Aspirasi Mahasiswa

Devi, SD Sadah dan Eksploitasi Anak

Oleh Nhuye – Dua hari sebelumnya karena setumpuk tugas ‘take home’ yang harus saya selesaikan memaksa saya untuk berjarak dengan media sosial yang saya gandrungi meskipun tugas tersebut tidak benar-benar saya selesaikan, maklum sayapun kids zaman now kata akun palsu kak seto mulyadi juga. Namun sesekali, saya membuka situs berita terkhusus berita lokal untuk mengikuti dan mengetahui perkembangan terbaru di Banten.

Tepatnya tanggal 4 Desember 2017 di situs berita lokal Bantennews.comsaya melihat berita tentang siswi SD yang di introgasi Bupati Serang, Tatu Chasanah karena video suratnya untuk Gubernur Banten.

Devi Marsya murid SD Sadah kecamatan Ciruas, Serang Banten, adalah anak yang viral karena videonya yang ditujukan kepada Gubernur Banten terkait kondisi sekolah yang kumuh, bau, tak layak pakai dan bekas kandang kerbau atau menurut info yang didapatkan ibu Tatu Chasanah sekolah tersebut adalah bekas tempat kerbau disiang hari.

Pemanggilan Devi oleh Bupati Serang dilakukan di Pondopo Bupati Serang bersama sejumlah pemangku kepentingan pendidikan seperti Kepala Bappeda Kabupaten Serang Anang Mulyana, Kepala Dindikbud Asep Nugraha, perwakilan sekolah dan warga Sadah. Di sana Devi ditemani satu siswi lainnya dan mendapat banyak pertanyaan dari Bu Tatu, seperti, siapa yang menulis surat? Dibuat oleh siapa? Sekolahnya Bekas kandang kerbau atau bukan? Dan yang lainnya.

Setelah pemanggilan dan dicecer dengan banyak pertanyaan, Devi mengalami shock dengan kondisi psikologis yang terguncang seperti disampaikan oleh Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak Jasra Putra. Itu dikarenakan selain dicecer pertanyaan Devi juga ditempatkan dalam kerumunan orang dewasa yang baru dia kenal. Devi takut untuk keluar dan bertemu orang dewasa yang baru ketika di rumahnya.

Dikutip dari laman Bantennews.com, berikut adalah peryataan Bupati Serang, Tatu Chasanah. “Maksudnya masyarakat bagaimana saya sih. Kita sudah tanya dinas ternyata tidak ada sekolah bekas kandang kerbau. Sampai anak disuruh bicara di media. Ini hal yang tidak bagus. Ini eksploitasi anak.”

Peryataan bu Tatu Chasanah “eksploitasi anak” kurang begitu saya mengerti. Pasalnya menurut KBBI, eks·ploi·ta·si /éksploitasi/ n 1 pengusahaan; pendayagunaan: – nikel di daerah itu dilakukan oleh perusahaan asing; 2 pemanfaatan untuk keuntungan sendiri; pengisapan; pemerasan (tenaga orang): – atas diri orang lain merupakan tindakan yg tidak terpuji. Dengan kata lain, eksploitasi anak adalah tindakan sewenang-wenang dengan cara memanfaatan anak dibawah umur untuk keuntungan pribadi .

Dalam peryataannya di atas, artinya Bupati Serang dengan gamblang mengatakan bahwa ada pihak yang menggunakan jasa Devi untuk meraup keuntungan pribadi. Jika dilihat dari satu sisi memang sepertinya ada pihak yang menyeuruh dik Devi menulis surat dan memvideokannya karena sangat kecil kemungkinan hal tersebut adalah inisiatif dari dik Devi sendiri. Tapi disebut sebagai eksploitasi anak kurang tepat juga, karena melihat pengertian eksploitasi sendiri lebih menjurus pada meraup keuntungan pribadi sedangkan apa yang dilakukan dik Devi atau sebutlah si pengekspolitasi anak adalah langkah yang tepat untuk menunjukkan kondisi sekolahnya karena sejak awal tak ada pihak pemerintahan yang membenahi, baik pihak desa, kecamatan, bupati dan gubernur karena jika sebelumnya ada langkah dari pihak pemerintah, kondisi sekolah pasti lebih baik.

Artinya pemerintah sendiri acuh, bertindak hanya saat berita sudah sampai kebanyak media dan menjadi perbincangan. Karena malu dan untuk menutupi kekurangannya pemerintah dengan seenak jidat mengatakan itu adalah eksploitasi anak. Menurut saya, apakah ini masuk keranah eksploitasi anak atau bukan yang jelas langkah tersebut tepat, lihatlah hingga saat ini baik pihak desa, kecamatan bupati bahkan gubernur datang berbondong-bondong melihat kondisi sekolah dan berjanji akan membenahi.

Ini bukan persoalan bekas kandang kerbau atau bekas istirahat kerbau disiang hari, ini persoalan layak tidaknya sekolah tersebut dijadikan proses belajar mengajar serta pemenuhan fasilitas di dalamnya, Dibenahi atau tidaknya sekolah tersebut oleh pemerintah dan hanya pihak pemangku kebijakan dan Tuhan yang tau. Wallahualam Bishawab.


Photo : ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman

Comments
Loading...