Intermezzo

Snow on The Sahara, Gurun Terpanas di Dunia Kembali Diselimuti Salju. Ketiga Kalinya dalam 40 Tahun

Berbeda dari penggalan lirik dari lagu populer penyanyi kebanggaan Indonesia, Anggun C. Sasmi yang menggambarkan salju di Sahara sebagai sesuatu yang mustahil, hal itu menjadi kenyataan pada tahun 2018 ini : salju benar-benar turun di Gurun Sahara. Salju turun di kota Ain Sefra, Aljazair, pada Minggu (7/1). Kota yang dijuluki sebagai “Gerbang Menuju Sahara” tersebut bahkan sampai diselimuti salju setebal 40 cm. Turunnya salju di salah satu wilayah terpanas dan terkering di dunia ini, pastilah mengundang berbagai tanda tanya. Dari orang yang penasaran akan penjelasan ilmiahnya, sampai mereka yang percaya kalau mungkin ini tanda kiamat.

Sebagaimana dilaporkan CNN, fenomena ini sebenarnya telah terjadi sebanyak 3 kali dalam 40 tahun terakhir. Meskipun memang tergolong sangat jarang, tapi bukannya tidak pernah terjadi. Lalu kira-kira apa ya yang menyebabkan gurun pasir seluas 9,2 juta km persegi dengan suhu tertinggi mencapai 47°C, tiba-tiba bisa bersalju? Buat yang penasaran, yuk simak info selengkapnya bareng Hipwee News & Feature!

Gurun pasir yang melintang sepanjang wilayah Afrika Utara ini, sudah tiga kali diselimuti salju dalam 40 tahun terakhir yaitu tahun 1979, 2016, dan 2017

Salju cukup tebal tahun ini yaitu berkisar kurang lebih 40 cm. (Foto oleh Karim Bouchetata/Geoff Robinson) via economictimes.indiatimes.com

Ini bukan kali pertama Gurun Sahara diselimuti salju. Selama hampir 4 dekade terakhir wilayah yang dikenal dengan suhu panasnya yang ekstrem itu sudah tiga kali diselimuti salju. Pertama pada tahun 1979, 2016, dan 2017. Pada tahun sebelumnya bahkan salju di kawasan kota Ain Sefra menyebabkan transportasi bus tersendat. Kamu bisa bayangkan bagaimana penampakan sebuah padang pasir yang terguyur salju? Mirip karamel nggak sih?

Penyebabnya ternyata adalah badai musim dingin ‘aneh’ yang sedang melanda banyak tempat di dunia, ternyata juga menghantam kawasan Gurun Sahara

 

Cuaca ekstrem sedang menimpa banyak negara, termasuk kawasan Sahara via economictimes.indiatimes.com

Salju yang turun dan menyelimuti gurun Sahara bertepatan dengan cuaca ekstrem yang melanda berbagai wilayah di dunia. Badai musim dingin menghempas wilayah pantai timur Amerika Serikat tak hanya itu, kota Sydney, Australia juga sedang mengalami suhu terpanas, tersebut dari Tirto. Tekanan tinggi akibat cuaca ekstrem di Eropa menyebabkan udara dingin ini masuk ke bagian Afrika Utara tepatnya di wilayah gurun Sahara. Udara dingin akhirnya menerpa pegunungan Atlas dan masuk ke wilayah kota Ain Sefra sehingga menyebabkan salju berguguran di wilayah tersebut.

Gurun Sahara adalah salah satu bukti keajaiban alam, namun para peneliti pun masih memperdebatkan asal usulnya. Bahkan katanya dulu gurun pasir panas terluas di dunia ini danau lho!

 

Bukti fosil ikan semakin menguatkan … . via nationalgeographic.co.id

Dinukil dari National Geographic, gurun Sahara awalnya terbentuk dari danau air tawar besar dengan luas 360 ribu kilometer persegi di belahan Afrika Tengah. Penelitian tentang asal-usul gurun Sahara ini disampaikan oleh ilmuwan dari Royal Holloway, Birkbeck and Kings College. University of London juga menerbitkan jurnal berjudul Proceedings of the National Academy of Science yang berisi tentang asal-usul gurun Sahara sebagai danau Mega Chad. Danau tersebut lama kelamaan menyusut dan hanya tersisa 355 kilometer persegi luasnya. Debu dan kandungan yang terdapat di dalamnya diyakini terbawa hingga ke wilayah Amazon, itu mengapa wilayah Amazon jadi begitu subur.

 

Namun ada juga teori yang menyatakan kalau gurun seluas ini terbentuk karena perubahan perilaku manusia. Wah kok bisa ya?!

Akankah gurun Sahara hijau kembali setelah diguyur salju dua tahun belakangan? (Foto oleh Geoff Robinson Photography-Mirror) via internasional.kompas.com

Setelah banyak teori menyebutkan soal asal-usul gurun Sahara, dari mulai danau sampai dampak perubahan sumbu rotasi Bumi, muncul teori baru yang dikemukakan oleh David Wright (Seoul National University) dan Jessica Tierney (University of Arizona). Dilansir dari Kompas, dua arkeolog tersebut mengungkapkan bahwa dulu Sahara adalah padang rumput yang subur. Manusia penghuninya bercocok tanam dan ketika sudah tidak subur lagi wilayah ini ditinggalkan sehingga lanskap Sahara yang hijau berubah menjadi gersang. Pantulan panas dari matahari pun memengaruhi atmosfer dan terciptalah cuaca kering. Meski masih perlu bukti arkeologi lain untuk menguatkan teori mereka selain fosil binatang dan sungai purba, fenomena yang diungkapkan oleh Wright dan Tierney ini diperkirakannya terjadi 8.000 tahun yang lalu.

Salju yang turun di Gurun Sahara membuat banyak netizen menduga-duga banyak hal, dari soal tanda-tanda kiamat, dan ada juga yang menganggapnya biasa, namun sebagian besar fenomena ini membuat mereka takjub. Gurun Sahara yang diselimuti salju pada Minggu pagi hanya bertahan sampai sore hari karena suhu naik. Namun ya siapa tahu kalau cuaca di masa depan makin ekstrem, salju akan bertahan lebih lama atau bahkan sampai membuat wilayah ini hijau kembali…

Copyright: hipwee.com

loading...

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close