Aspirasi Mahasiswa

GURU PNS VS GURU HONORER

Semua orang pernah punya guru meskipun mungkin penyebutannya bukan guru. Semua orang kenal yang namanya guru. Bahkan guru pun mempunyai guru, ini berarti pentingnya sang guru untuk kehidupan. Semua orang butuh guru, bayi yang baru lahir butuh guru, yaitu orang tuanya, anak-anak, remaja, orang dewasa dan orang tua masih butuh guru. Pejabat pemerintah, orang penting sekalipun butuh guru. Sebuah desa yang prilaku masyarakatnya baik, tradisinya mencerminkan jati diri desa tersebut tidak lepas dari peran seorang guru. Bahkan negara pun butuh guru. Lalu sebenarnya kita faham atau tidak dengan istilah guru? Tapi dalam pemahaman saya, bahwa guru adalah seseorang atau lebih yang mengajarkan suatu hal yang bersifat postif untuk kita lakukan, ya, begitulah kira-kira, semua orang punya penafsiran sendiri.
Di Indonesia ada beberapa macam istilah guru, namun yang ingin saya bahas adalah antar guru PNS dan guru honorer. Guru PNS (pegawai negeri sipil*is) adalah guru yang kehidupannya dijamin oleh negara, tempat tinggal, pakaian dan kendaraan semuanya dijamin oleh negara melalui bayaran yang diterimanya tiap bulan. Guru PNS yang seragamnya rapih, bersih dan terlihat mahal dan kendaraan yang begitu mewah memberikan kesan “terhormat” yang padahal belum tentu mereka benar-benar terhormat. Bagaimana mereka para PNS terhormat jika masih mau dibayar dengan uang rakyat? Jika memang income yang didapatkan oleh seorang PNS bukan dari APBD/APBN, lalu darimana? Presiden? Atau gubernur? Presiden dan seluruh pejabat pemerintah sama-sama makan dari uang recehan rakyat kok.

Sebenarnya tidak masalah para guru PNS dibayar dari uang rakyat atau tidak, asalkan kerjanya sesuai dengan bayaran. Tapi inikan mereka kerja seoalah asal, waktu jam kerja malah keluyuran kepasar-pasar, mall dan tempat-tempat pusat perbelanjaan, dan lebih parah lagi pake mobil kantor, kan ngaco, ini gila namanya, makan gajih buta.

Saya percaya bahwa mereka berangkat kerja tidak telat, tapikan kerja mereka telat dan terkesan hanya sebatas formalitas belaka. Saya juga percaya bahwa tidak semua PNS seperti yang saya gambarkan, tapi hamper seluruhnya. Saya juga percaya mereka tidak terlibat KKN,tapi cara mereka daftar jadi PNS juga kan udah berani KKN. Lah gimana to?. Anda mau jadi PNS kemudian diharuskan membayar sejumlah uang sebagai jaminan atau apalah saya kurang paham,nah inikan udah berani suap-suapan, ini udah gak bener,dan kerjanyapun pasti enggak bakalan bener.
Jadi guru memang tugas yang mulia, lebih mulia dari logam mulia, tapi kalo jadi guru trus ada embel-embel PNSnya ya sayang sekali kemuliaan itu hilang seiring dengan gajih 4jt/bulan yang diterima dari APBD.
Pemerintah juga tidak begitu peka dengan persoalan pemilihan guru PNS ini, ada yang sudah berpuluh-puluh tahun mengabdikan diri jadi seorang guru tapi tidak diangkat – angkat jadi PNS, tapi ada yang baru satu bulan jadi guru dan langsung jadi PNS, ya saya si percaya, kalo masalah yang satu ini urusanya sama soal suap-menyuap. Luarbiasa. Guru honorer mana bisa nyuap buat jadi guru PNS, gajih aja 3 bulan sekali keluar, 400.000 lagi. Kan kasian men, udah gajih 300.000/2bulan malah abis ditipuin sama yang punya sekolahan.

Sekarang coba perhatikan para guru honorer. Kenapa guru yang satu ini disebut guru honorer? Ya sesuai dengan kata honor yang dalam bahasa inggris kalo di indonesiakan artinya hormat, terhormat, guru yang terhormat. Dari arti saja sebenarnya sudah jelas, mana guru yang terhormat dan mana guru yang tidak terhormat, tapi sayangnya dari masalah hormat menghormati ini juga ada perbedaan, mana guru yang terhomat tapi kurang dihormati, dan mana guru yang tidak terhormat tetapi sangat dihormati. Guru honorer memang terkesan tidak dihormati, baik dilingkungan sekolah itu sendiri atau diluar sekolah, malah bahkan sering jadi bahan cibiran guru-guru PNS yang ada dalam satu sekolahan itu, mulai dari sentilan-sentilan iseng dengan maksud unjuk gigi ke-PNSanya hingga berani memaki, jadi jelas sekarang mana guru yang patut dihormati dan mana guru yang tidak perlu begitu dihormati.

Guru honorer kerjanya hampir sama bahkan tidak jauh beda dengan guru PNS, tapi bayaranya begitu juaauh, ibarat langit dan bumi, ya, meungkin ada benernya istilah “kerjaan gak penting, yang penting jabatan”. Guru honorer mengajar perjam dibayar ya bisa dibilang seoalah melecekan, terus waktu penerimaan gajih berapa bulan mereka harus menunggu? Alesanya apa selain bilang “dana boss belum turun” dll.
Sebutanya honorer (guru kehormatan), tapi bayarannya samasekali tidak menghormati kerja kerasnya. Gimana anak didik bangsa mau maju dan berkembang, kalo bayaran guru yang serius kerja malah dikebiri kayak gini. Malah yang PNS yang diagung-agungkan, padahal kebanyak dari mereka tidak becus kerja, mungkin sebagian becus, tapi males. Ya tentu males karna kerja atau tidak yang penting absensi, masuk kelas, kemudian keluar lagi, bayaran tetep jalan. Gimana gak nyantai kerja meraka?
Lalu harusnya gimana? Apa perlu guru honorer dibayar sama seperti guru PNS? Ya enggak juga, tapi baiknya beri kepastian pada mereka yang masih honor tersebut terkait pengangkatan PNSnya, bukan berarti semua guru honorer diangkat menjadi PNS, tapi setidaknya pemerintah bisa menetapkan waktu kapan para honorer ini mengakhiri masa honornya? Ya semisal begini, setiap calon guru jika sudah menjadi guru maka harus mengabdi (menjadi guru honorer) selama 4 tahun, atau berapa kek, biar para honorer ini enggak bingung ditengah jalan. Atau kalo tidak bisa begitu, pemerintah harus berani memangkas gajih PNS untuk honorer, ya meskipun pangkasanya itu sekitar 2 persenan. Kalo enggak bisa juga, sekalian enggak usah ada guru honorer, angkat semua guru jadi PNS, potong gajih PNS 50% yang sekarang.

Jadi, berapa puluh juta saya harus bayar untuk jadi PNS? Nah, mungkin itu pertanyaan yang oleh temen-temen saya katakan, saya mana tau, dan saya enggak mau tau juga. Saya tidak membatasi masadepan saya jadi PNS trus jadi pejabat Eselon trus jadi mentri kamudian mati,ya jelas malaikat seneng nginterogasi saya dikuburan “berapa ratus juta kamu makan uang rakyat?” saya mau jawab opo to?. Saya bahkan sering bilang kesemua kawan kelas saya, bahwa pekerjaan yang hina setelah koruptor ya jadi PNS, lah malah mereka protes semua hingga brani nyumpahin saya jadi PNS. -_-

Comments
Loading...