KolomMahasiswa & KampusSuara Mahasiswa

INDONESIA DAN POTRET PENDIDIKANNYA

Oleh : Steven idrus Maulana
Jika kita Berbicara tentang perkembangan negara Indonesia, pasti tidak bisa lepas menyangkut pendidikan Indonesia di mata dunia. Pendidikan merupakan salah satu faktor penting kewibawaan sebuah negara didapatkan. Dengan pendidikan yang baik pastinya akan melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan kompeten dalam bidangnya. Sehingga kondisi bangsa akan terus mengalami perbaikan dengan adanya para penerus generasi bangsa yang mumpuni dalam berbagai lini.
Sayangnya pendidikan Indonesia kualitasnya saat ini masih jauh dari negara-negara lainnya. Menurut data dari UNESCO pendidikan di Indonesia menempati peringkat ke-10 dari 14 negara berkembang. Sedangkan komponen penting dalam pendidikan yaitu para guru menempati urutan ke-14 dari 14 negara berkembang di dunia. Fakta ini tentunya menyakitkan bagi dunia pendidikan Indonesia. Indonesia sebagai negara yang mendidik guru dari negara-negara tetangga seperti Malaysia, kini kualitasnya malah berada di bawahnya. Tidak heran jika ada yang mengatakan bahwa Macan Asia kini telah kehilangan taringnya.

Permasalah Pendidikan Indonesia

Masalah yang terjadi di dunia pendidikan Indonesia bisa dibagi menjadi dua masalah besar. masalah pertama meliputi proses belajar mengajar dan output-nya serta masalah pendukung dari berlajannya sistem pendidikan Indonesia.
Masalah proses belajar mengajar diawali dari sistem top-down yang saat ini masih dipraktekkan oleh guru. Guru menganggap bahwa murid itu diibaratkan sebuah kertas putih bersih dan belum ada coretan. Siswa dianggap tidak memiliki pengetahuan sehingga guru dengan kuasanya membentuk murid seperti dengan keinginannya. Secara gampang kondisi ini bisa diibaratkan guru sebagai teko dan murid sebagai gelas yang akan diisi air dari teko.
Kondisi ini membuat murid tidak leluasa mengeksplor kemampuan yang dia miliki. Murid hanya mengikuti yang guru inginkan sehingga output yang dihasilkan adalah murid yang tidak memiliki jati diri dan hanya bisa menjadi seorang yang disuruh tanpa bisa menjadi seorang pemimpin yang berkompeten.
Pelajaran yang diajarkan di sekolah memang banyak. Tentunya tidak semua murid memiliki kemampuan yang sama dalam menyerap pelajaran yang disampaikan. Jika guru memaksakan murid memahami seluruh mata pelajaran dan memiliki nilai di atas rata-rata, sama halnya guru ingin memiliki tanaman pisang tapi memiliki buah lebih dari satu macam. Dengan kata lain dalam satu batang pohon pisang, tumbuh buah pisang, buah kelapa, buah durian, buah rambutan dan buah-buah lainnya. Tentunya ini mustahil terjadi karena pohon pisang hanya akan mengeluarkan buah pisang juga.
Sistem top-down yang masih diterapkan di dunia pendidikan Indonesia ini akhirnya menghasilkan manusia yang hanya dapat memenuhi kebutuhan zaman saja. Sedangkan untuk menciptakan generasi yang kritis terhadap zamannya masih jauh dari angan. Memang pemerintah sebagai pihak yang berwenang telah banyak melakukan langkah antisipasi salah satunya dengan mengubah kurikulum yang ada. Kurikulum saat ini sudah menekankan proses pembejalaran yang tidak berfokus terhadap guru saja. Murid juga dilibatkan dalam proses pembejalaran sehingga murid dapat mengemukakan pendapatnya. Akan tetapi kondisi ini berbeda dengan yang terjadi di lapangan. Kondisi riilnya, guru masih menjadi pusat belajar sehingga kurikulum itu belum diterapkan dengan baik yang tentunya belum memberikan perubahan yang berarti dari dunia pendidikan di Indonesia.
Masalah kedua yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah adalah sarana pendukung berjalannya sistem pendidikan di Indonesia. Sarana dan prasarana di seluruh sekolah di Indonesia saat ini masih jauh dari kata layak. Jika pemerintah hanya melihat di kota besar seperti Jakarta, fakta ini tidak akan pernah terungkap. Cobalah melihat kondisi sekolah di pelosok negeri khususnya di wilayah timur Indonesia. Kondisi sarana dan prasarana sekolah masih jauh dari kata baik. Dengan kondisi seperti ini, pemerintah akan sulit mengejar keseragaman kualitas pendidikan di seluruh penjuru wilayah negeri ini. Perbedaan bagai langit dan bumi dari sarana dan prasarana sekolah di kota dan di desa inilah yang menjadi kendala utama cita-cita mulia tersebut.Sehingga proses transfer ilmu tidak terjadi dengan sempurna
Kondisi riil di lapangan ini diperkuat dengan beberapa penelitian seperti yang dilakukan oleh Trends in Mathematics and Science Study (TIMSS), siswa Indonesia hanya mampu berada di rangking ke-37 dari 44 negara berkembang dengan kemmapuan sains yang baik. United Nations for Development Program (UNDP) juga menjabarkan hasil yang mencengangkan. Indonesia hanya berada di ururtan ke-111 dari 177 negara di dunia. Dengan data yang terungkap ini Indonesia ternyata sudah kalah jauh dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan juga Singapura.
Kesimpulan dari pandangan dunia untuk pendidikan Indonesia ini masih jauh dari kata layak. Di segala lini masih banyak masalah yang harus ditangani. Akibatnya kualitas pendidikan sulit sekali ditingkatkan. Pemerintah seakan lamban dalam menangani masalah tersebut dan hanya mengejar output yang baik dan sempurna tanpa melihat prosesnya. Sistem Ujian Nasional yang kini telah dihapuskan menjadi bukti dari kondisi ini. Akibatnya siswa yang dihasilkan hanya mementingkan hasil akhir tanpa melihat prosesnya. Meskipun mereka melakukan dengan cara yang tidak baik, asalkan hasilnya memuaskan akan membuat mereka bangga.

Problematika Mahasiswa

Sejauh kami perhatikan, ada faktor dan masalah lain yang menyebabkan pendidikan di kita tidak bisa berkembang, yakni, mahalnya biaya pendidikan, terbatasnya fasilitias yang dibutuhkan dan tak meratanya kesempatan bagi setiap orang untuk mengecap pendidikan.
Mahalnya biaya pendidikan.
Pendidikan kita menjadi sulit bagi mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kemiskinan, biar bagaimana pun turut menyebabkan ketimpangan hak masyarakata dalam mengecap pendidikan. Artinya, selain kemauan, faktor ekonomi juga merupakan alasan utama masyarakat miskin tidak mendapatkan kesempatan seperti yang dialami masyarakat yang tingkat ekonominya lebih baik.
Betul bahwa pemerintah sudah mencanangkan pendidikan gratis dan bahkan pendidikan wajib 12 tahun. Namun biaya-biaya lain yang harus di tanggung oleh orangtua tidaklah gratis,bahkan lebih besar dari SPP bulanan. Sebut saja ongkos perjalanan ke kampus,biaya buat print Makalah yg tiap hari diberikan dosen, biaya wisuda, biaya pembangungan, dan lain sebagainya.
Ringkasnya, orang tua tak sekedar memikirkan SPP anak-anak mereka, melainkan juga biaya lain yang sering kali malah lebih mahal di bandingkan biaya pendidikan itu sendiri. Kenyataan ini menggiring masyarakat lebih memilih untuk bekerja mencari nafkah dibanding harus melanjutkan pendidikannya. Sepertinya, 20% dari dana ABPN yang telah ditetapkan pemerintah harus dievaluasi lagi, bukan pertama-tama mengenai besarannya, tetapi penggunaannya dan pendistribusiannya yang lebih merata dan tepat sasaran.
Bisa jadi memang pendidikan mahal atau murah, bila dipandang dari aspek hukum ekonomi. Bila harga yang harus dibayar oleh orang tua ke sekolah sebanding dengan fasilitas yang didapatkan anak-anak mereka, maka mahal atau murahnya biaya sekolah menjadi sangat relatif. Agar pembahasan ini tidak melantur kemana-mana, baik kita telusuri eksistensi sistem pendidikan yang ada di negara kita berdasarkan UUD 1945.
jika kita berpacu pada UUD 1945 (setelah diamandemen) Pasal 31 ayat 1 : “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.” Gaung UU ini yg sering di teriakan oleh seluruh mahasiswa untuk mendapatkan hak dari dosen dan pemerintah,,,
Sedangkan menurut UUD 1945 pasal 31 ayat 2: “Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.” Pemerintah punya hak mewajibkan, tetapi serentak, bila ditinjau dari segi hukum positif, kewajiban itu semestinya punya konsekuensi hukum. Artinya, siapa pun yang tidak menyekolahkan anaknya dri tingkat dasar sampai perguruan Tinggi akan diganjar hukuman,, lalu apa hukuman bagi instansi kampus yg melarang Mahasiswa nya untuk mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS) hanya dengan alasan yg sangat sepele melunasi administrasi ??  PARA DOSEN SEHAT ??.. PEMERINTAH WARAS ?? dimana letak nuranimu ??letak toleransi untuk mahasiswa menggapai cita-cita nya, dimana letak posisi negara saat ini ? Apakah harus
Pendidikan di Indonesia dikecam sebagai Negara yg bersistem KAPITALISASI PENDIDIKAN,,, mari kita renungkan mari kita kaji ulang tentang UU pendidikan, jangan membunuh semangat para penerus bangsa untuk meneruskan perjuangan leluhurnya hanya dengan dibatasi biaya. STOP KOMERSIALIASI PENDIDIKAN. #Save Penerus Bangsa #SaveMahasiswa
#STOP_KAPITALISASI_PENDIDIKAN
#Ijinkan Mahasiswa Mengikuti UAS Tanpa syarat.
Penulis merupakan Mahasiswa STISNU Tangerang Yg merindukan Keadilan
loading...

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close