Kolom

Kisah Pendiri TBM BINA GENERASI Menginspirasi Pemuda Zaman Now

Oleh : Muhamad Jejen-Taman Baca Masyarakat adalah suatu gerakan yang memberikan kemudahan terhadap akses pendidikan yang kiranya dapat dinikmati oleh semua kalangan, di sisi lain menyadarkan pula masyarakat dalam pentingnya dunia pendidikan yang harus di terapkan sejak dini.

Taman Baca Masyarakat salah satu pendidikan informal yang dapat memberikan inovasi baru yang dikemas dalam suatu kegiatan untuk meningkatkan kualitas pengetahuan,  melalui buku bacaan dan lain sebagainya. Pertumbuhan anak harus di barengi dengan  kegiatan yang bersifat positif. Tentu hal ini lahir di lingkungan Taman Baca Masyarakat ( TBM).

Seiring dengan perkembangan jaman, di barengi dengan pertumbuhan ekonomi yang tidak merata menimbulkan disintegrasi antara yang kaya dan miskin, sehingga yang bisa menyentuh pendidikan formal adalah orang-orang yang mempunyai modal besar, akan tetapi tidak halnya dengan yang miskin tentu buat makan sehari-haripun susah. “apalagi buat menyekolahkan anaknya”

Dari kasus ini terkadang anak yang masih dini menginginkan pendidikan layaknya seperti orang lain, maka dari itu di dirikanya Taman Baca Masyarakat (TBM)  untuk memecahkan persoalan yang terjadi di lingkungan masyarakat.

Taman Baca Masyarakat tidak memandang latar belakang ekonomi, semua orang bisa menikamati sajian-sajian yang telah di suguhkan oleh pelopor Taman Baca Tersebut.

Minat baca masyarakat harus di tingkatkan untuk meminimalisir terjadinya suatu gejala yang dapat membahayakan dirinya sendiri, terlebih penyakit buta aksara yang selalu ada di setiap perkampungan, sebuah penetrasi yang seharusnya bisa menuntaskan dan meningkatkan pendidikan seperti “TBM”  harus di suportisasi oleh seluruh elmen, terutama pemerintah melalui kebijakan-kebijakannya.

Seorang mahasiswi Banten “yang masih muda” berasal dari Kp, EXODAN. Kec, Cinangka. Terlahir dari keluarga biasa justru dapat  mendirikan  sebuah Taman Baca Masyarakat yang berlokasi di Kampung EXODEN,  orang lain sering menyebutnya Budak jero (BJ), pun dapat meningkatkan minat baca  masyarakat yang dulunya katakanlah “Sembraut” tergerus oleh lingkungan, keadaan seperti ini membuat pelopor TBM BINA GENERASI tersebut yang bernamai Nur hasanah merenung hingga menghambiskan waktu yang lumayan lama.

Sehingga ketika ada suatu cela,  Nur hasanah dapat mendirikan TBM dengan bekal buku yang tak seberapa dan dengan memanfaatkan lahan yang kosong di kampung tempat ia tinggal, berdirilah “TBM BINA GENERASI”  seorang wanita muda yang masih kuliah bisa membagi waktunya, padahal perguruan tinggi yang sedang ia jalani lokasinya jauh dari tempat ia tinggal,

Perjalanan Nur hasanah atau yang sering dipanggil “Nhuye” untuk mendirika TBM BINA GENERASI tidak semudah yang kita bayangkan, Nhuye  harus bergelut dengan matahari membawa kardus di tengah jalan sambil meminta sumbangan dari pengendara yang berlalu lintas, terkadang nyawa jadi taruhan, bayangkan saja di tengah jalan berlalu lintas kendaraan besar, bisa saja seketika menyerempet dan membahayakan nyawanya tersebut.

Hal ini Nhuye jalani lantaran ketidak mampuan untuk membeli buku dan belum ada respon dari pihak-pihak yang katanya bisa menyumbangkan “buku”, sehingga dengan keinginannya yang kuat ia mampu mendirikan “TBM”

Mahasiswi yang biasa di sapa Nhuye kepada saya  menceritakan ketika  merintis untuk mendirikan TBM tersebut,  beliau kesulitan untuk mendapatkan buku sehingga beliau harus menunggu waktu yang lama, di samping itu beliau sering membawa buku bekas dari manapun yang ia temui  asalkan masih bisa di baca.

Ketika beliau mendirikan Taman Baca Masyarakat Bina Generasi ( TBM BIGEN ) awal mulanya sedikit yang minat, akan tetapi berjalannya waktu antusiasi anak dan kegiatan-kegiatan yang di berikan oleh Nhuye mengundang responisasi dari masyarakat, sehingga beliau pun senang bisa berkontibusi terhadap masyarakat.

“TBM BINA GENERASI” bukan hanya sekedar kegiatan membaca, melainkan ada bermaca-macam kegiatan yang dapat menumbuhkan pola pikir anak, seperti hal-nya melukis, cerdas cermat, dan lain sebagainya.

Dilihat dari perjuangan Nhuye, beliau sangat menginspirasi anak-anak muda untuk berkarya dan berkontribusi terhadap bangsa dan negara, pasalnya beliau terlahir dari keluarga yang biasa saja, akan tetapi beliau bisa mewujudkan berdirinya sebuah “TBM BINA GENERASI”

Di Banten Taman Baca Masyarakat semakin bertambah, akan tetapi sangat di perlukan TBM yang semakin banyak lagi, terjalinnya sebuah kerjasama disertai  intensnya sosialisasi untuk meningkatkan minat baca masyarakat merupakan hal fundamental untuk kemajun pendidikan baik formal maupun informal.

Terlebih orang yang terlahir dari keluarga kaya, seharusnya dapat berbuat lebih daripada yang miskin, karena jika melihat ekonomi dan pendidikannya tentu merekalah yang seharusnya hadir di tengah masyarakat.

Semoga kisah ini dapat membuat kita sadar tentang pentingnya menularkan pendidikan kepada sesama !!!!!!!!!!!!!!

( Penulis merupakan Mahasiswa UIN SMH Banten/Kader Front Aksi Mahasiswa dan PERMAHI  )

 

 

 

 

 

 

 

 

loading...

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close