansano (Min.); angsana, babaksana (Btw.); sana kembang (Jw., Md.). namun juga, nara (Bima, seram), nar, na, ai na (Tim.), nala (seram, Haruku), lana (buru), lala, lalan (Amb.), ligua (Ternate, Tidore, Halm.), Linggua (Maluku) dan lain-lain. Sebutan di negara-negara yang lain, diantaranya : apalit (filipina), pradu (Thailand), chandeng (Laos), padauk, sena, ansanah (Burma), Malay padauk, red sandalwood, amboyna (Bahasa Inggris), serta santal roug, amboine (Bahasa Prancis). Banyaknya pohon angsana di wilayah ini menjadi latar sejarah penamaan Kecamatan

  1. Kecamatan Sindangresmi

Sindangresmi berasal dari dua kata, yaitu Sindang; Simyang anu hartina ngajak; saterusna kecap ~ sok dihartikeun basa lemes kana nyimpang, eureun heula ka hiji imah (terj. Simyang yang berarti mengajak; selanjutnya kata-kata diartikan bahasa halus untuk nyimpang, berhenti dulu ke satu rumah) atau dalam bahasa Indonesia suka diartikan Singgah. Sedangkan Resmi suka diartikan berkesesuaian dengan aturan atau formal, normal.

  1. Kecamatan Picung

Nama Picung diambil dari nama sebuah pohon sekaligus dengan buahnya yaitu Picung (Bahasa Sunda) . Pohon dan buah picung yang bernama latin Pangium Edule, di berbagai daerah daerah di Indonesia memiliki nama berbeda-beda, di daerah melayu bernama Kepayang, di Jawa bernama Kluek, Kluek, Kluak, di Betawi bernama Pucung, di Banjar bernama pohonnya lunglai, Klawak, dan di Toraja bernama Panassaran.

Pohon Picung berbatang lurus, tingginya mencapai 60 Meter dengan diameter batang bisa mencapai sampai dengan 120 Cm. Daun Pohon Picung memiliki daun berbentuk jantung, berwarna hijau gelap dan mengkilap bagian atas, sedangkan bagian bawahnya agak keputihan dan sedikit berbulu. Adapun buah Picung warnanya coklat kehitaman bentuknya lonjong dengan bagian ujung dan pangkalnya meruncing, daging buahnya berwarna putih dan lunak.

Tumbuhan picung dapat tumbuh di hutan hujan tropika basah di dataran rendah hingga ketinggian 1500 m eter diatas permukaan air dan merupakan taman asli yang mulai dari Asia Tenggara sampai Pasifik Barat, termasuk Indonesia.

  1. Kecamatan Bojong

Dalam bahasa Sunda, secara etimologis, Bojong taneuh palebah tikungan anu asalna panyaeuran ku kabawa palid di sahiji walungan n.k lila lila jadi luhur, oge sok bias kapanggih dina palebah amprokna dua muara walungan ; sok disebut oge bobojong (terj. Tanah di tikungan yang berasal dari tibunan yang terbawa hanyut di satu sungai sampai lama kelamaan menjadi tinggi, juga suka ditemukan di tempat penemuan dua muara sungai).

Kata Bojong mempunyai arti, karena letak kampong ini menjorok ke sudut (ujung) sedangkan kata tanjakan dikarenakan keadaan tanah kampong tersebut seperti “pulau” dimana tanah-tanah disekitarnya ada yang tinggi dan rendah (landai).

  1. Kecamatan Saketi

Konon, Saketi berasal dari kata Sakti yang berarti kakuatan gaib anu heunteu nyampak di unggal jelema (Terj. Kekuatan gaib yang tidak setiap orang memilikinya), dalam Bahasa Indonesia pun sama artinya. Ada juga yang mengatakan bahwa Saketi berasal dari Bahasa Sunda yang berarti 100 Ribu.

  1. Kecamatan Cisata

Nama Kecamatan ini diambil dari dua kata, yaitu Ci dan Sata. Secara Etimologis, dalam Bahasa Sunda Ci ringkesan tina kecap “Cai” (Terj. Ci merupakan ringkasan dari kata Cai yang berarti air). Sedangkan Sata merupakan serapan dari Bahasa Sangsakerta yang berarti saratus, atau Satha yang berarti ruangan untuk kumpulan semisal pendopo. Cisata juta dipakai untuk nama sungai yang berada di wilayah Kabupaten Pandeglang.

  1. Kecamatan Pagelaran

Pagelaran menurut kata dasarnya adalah Gelar tembong jeung bukti aya di bumi alam (terj. Nampak dan bukti keberadaannya di alam), selanjutnya memakai imbuhan Pa dan akhiran an. Pagelaran dalam bahasa Indonesia, Berpagelaran adalah suatu kegiatan dalam pertunjukan hasil karya seni atau hiburan kepada orang banyak pada tempat tertentu. Menurut salah satu versi, nama Pagelaran diambil dari hobi (kesukaan) masyarakat setempat dahulu dalam mengadakan pertunjukan seni, adat, hiburan, kegiatan peribadatan tertentu atau kegiatan lainnya dalam waktu yang lama dan rutin. Nama Pagelaran tersebut, dalam Bahasa Sunda juga dapat berarti merupakan sebutan bagi kegiatan berdagang, ngagelarkeun dagangan (terj. Menjajakan dagangan) yang merupakan salah satu rutinitas pokok masyarakat dahulu di daerah ini.

  1. Kecamatan Patia

Kata Patia merupakan serapan dari Bahasa Kawi yang berarti Patih. Konon dahulu kala ada seorang patih yang gagah dan sakti mandraguna sudah merasa bosan dengan persoalan keduniawian. Ia melepaskan jabatan kenegaraannya lalu melakukan tirakat di daerah ini untuk menyempurnakan spiritualitasnya.

  1. Kecamatan Sukaresmi

Sukaresmi terdiri dari 2 (dua) kata, yaitu Suka; bungah, resep, sudi (terj. Bahagia, Suka, Peduli). Sedangkan Resmi biasa diartikan berkesesuaian dengan aturan atau formal, normal.

  1. Kecamatan Labuan

Labuan merupakan daerah pesisir laut di selat sunda merupakan daerah yang strategis di daerah pesisir, nama Labuan dapat berarti Pelabuhan, atau tempat berlabuh kapal. Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa di Kecamatan Labuan dahulu terdapat sebuah Teluk, yakni Teluk Lada; berdekatan dengan Tanjung Lesung dan Panimbang yang menjadi pusat perdagangan antar pulau/kerajaan. Namun kegiatan perdagangan tersebut akhirnya berhenti setelah letusan besar Gunung Krakatau tahun 1883 dan setelah disapu Tsunami, daerah itu dinyatakan tertutup.

Bukti dari daerah itu strategis biasa dilihat dari situs sejarah sisa perang dunia ke dua yaitu adanya dua bangunan benteng pertahanan sisa perang zaman Jepang. Adanya dua tempat sejarah itu jelas merupakan bukti Jepang memilih daerah Labuan sebagai tempat yang pas untuk diduduki, sebab banyak daerah lain yang sama adanya di pinggir laut. Terdapat banyak sisa zaman dahulu di daerah Labuan, yaitu benteng jembatan dua, benteng loterdam dan kereta api.

  1. Kecamatan Carita

Konon, nama Carita berhubungan erat dengan pembangunan Mesjid Caringin yang didirikan pada tahun 1883 sewaktu Daendels membuat jalan Anyer-Panarukan. Beberapa muslim yang dipaksa menjadi pekerja rodi membelot dan lari ke selatan dipimpin oleh Abdurakhman yang merupakan keturunan Syarif Hidayatullah. Kemudian mereka bermukim di Caringin dan mendirikan masjid. Pada tahun 1883 desa Caringin ditinggalkan oleh penduduknya karena terjadi gempa bumi akibat gunung Krakatau meletus.

Keadaannya menjadi hancur dan gersang setelah 10 tahun ditinggalkan akhirnya mereka kembali ke Caringin tahun 1893. Sekembalinya mereka ke Caringin tak lama kemudian datang seorang ulama yang bernama Syekh Asnawi bersama dengan penduduk secara gotong royong membangun masjid. Masjid ini diberi nama masjid Caringin sampai sekarang. Syekh Asnawi adalah putra KH. Mas Abdurahman (penghulu Caringin) dan ibunya Ratu Syafiah (Keturunan Sultan Banten) yang lahir pada tahun 1852. Masjid menjadi pusat syiar Islam dan menjadi basis perjuangan rakyat Banten. Diperkirakan asal penamaan Carita tersebut dari kata cerita ; cerita dari perjalanan sejarah tersebut atau cacarita; yang berarti kegiatan berdakwah.

  1. Kecamatan Jiput

Menurut sebuah cerita yang berkembang di masyarakat, nama Jiput diambil dari bahasa Kirata (dikira-kira tapi nyata /substitusi). Dalam versi lain disebutkan juga bahwa jput adalah singkatan dari Aji Putih, Aji dari kata Ajian atau ilmu yang sifatnya memberikan kebaikan. Aji putih adalah salah satu dari jenis aliran yang berkembang di Banten. Kebalikan dari Aji Putih adalah Aji Hitam. Aji Putih berkembang secara turun menurun, dimiliki oleh orang-orang kesultanan dan para waliyullah sejak lama.

  1. Kecamatan Cikedal

Nama Kecamatan ini diambil dari dua kata, yaitu Cid an Kedal. Secara Etimologis, dalam Bahasa Sunda Ci ringkesan tina kecap “cai” (terj. Ci merupakan ringkasan dari kata Cai yang berarti air). Sedangkan Kedal kecap pagawean ngaluarkeun omongan at. Kahayang anu tadina dibuni-buni at. Dsimpen di jero hate (terj. Kata kerja mengeluarkan omongan atau keingin yang tadinya disembunyikan atau disimpan di dalam hati).

Di daerah Cikedal, terdapat danau (situ) yang menjadi salah satu objek wisata di Pandeglang yakni Situ Cikedal. Menurut cerita yang berkembang, asal nama Cikedal diambi dari nama situ tersebut. Konon danau tersebut sering dijadikan tempat bersitirahat (pasanggrahan) bagi para bangsawan saat sedang melakukan perjalanan dan sering ngedalkeun lisan (menyampaikan maksud) disana.

  1. Kecamatan Menes

Kata Menes berasal dari kata kamonesan, kata dasar mones, yang memiliki makna kepandaian, kecerdikan, keanehan, kemuliaan dan kemashuran. Biasanya kata Mones dirangkai dengan awal ‘Ka’, dan akhiran ‘an’ dan menjadi kamonesan. Hal tersebut di dasarkan dua alasan utama. Pertama Karakter orang Menes sangt anti terhadap penjajahan orang Eropa, sehingga sangat kuat kecenderungannya untuk menolak pemakaian unsur bahasa penjajah yang membawa nama identitas komunitasnya. Kedua, kuatnya pengaruh ajaran Islam terhadap tradisi dan norma hidup dalam masyarakat menes yang mengakar kuat dengan tradisi leluhur, terutama dalam era kesultanan sunda Islam Banten. Sehingga kata Menes diyakini sebagai istilah lokal yang terkait dengan mitos kejayaan leluhurnya yang aneh, ajaib, khas dan unik.

Menurut salah satu versi sebagian Tokoh, cerita asal muasal sebutan “menes” berasal dari kuda bernama Hypo Menes – Nama RajaMesir Kuno tersebut. Kabarnya, ketika Kabupaten Caringin akan pindah ke Pandeglang, dimana Menes jadi kabupaten transisi singgahan, salah seorang tokoh berkebangsaan Belanda dan para punggawanya beristirahat pada salah satu tempat yang sekarang berada di sekitar hutan daerah menes . Rombongan itu sengaja berhenti di tempat itu sembari meliarkan(melepaskan) kuda-kuda tunggangannya yang lapar. Salah satu kud kepunyaan tokoh tersebut disebut Hypo Menes. Menurut cerita kuda Hypo Menes itu sakit keras sampai pada akhir hidupnya di tempat tersebut. Sejak saat itu tempat tersebut kemudian disebut Menes.

Versi lain menyebutkan bahwa terdapat dua peristiwa masa lalu yang mempopulerkan wilayah tersebut menjadi Menes yaitu pada tahun 1525/1526 di wilayah tersebut bermukim seorang pedagang rempah-rempah berkebangsaan portugis yang bernama Don Jorge Menesess atau DeMenes. Kemudian yang kedua, kata “Menes” berarti pula tempat atau sebuah pasar untuk bertransaksi hasil perkebunan. Di tempat tersebut terdapat Gudang-gudang penampungan rempah-rempah sebelum di angkut ke pelabuhan ekspor. Tempat tersebut disebut Blok Menes.

  1. Kecamatan Pulosari

Kecamatan Pulosari berasal dari kata, yakni Pulo tanah anu dikurilingan ku laut atau daratan di tengah laut (terj. Tanah yang dikelilingi oleh laut atau daratan di tengah laut), sedangkan Sari atau Sri dalam kosmologi sunda seringkali diidentikan dengan keindahan atau dimensi feminitas.

Nama Pulosari merujuk pada salah satu gunung yang terkenal dalam sejarahkebudayaanBanten masa lalu. Penamaan Pulosari kemungkinan nama sebuah tanaman yang banyak tumbuh liar di daerah pegunungan, nama tanaman tersebut sering pula disebut Palasan dengan nama Latn Alyxia stellata termasuk dalam keluarga apocynaceae. Ia merupakan tanamanmerambat dengan kulit batang putihyang memiliki wangi tertentu dan rasanya pahit. Tanaman ini tumbuh liar d hutan dan dilading daerah pegunungan. Kulit batangnya mengandung zat-zat antara lain zat samak, kumarin, zat pahit dan alkaloida.

Informasi mengenai pentingnya Gunung Pulosari di masa lalu diceritakanpula bahwa Raja Padjajaran terakhir yang bernama Rangga Mulya atau Prabu Surya Kencana memerintah Padjajaran tidak berkedudukan di Pakuan melainkan di Pulosari, Pandeglang, sehingga disebut pucuk umun (Panembahan Pulosari). Pusat Kerajaan pulosari agak susah ditembus sehingga baru pada masa pemerintahan Maulana Yusuf dapat direbut oleh pasukan Islam.

  1. Kecamatan Mandalawangi

Mandalawangi merupakan gabungan dari dua kata, yakni Mandala yang berarti wilayah, ada juga yang mengartikan gunung, dan asala kata andala yang berarti permukiman atau kumpulan (lembur atawa riungan) sedangkan Wangi bisa diartikan seungit kembang, minyak nu asal tina kembang (terj. Wangi bunga atau minyak yang berasal dari bunga).

Nama Mandalawangi sebenarnya hanyalah sebuah nama permukiman setingkat dusun dengan nama Kampung Mandalawangi, termasuk dalam wilayah daerah administratif Desa Mandalawangi, Kecamatan Mandalawangi.

Kampung Mandalawangi yang menempati sebuah areal yang subur pada lembah sebelah barat sungai Cilemer, menurut tradisi masyarakat setempat memiliki legenda mengenai penamaan nama Mandalawangi. Menurut legenda Mandalawangi berasal dari dua nama tokoh yaitu Ki mandala dan nyi Wangi. Kedua Pemuda dan pemudi tersebut bertemu dan membentuk keluarga, selanjutnya membuka kampung. Oleh keturunannya dinamakan kampung Mandalawangi.

Nama Mandalawangi juga mengingatkan pada kata sansakerta mandala, sebuah konsep dalam mitologi Hindu dan Konsep kekuasaaan Jawa-Hindu sebagai pusat konsentrik yang terasosiasi kuat dengan pusat kekuasaan, sehingga nama mandalawangi juga dihubungkan dengan tempat kuno dengan fungsi kesucian tempat itu pada periode Banten Girang antara abad X sampai dengan Abad XVI (Fadillah, 2002).

  1. Kecamatan Cimanuk

Nama Kecamata, ini diambil dari dua kata, yaitu Ci dan Manuk. Secara etimologis dalam Bahasa Sunda Ci ringkesan tina kecap “cai” (terj. Ci merupakan ringkasan dari kata Cai yang berarti air). Manuk hewan pamatukan osok bisa hiber (terj. Hewan berparuh yang biasa terbang), dalam Bahasa Indonesia Manuk berarti Burung. Nama Cimanuk juga dipakai untuk sungai yang berada di wilayah Kabupaten Pandeglang.

  1. Kecamatan Cipeucang

Nama Kecamatan ini diambil dari dua kata, yaitu Cid dan Peucang. Secara Etimologis, dalam bahasa Sunda Ci ringkesan tina kecap “cai” Peucang sabangsa mencek ngan gedena meh sagede hayam jago gede, tonggongna rada bengkung kabeukina Jukut, kacang jll. (terj. Sebangsa rusa hanya besarnya hampir sebesar ayam jago gemuk, punggungnya agak cembung kesukaannya rumput, kacang dll) dalam Bahasa Indonesia atau Jawa Peucang berarti Kancil.

Namun konon, menurut cerita yang berkembang d sebagian masyarakat, di daerah ini sekarang cipeucang, hidup bermacam-macam hewan terutama peucang (kancil). Di daerah ini hidup bermacam-macam hewan yang meminum air dari sungai tersebut terutama kancil. Karena air dari sungai tersebut menjadi sumber kehidupan hewan, tumbuhan dan manusia disana. Daerah ini dinamakan Cipeucang. Asal kata dari Peucang (kancil) dan air (Sungai) yang mengalir ke daerah tersebut. Ci artina Air dan Peucang merupakan hewan yang dahulu hidup di daerah tersebut.

  1. Kecamatan Banjar

Banjar diambil dari kata Jajar (terj.baris) Kata Banjar adalah pokok kata dari istilah bahasa sunda yang berarti ngabanjar atau dalam bahasa Indonesia adalah berjajar/berbaris. Karena irigasinya yang bagus, dahulu daerah ini dikenal sebagai daerah perikanan dengan produksi ikan dan padinya yang berkualitas. Kata ini konon diambil dari gaya kegiatan bedagang masyarakat setempat dalam memasarkan dagangannya dengan berjajar (ngabanjar/dibanjarkeun)

  1. Kecamatan Kaduhejo

Nama Kecamatan ini diambil dari dua kata, yaitu Kadu nagaran buah sagede hulu jelema, bangunan aya nu buleud jeung aya nu lonyod , cangkangna ditapuk ku cucuk saperti cucuk nangka (terj. Nama buah sebesar kepala manusia, bentuknya ada yang bulat dan ada yang lonjong, kulitnya penuh duri seperti duri nangka), Kadu dalam Bahasa Indonesia adalah Durian atau juga ada yang menyebutnya Duren). Bentuknya berkisar dari lonjong sampai bulat, warna hijau kulitnya menjadi coklat, dan dagingnya kuning pucat sampai merah, tergatung pada spesies. Sedangkan Hejo dalam Bahasa Indonesia adalah hijau.

  1. Kecamatan Mekarjaya

Mekarjaya terdiri dari dua kata, yakni Mekar kakara ligar (terj.Baru Mekar tumbuh dan biasa dipakai untuk bunga) sedangka Jaya berarti mujur atau untung. Kecamatan Mekarjaya, Pandeglang adalah salah satu kecamatan yang baru dibentuk pada tahun 2005 tentang Kecamatan pembentukan Kecamatan Sukaresmi, Kecamatan Mekarjaya, dan Kecamatan Sindangresmi di Wilayah kabupaten Pandeglang. Nama Mekarjaya cukup akrab dikenal dan digunakan sebagai nama desa atau kecamatan di daerah lain. Jika merujuk pada penamaan desa dalam sudut pandang etimologis, penamaan Mekarjaya didasarkan pada pengertian pemekaran, yang berarti pengembangan dari satu daerah menajdi dua atau lebih.

Sumber: Bappeda kab. Pandeglang

 

You might also like
Comments
Loading...