Aspirasi Mahasiswa

Aku Ingin Merdeka; Karena Negaraku Sudah Merdeka 72 Tahun

Oleh Nukman Paluti – Kini momentum yang ditunggu-tunggu dan kita tunggu layaknya ‘aku yang menunggumu dikesunyian malam syahdu’, Tapi ini bukan tentang kamu yang aku tunggu, karena bagiku menunggumu sudah menjadi khalayak aku sebagai lelaki yang sedang dimabuk cintamu ahay

Momentum apa yang kumaksud?

Dalam sepenggal tulisan ini, momentum yang kumaksudkan ialah momentum kemerdekaan. Momentum Bagaimana kita sebagai bangsa Indonesia tentu berbondong-bondong merayakan; ada yang panjat pinang, ada yang lomba memasukan paku ke botol, ada yang merayakannya digunung, laut, dan seterusnya.

Momentum kemerdekaan sebetulnya juga mengingat sejarah perlawanan Bangsa Indonesia yang sebelum merdeka menjadi Negara jajahan hampir beberapa abad yang lalu. Dimulai oleh Bangsa Eropa yang berhasil menemukan dunia timur dalam pelayarannya dan mendarat pada tahun 1511 dan berkuasa ditanah Malaka. Selanjutnya Belanda sampai 350 tahun dan disusul Jepang dengan tindakan fasisnya menindas rakyat Indonesia.

Dari perjalanan perlawanan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan tak lepas oleh peran para pejuang yang berprofesi militer, sipil, buruh, petani, dan semua kalangan Bangsa ini. Sudah banyak mungkin yang gugur dalam peperangan dan yang luka sampai lumpuh ataupun seterusnya. Tetapi ini bukan hanya mereka turut andil dalam perang yang menewaskan ribuan rakyat. Mereka para pemikirpun turut andil dalam memikirkan konsep revolusi dan pembebasan Bangsa melalui jalur politik.

Tak sedikit diantara mereka menjadi tahanan politik kolonial. Kita tentu tahu Tan Malaka, RA Kartini, Ir. Soekarno-Moch. Hatta, KH. Hasyim Asyari, dan seterusnya yang mana aku tak bisa menyebutkan satu-persatu dari mereka yang berkontribusi besar atas kebebasan yang sekarang kita nikmati.

Bung Karno pernah berkata “Merdeka 100%” kalau tak salah dan kalaupun bener juga tak apa-apa. Perkataan ini yang aku artikan Merdeka se-Merdekanya, tak ada lagi intervensi asing dalam mengintervensi ekonomi dan politik. Jadi, Berdikari secara ekonomi dan berdaulat secara politik.

Dan hari ini kita ketemu kembali dengan hari kemerdekaan, tepat tanggal 17 Agustus 1945 Bung Karno memproklamirkan bahwa Indonesia sejak itu merdeka dari cengkraman kekuasaan kolonial dan kini ketemu kembali dengan tanggal 17 Agustus 2017 yang menunjukan Indonesia sudah 72 tahun loh merdeka. Kali ini suasana berbeda, kita merayakan secara ceremonial kemerdekaan yang belum beres ini. Loh kenapa belum beres, kitakan sudah merdeka 72 tahun lamanya sampai sekarang? ya coba lu liat konsep ekonomi kerakyatan ala Soekarno pupus tak terpakai oleh kepentingan global yang kapitalistik dan dunia perpolitikan Indonesia masih belum lepas dari intervensi asing yang berkepentingan dan artinya tidak berdikari secara ekonomi dan tidak berdaulat secara politik.

Belakangan ini kita disuguhkan dengan polemik politik perpecahan atau dengan istilahnya “Devide et Impera” dan aku yakin ini ulah mereka si Barat dan si Timur dan hal itu pernah dilakukan Belanda dulu. Dan lagi-lagi intervensi asing haha.

Era milenial adalah era dimana kapitalisme unggul menjadi pemenang paham ekonomi yang liberalis, untuk bagaimana nanti menjadi Negara adidaya dan kaya. Sehingga diera ini pintu masuk sosialisme tertutup rapat oleh siasat kapitalisme. Dengan demikian bagiku Indonesia belum merdeka 100% sumpah deh, coba lu lihat freeport itu emas loh, gas minyak dan masih banyak lainnya. Kekayaan alam kita dieksploitasi habis oleh kepentingan korporasi yang menguntungkan borjuasi dengan bertumpu pada ekonomi dan politik. Cape sebenarnya aku nulis cuman bagaimana ‘Aku ingin merdeka; karena negaraku sudah merdeka 72 tahun’.

You might also like
Comments
Loading...