Aspirasi Mahasiswa

Kemerdekaan Bukanlah Hak Preogratif, Bukan Pula Hak Individu, Melainkan Hak Segala Bangsa

Abdullah Al Wasy – Dialog kebangsaan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir pada 16 Agustus kemarin tidak lain pertama hanyalah sebagai bentuk mengingatkan kita pada sejarah. Karena walau bagaimanapun panglimator besar kita ir.soekarno berpesan dalam sebuah kalimat “jangan sekali kali melupakan sejarah” atau kita kenal dg sebuatn (JASMERAH)

Maka ini merupakan pesan dan amanah yg mesti kita implementasikan, kita terapkan, kita amalkan karena konteks ibadah tidak hanya melaksanakan solat, dzakat, puasa dll. Melainkan konteks ibadah sangatlah luas. Salah satu diantaranya memperingati dan mengingatkan pada sejarah itu merupakan ibadah yg memiliki nilai cukup.

Bung Karno pernah mengatakan bahwasanya ‘Bangsa yang besar adalah bangsa yg menghargai jasa para pahlawannya’ ini merupakan kalimat yg perlu di internalisasi dan hendaknya di implementasikan pd kehidupan nyata. Sehingga ekspetasi besar kita termasuk kepada bangsa yg demikian. Amiin.

Lagi-lagi berbicara persoalan yg tengah bergejolak sampai hari ini salah satu diantaranya yaitu persoalan Agama dan Negara. Karena degan boomingnya persoalan-persoalan ini melahirkan barisan-barisan kanan yg memang salah satu diantaranya berobsesi untuk menghilangkan ideologi Negara.

Oleh karena itu menurut saya hari ini kita sudah tidak lagi menjadi tim hore yang hanya menonton dan memberikan apresiasi, melainkan hari ini harus turun dan bisa menangani persoalan-persoalan demikian. Karena walau bagaimanapun Mahasiswa/i merupakan ini merupakan bagian daripada Agent Of Change. Dimana mahasiswa/i adalah sebagai agen – agen perubahan. Lalu perubahan yg mana? Tentu saja perubahan yang menuju kearah kebaikan dan kemajuan.

Juga persoalan yang bergejolak sampai hari ini merupakan kombinasi antara persoalan agama dan negara. Maka dari itu kita sebagai kalangan intelektual harus bisa menyelesaikan dan bisa menengahi itu semua.

Persoalan Agama amatlah penting dan persoalan negara wajib bagi kita selaku anak bangsa. Oleh karena itu berbicara persoalan agama dan negara ini tentunya harus seimbang karena dg ketidak seimbangan itu akan menimbulkan konflik dan perpecahan antara berbagai kalangan.

Seorang ilmuwan Eropa mengatakan bahwa ” Ilmu pengetahuan tanpa agama itu pincang dan Agama tanpa ilmu pengetahuan Buta” ini merupakan kalimat yg memang perlu di internalisasikan serta di implementasikan pada konteks berbangsa dan bernegara.

Oleh karena itu secara eksplisit dari saya mari kita moderat kan Islam kita. Karena salah satu ulama diantaranya K.H Mustofa Bisri beliau mengatakan bahwa “Islam itu moderat kalau tidak moderat tidak Islam” ini merupakan ungkapan yg luar biasa biasa. Mengerti dan paham arti kenegaraan dan Agama mestinya berperan di arah mana.

Oleh karena itu orientasi pada peyelggaraan kegiatan dialog kebangsaan ini semoga besar harapan kami melahirkan jiwa-jiwa yg agamis dan Nasionalis. Karena dua entitas ini ataupun bisa dikatakan dua kubu,dua bidang harus bisa mengaktualisasikan secara bersama dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Karena persoalan agama urusan individual. Tetapi persoalan negara ini menjadi tanggung jawab kita bersama.

(Abdullah Al-wasy – Ketua HMJ IAT Uin SMH Banten)

You might also like
Comments
Loading...