Aspirasi Mahasiswa

Pukul Dirimu Dengan Tulisan Mu Sendiri

Teringat Perkataan seorang sahabat, seorang yang besar jiwanya dalam didikan Rasulullah, di zamannya ia menghidupkan Islam dalam kemenangan teritori, jiwanya dipenuhi rasa bersalah akan masa jahili, badannya berbungkus kain tambalan yang hampir sebanyak 40 puluh, lalu sahabatnya manasihati agar hidup layaknya pemimpin besar yang layak. Lalu apa perkataannya ?

“Jika kau berada di sore hari, janganlah kau menunggu pagi. Jika kau berada di pagi hari, janganlah kau menunggu sore.”

Pepesan kaya makna namun singkat aksara tersebut berasal dari Ibnu Umar, Umar bin Khattab, Umar Al-Faruq, Sang pegulat dari pasar, dan tampilan garang bagai preman. Namun ringkih jiwanya saat mengenang masa jahili, memakan sesembahan dan mengubur buah hati hatinya.

Kadangkala manusia asik dengan aktifitas sehari-hari, bahkan lalai memisah bahwa apa yang kita geluti tak lain adalah dosa yang dulunya dientengi kecil yang sudah menjati diri. Mungkin kita sering menginsyafi diri kita, memahami bahwa dalil memang iman itu naik kadang turun, sebagai hujjah satu-satunya. Hingga kita lupa bahwa cerita menyejarah dalam tafsir sejarah akan pasukan perang Islam dinasihati oleh Rasulullah agar menguatkan hati menghadapi musuh perang,Ya Muqollibal Qulub Tsabbit Ala Dinik.

Hingga saking asiknya kita dalam titik rendah keimanan, kita lupa agar meminta Tsabbit, meminta dikuatkan, meminta dimantapkan, untuk apa ? Agar dikuatkan dari Agama (Ala Dinik). Sebab Allah pun mafhum, ciptaannya ini sangatlah ringkih, lemah, dhoif, dan mudah terjerembab. Laiknya pasukan perang yang dikabarkan mengalami gundah hatinya memperhatikan barisan pasukan perang musuh Allah yang berbaju zirah lengkap, bersenjata dan inventarisasi perang hebat pula. Hingga hampir-hampir saja mereka lupa bahwa lewat pepesan Rasulullah, termuat kabar menguatkan hati mengandung secukupnya makna akan menjungkir titik iman terendah mereka agar kembali kepada iman yang tegar.

Adakah kita mengalami semisal perang ? Belum, rasanya. Sebab dimensi hidup kita tidak lebih dari aktifitas rutin yang berlehah-lehah, maka wajarlah letih sedikit membuat kita meriang, digertak sedikit membuat kita gentar, cerca dan makian membuat semangat kita pupus bak tisu terbakar seketika. Sebab tanpa disadari kita adalah orang yang akan menyesali apa yang akan terjadi, singkatnya kita adalah calon alumni penyesalan).

Dan kita hadir hari ini, entah sebagai akhir dari usia kita, atau menjadi permulaan hidup beberapa hari kemudian. Menjalani hidup biasa saja, saat disodorkan beberapa pertanyaan mengenai bias-bias perilaku dan kesalahan, kita hanya bisa berkata “Sudahlah, jangan bahas dosa terus. Mending kita pikirkan beramal.” padahal kita hanya berusaha mengusir pertanyaan seputar dosa yang meresah hati atau tak jarang pula kita berkata “Sst.. cukup, kita kan bisa bertaubat. Allah Maha penerima ampun.” Padahal kita hanya mau mencari aman dari tumpukan dosa yang sebenarnya sudah menggunung. Lihai nian lidah ini, jerit taubat hati sudah tertetup sangka tinggi, bercak kotor hati mengaburkan mata akan siksa dikemudian hari. Aku pun sama, seorang yang masih sering berlehah dan mengulang dosa besar yang sama, sama-sama ahli maksiatnya.

Hingga kita hadir di hari ini, memulai hari baru, melantunkan tobat untuk besok hari “Ya Allah, aku berjanji besok hari, aku janji. Berikan aku waktu sehari lagi.”, ibadah-ibadah kita terlewat begitu saja, salat semisal, kita pun berkata “Allah kasih saya sehari saja besok, plis, saya akan melengkapi salatku, yah ?” dan tidak jarang luka yang kita gores di hati saudara kita berlalu dengan penyesalan sesaat dan maaf sepihak “Allah maafin aku yah, kan hanya berkata sedemikian, pasti tak apalah bagi dia mah.” Maka tenggelamlah malam, tenggelam pula penyesalan kita, terbitlah siang, terbit pula dosa baru yang akan menjadi rutinitas kita hari itu juga. “Ah sudahlah masih ada hari besok, iya kan Allah ?” Semisal itu lah imbuh manis-manis brengsek kita.

Memang, saudaraku, begitulah kita, alumni penyesalan-penyesalan yang telah berlalu. Besar harap kita kiranya Allah menghapus ukir dosa kita di laman catatan pribadi amalan, tetiba besar pula gores dosa kita sesaat setelah rasa menyesal itu hadir. Semisal perkataan Ibnu Umar, kita pun termasuk orang-orang yang menunggu sore saat pagi, dan menunggu pagi saat sore. Tidak benar-benar mengetahui untuk apa kita di pagi, lalu untuk apa kita di sore. Hari besok akan menjadi momen kita bertaubat, hari ini maksiat, setelah bertobat tak ada salahnya bermaksiat sekali saja, itulah imbuh kita yang tidak pernah habis.

 

You might also like
Comments
Loading...