InspirasiSuara Mahasiswa

Dinamika Perang Ideologi Dalam Penentu Bangsa Indonesia

Dalam ketentuan dan syarat berdirinya suatu negara salah satunya harus ada konstitusi dan dan undang undang dasar guna menjaminnya ketertiban suatu bangsa dan memberikannya struktur yang teratur agar tidak meresahkan masyarakat yang ada.  Begitupun dengan Indonesia kala itu,  sebagai bangsa yang dicekram oleh imperealis selama beberapa abad lama nya,  setelah kemerdekaan yang diperjuangkan dengan gigih tidak serta merta selesai dari kegelisahan dan ketidak tertiban yang membelenggu (secara hukum maupun ketertiban lainnya).

Setelah ada peluang atas kemerdekaan itu,  segera sejumlah intelektual dan cendikiawan unjuk gigi guna menertibkan bangsa yang baru diperolehnya dari penjajah.  Maka sejak 29 mei 1945 para intelektual dan cendikiawan itu tidak menyia-nyakan waktu lagi untuk memebentuk dan melakukan beberapa rapat membentuk payung hukum untuk indonesia.  Mula-mula dibentuk suatu badan yang kita kenal saat ini dengan Badan penyelidik usaha-usaha kemerdekaan indonesia (BPUPKI). Sementara dalam buku lahirnya undang-undang dasar 1945 edisi revisi AB Kusuma menulisnya Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan (BPUPK) tanpa diberi tambahan kata Indonesia karena sebetulnya Badan ini dibentuk atas perintah angkatan darat jepang pada waktu itu.  Sementara kekuasaan jepang sendiri hanya meliputi pulau jawa dan madura saja, sementara disumatra sendiri badan ini baru dibentuk pada tanggal 25 juli 1945 (Kusuma,2010). Namun dalam pembicaraan kali ini saya tidak bermaksud untuk membicarakan hal itu, tetapi lebih pada mengungkap beberapa kejanggalan demi kepentingan ideologi salah satu golongan.

 

Yang perlu kita ingat dan kita garis bawahi adalah bahwa semua badan yang dibentuk itu atas perintah dan kendali jepang.  Karena kita tahu dalam salah satu pertemuan soekarno dengan jepang dalam pembicaraan sidang, jepang berjanji akan memberikan kemerdekaan bagi bangsa indonesia sesuai prosedur yang ditentukan oleh Dai nippon jepang itu sendiri. Maka dari itulah ketika ir.  Soekarno didesak oleh para pemuda (yang dikondisikn oleh sutan Syahrir) untuk memproklamirkan kemerdekaan Dia menolaknya karena merasa tidak sesuai dengan presedur jepang, sementara Sutan Syahrir sendiri khawatir jika suatu saat akan di cap oleh sekutu bahwa kemerdekaan indonesia atas diberi bukan diperjuangkan jika hendak menunggu persetujuan militer jepang.

 

jika kita cermati sebenarnya tampak jelas perbedaan latar belakang serta ideologi para perancang,  penyusun dan pembuat undang-undang dasar untuk Indonesia. Dalam hal ini Bambang setyo suprianto dalam bukunya “Dinamika Perumusan Dasar Falsafah Negara Republik Indonesia Dan Implementasinya” membagi dua kelompok ideologi para perumus dan perancang itu,  yaitu Nasionalis sekuler (menghendaki netral antara negara dan agama,  dan Nasionalis islamis (menghendaki sistem khilafah). Dalam perjalanannya dari awal hingga akhir polemik selalu mewarnai sidang tersebut.  Bagaimana kala itu membuat “Pernyataan indonesia merdeka” dengan “pembukaan Undang-undang” (yang aslinya Muqoddimah) mula mula telah disepakati secara bulat diatas semua itu (Pernyataan indonesia merdeka dan Pembukaan Undang-undang) tertuliskan Bismillahirrohmanirrohim pada akhirnya dihilangkan dengan berbagai alasan oleh kaum Nasionalis sekuler (soekarno-Hatta dan kawan-kawan lainnya).

Yang semula dalam Pembukaan undang-undang dasar sekarang dalam perancangannya dipisah yaitu pernyataan indonesia merdeka dari alenia satu sampai tiga, dan pembukaan untuk alenia ke empatnya disatukan, padahal mulanya telah disepakati bersama.

Juga dalam pembentukan pancasila yyangpertama maupun dalam pembukaan itu untuk kata yang sekarang “Ketuhanan yang maha esa” dalam perjalanan pembentukannya menimbulkan polemik dan perbincangan yang cukup panjang.  Sama halnya dengan permasalahan yang diatas, setelah disepakati dengan bulat hal ini juga dilanggar kembali dengan dalih egoisme agama seperti yang soekarno katakan, maka hendaklah beragama secara kebudayaan ungkapnya. Perubahan kata tersebut terjadi akibat tidak sepakatnya utusan dari timor leste jika kata-kata “ketuhanan dengan menjalankan syariat islam bagi para pemeluknya” tidak diganti.  Dan lebih baik mendirkan negara sendiri diluar indonesia. Padahal tidak seperti itu adanya. Dalam buku Bambang Setyo suprianto dengan judul yang sama dituliskan pada sore hari tanggal 17 agustus 1945 Bung hatta di datangi oleh tiga utusan yang mengaku dari timor leste,  dan menyampaikan keberatannya tentang kata-kata yang termaktub dalam pancasila yang pertama tersebut.  Dan dia mengancam akan keluar dari indonesia jika kata kata tersebut tidak segera dirubahnya. Ketiga orang tersebut (Piet mahamit,  moeljo dan imam slamet) atas perintah Latuharhary (mantan anggota badan penyelidik dari partai kristen). Ternyata sebenarnya ketiga orang itu adalah mahasiswa prapatan 10 yang dipengarui oleh Latuharhary tersebut.  Karena selama sidang berlangsugpun dia tidak setuju atas kata kata itu. Maka bung hatta berinisiatif merubahnya tanpa sepengetahuan tokoh-tokoh islam walaupun mulanya hal ini sudah disepakati. Padahal sejak awal awal sidang Bung Karno sendiri selalu bilang bahwa sidang yang berlangsung harus secara kekeluargaan.  Tetapi nyatanya tidak.

 

Dari awal sidang 29 mei 1945 penyelidikan, persiapan kemerdekaan dan pembentukan panitia sembilang setelah susah payah dan memeras pikiran akhirnya menghasilkan piagam jakarta,  konstitusi,  batang undang-undang dasar dan pancasila.  Namun,  pada saat tanggal 17 agustus 1945 soekarno dalam pidatonya tidak membacakan piagam jakarta yang sudah susah payah dibuat yang memakan waktu dan polemik yang cukup panjang itu.  Malahan dia membacakan proklamasi yang ditulis pada malam harinya di rumah laksamana maeda setelah mulanya didesak oleh para pemuda. Dengan penulisan proklamasi itu apakah kiranya tidak rentan adanya indikasi politisasi terhadap teks proklamasi?

 

Maka dari itu H. H kahar muzakkir dari golongan ideologi nasionalis islami tidak pernah mengakui semua keputusan soekarno karena yang diputuskannya itu tidak sesuai dengan apa yang mulanya disepakati bersama yaitu piagam jakarta.

Dokumen asli

Berbagai cara dilakukan oleh nasionalis sekuler demi kemenangan ideologinya walaupun Untuk falsafah bangsa yang penting dan harus netral dalam pembuatannya.  Penghapusan bismillah di atas pembukaan undang-undqng dasar,  mengganti kata-kata penting yang berbunyi “ketuhanan dengan menjalankan syariat islam bagi para pemeluk-pemeluknya,  mengganti kata kata muqoddimah menjadi pembukaan dan sejumlah penghianatan dan pembohongan padahal semua itu mulanya telah disepakati dengan seksama.  Maka hilanglah semua asas islam dan tauhid yang saya pikir fundamental sekali bagi umat islam.  Bertuhan secara kebudayaan dan jangan egoisme agama seperti yang bung karno bilang memberikan tanda bahwa islam bukan kepercayaan yang sepenuhnya benar dan universal.  Maka islam tidak bisa dimaknai urusan masing-masing karena itu terlalu sempit untuk kita dengar.

loading...

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close