Aspirasi Mahasiswa

DIBANTEN LAMA, BUKAN OLEH-OLEH BANTEN

Oleh : Anton Sutompul – Banten memiliki ragam wisata. Tak terkecuali wisata penziarahan Banten Lama yang menjadikannya sebagai tempat ritual keagamaan maupun rekreasi keluarga. Turis lokal  dan interlokal sering bekunjung ke tempat yang menjadi ikon Provinsi Banten ini. Selain Menara Banten, di sekitar komplek penziarahan terdapat bangunan reruntuhan keraton Surosowan, Komplek pemakaman kesultanan, Museum Kepurbakalaan, dan bangunan bersejarah lainnya. Hampir disetiap ruas komplek wisata penziarahan Banten Lama, bisa kita temukan lapak-lapak jajanan yang menyediakan oleh-oleh.

Biasanya, lokasi wisata penziarahan  selalu ramai pada malam jumat, minggu dan hari-hari libur nasional. Apalagi bertepatan libur agama islam, tempat ini selalu padat pengunjung. Melihat banyaknya pengunjung yang berwisata di Banten Lama, tentu saja mereka akan menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh khas Banten. Serasa belum berkunjung bila tidak mencicipi oleh-oleh khas daerah tersebut. Ini menjadi daya tarik tersendiri dalam menjajakan oleh-oleh di Banten Lama.

Tak dipungkiri, seluruh kios-kios di Banten Lama memajang oleh-oleh serupa. Pasalnya, dibalik banyaknya penjual yang bejejer di sepanjang komplek tanah kesultanan Banten terdapat pemasok yang bertugas menyediakan stok oleh-oleh. Pemasok membeli barang dari luar Banten, kemudian pemasok menyerahkan makanan tersebut untuk dijual kembali kepada Pelapak. Sistem yang digunakan memberikan sebagian uang dari pelapak kepada pemasok. Apabila barang habis terjual, separuhnya akan dibayar lunas.

Perlu ditanyakan kembali keaslian oleh-oleh di Banten Lama itu. Oleh-oleh yang dibeli pemasok dengan skala besar kebanyakan diambil dari berbagai daerah di Sumatra dan Jawa. Di Banten Lama terdapat oleh-oleh berupa dodol, kemplang, peyek kacang dan masih banyak lagi. Kudapan tersebut ternyata bukan berasal dari Banten, mereka memesan dari berbagai daerah. Dodol yang sering dijumpai bila berziarah ke Banten Lama bukanlah asli dari Banten, melainkan bermuara di Garut. Dodol berbentuk melonjong dengan balutan warna cerah, selama puluhan tahun warga kite mengira merupakan khas Banten asli. Kemplang yang sudah jelas sekali bukanlah oleh-oleh asli Banten, ternyata dipesan dari Lampung. Sementara, peyek kacang membelinya dari Jogjakarta. Hampir semua oleh-oleh jauh dari unsur ke-Banten-an. Siapa sangka buah sawo dinyana sebagai tanaman endemik Banten, nyatanya pengakuan pelapak menjelaskan bahwa sawo yang mereka beli itu dari Lampung.

Padahal wisata Banten Lama semakin sering dikunjungi oleh wisatawan luar daerah. Mereka tentunya berlibur ke Banten akan mencari oleh-oleh asli buatan orang Banten serta tumbuh berkembang di bumi Jawara, bukan oleh-oleh yang dipesan dari luar daerah, lantas membelinya. Turis luar daerah pun akan merasa kebingungan mencari oleh-oleh khas asli Banten, lantaran terlalu banyaknya oleh-oleh yang tidak mencirikan khas Banten.

Ini menjadi catatan penting dalam mengelola tempat wisata, khsusnya perlu ada upaya pelestarian oleh-oleh asli Banten supaya tidak tereleminir oleh masuknya beragam jenis kudapan luar daerah Banten. Perlu ada upaya kerjasama antara pemerintah, khususunya Dinas Pariwisata Provinsi Banten dengan para pemasok dan pelapak di lokasi penziarahan Banten Lama agar makanan khas Banten bisa terjaga dengan baik. Dari pedagang itulah oleh-oleh bisa lestari, apabila pedagang lebih memilih menjual oleh-oleh di luar daerahnya, bukan hal tabu oleh-oleh Banten akan hilang dan semakin susah dikenal.

indokampus.com
Penulis. Foto Exlusif

Menurut hemat penulis, ada baiknya upaya pelestarian makanan khas Banten ditingkatkan. Mengenalkan pada anak muda dengan mengikuti pelatihan atau ketrampilan membuat oleh-oleh Banten sangat perlu diaplikasikan. Selain itu, perlu juga adanya pembaharuan menciptakan oleh-oleh Banten yang lebih inovatif. Sebisa mungkin yang belum pernah ada di luar daerah, sehingga menambah khazanah makanan atau oleh-oleh Banten itu sendiri. Semakin bertambahnya makanan khas Banten yang unik dan bebeda, maka secara tidak langsung bisa meningkatkan jumlah kunjungan pariwisata di Banten, terkhusus di tempat wisata penziarahan kesultanan Banten Lama.

[miptheme_alert type=”info” close=”true”]Penulis – Anton Sutompul, Mahasiswa Universitas Terbuka, aktif menulis di beberapa media cetak lokal. Salah satu angkatan Kelas menulis Rumah Dunia 21. CP : 089695228799 [/miptheme_alert]

You might also like
Comments
Loading...