Aspirasi Mahasiswa

Kampanye Gak Janji, Gak Menang !

Oleh : Muhammad Jejen

Pertarungan dalam merebut kekuasaan memang menyimpan memori yang tak terlupakan, segudang janji di umbar untuk memenangkannya. Janji sebagai sarana untuk “menipu” rakyat agar dapat memenangkan pertarungan, terlintas jika di cermati seorang yang ingin naik kasta pasti akan menyiapkan berbagai tipudaya dan muslihat untuk menarik perhatian rakyat. Indonesia memang menganut sisten demokrasi yang dimana kekuasaan seseorang di tentukan oleh rakyat, dalam hal ini rakyat lah yang menjadi penentu.

Sebuah kekuasaan yang dibentuk oleh suara rakyat terbanyak. Masing-masing rakyat mempunyai hak suara yang sama, tidak mengenal kasta atau apapun sejenisnya membedakan dalam strata sosial. Ini tentu menjadi keuntungan bagi kebanyakan rakyat yang berkeinginan bahwa suaranya sekali waktu bisa di dengar meski mereka ‘dibutuhkan’ hanya pada saat pemilu legislatif, pilpres dan pilkada. Namun keinginan rakyat dipermainkan oleh kekuasaan, maka tidak salah lagi jika di ibaratkan “seorang penguasa tinggal di atas menara gading jika ambisinya telah tercapai”. Hal ini telah terjadi dan memakan korban rakyatnya sendiri, maka tidak heran kekuasaan dapat mengantarkan seseorang ke jalan yang di selimuti oleh kabut hitam,”tidak memperdulikan nasib rakyat” terkadang rakyat menjerit dan mati di pangkuan bumi pertiwi. Berputarnya roda kekuasaan mengantarkan babak baru dalam kehidupan masyarakat.

Untuk memperoleh kekuasaan, para calon penguasa berlomba dengan berbagai cara untuk menarik simpati suara agar pada pemilihan umum nanti mendukungnya. Pendekatan sosial, pendekatan senasib sepenanggungan, bertindak empati dan menampakan diri bahwa dirinyalah yang akan membawa rakyat menjadi sejahtera, adil makmur dalam kehidupan yang aman dan menyenangkan. Suatu rencana pun disusun untuk menyakinkan para pemilik suara.

Maka siapa pun mereka yang bisa mengumpulkan suara rakyat terbanyak, merekalah yang berkuasa, baik di pemilihan legislatif, pemilihan presiden dan pemilihan kepala daerah. Tak perlu orang yang pintar atau jenius untuk memenangkan sebuah pemilihan umum. Yang diperlukan adalah bagaimana Ia bisa membuat seseorang memilih dia. Seseorang yang mempunyai latar belakang kurang baik dalam adat istiadat atau norma-norma yang berlaku, asal ia mendapat suara terbanyak, ia akan menikmati sebuah kekuasaan. Katakanlah Kemenangan seorang calon di ukur dari janjinya, kalau gak mempunyai banyak janji sudah pasti kalah,”pertarungan adu janji”,

Tampaknya seiring banyak janji yang memakan banyak korban, rakyat agak bosan dengan ulah janji sang penguasa, tidak dapat di hindari rakyat yang mulai belajar dari kebusukan janji  mulai mempermainkan sang calon penguasa, maka sebelum pemilihan umum suara rakyat sering mencuat ” kau berani memberi apa pada kami akan kami pilih kamu”. Money politik menjadi ajang balas dendam, ketika Uang bicara rakyat tidak memperdulikan janji-janji sang calon penguasa, rayuan yang manis tak di dengarkan. Dengan dalih takut tertipu lagi,  mungkin tidak semua calon penguasa yang berhati busuk, ada yang niatanya baik dengan tujuan merubah dan kredibel tak sejelek yang di bayangkan, namun permainan  janji sang penguada telah bersemayam di dalam tubuh rayat, sehingga ketakutak selalu menghantuinya.

Negara menjadi pertaruhan dalam sebuah sistem yang disebut demokrasi. Siapa saja yang bisa membuat rakyat memilihnya dalam sebuah pemilu (legislatif, presiden dan kepala daerah). Tak perlu seorang ahli tata negara, ahli ekonomi, ahli hukum atau ahli-ahli lain untuk bisa menduduki kursi kekuasaan. Peraturan-peraturan yang membatasi seseorang untuk ikut menjadi caleg, capres, cakada, bisa saja nanti diperlonggar atau dipersempit tergantung pada kebutuhan dan keinginan mereka yang sedang berkuasa. Mereka atas nama wakil rakyat bisa saja melegalkan sesuatu yang sebelumnya dianggap melanggar hukum dengan cara mengganti peraturan atau undang-undang yang telah ada.

Demokrasi itu sebuah pertaruhan. Arah negeri ini tergantung pada mereka yang berkuasa dari hasil sebuah pertaruhan yang disebut demokrasi yang sedang di gadang-gadang untuk menyejahterakan rakyat, maka dari itu nasib rakyat tergantung pada pemimpinya. Namun di lihat secara kasat mata kebanyakan rakyat semakin memburuk dan jauh dari kata sejahtera, kemiskinan semakin merajalela di pelosok/penjuru yang tidak di sorot oleh televisi atau media mendambakan kapan ada pertolongan dari penguasa, di tambah lagi lapangan pekerjaan yang sulit maka semakin buramnya kesejahteraan.  Maka tidak heran ketika ada calon penguasa yang menjanjikan berbagai perubahan rakyat langsung terpikat untuk memilihnya, akan tetapi ketika kemenangan penguasa telah tercapai janji itu hanyalah sebuah permainan dan janji selalu memakan korban. Inilah tragedi yang miris dari sebuah janji penguasa, lantas kapan budaya janji itu akan hilang,”mungkin tidak akan hilang”.  yang di butuhkan rakyat bukan hanya sekedar janji melainkan kerja nyata dari sebuah program yang di usung oleh penguasa,

You might also like
Comments
Loading...