Aspirasi Mahasiswa

Mahasiswa dan Degradasi Pemahaman Tri Dharma Perguruan Tinggi

Oleh Afaf Fatiha  – Mahasiswa sebagai kaum intelektual dalam masyarakat tentu mempunyai kewajiban untuk meningkatkan mutu dan kualitas diri secara khusus agar ia mampu untuk turut serta meningkatkan mutu dan kualitas kehidupan masyarakat yang berbangsa dan bernegara. umumnya, hal ini dapat dilakukan dengan ilmu yang ia peroleh selama berada dibangku perkuliahan sesuai dengan bidang keilmuan tertentu. Mahasiswa dan pendidikan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan sehingga ketika mahasiswa melakukan segala kegiatan dalam hidupnya, semua harus didasari dengan pertimbangan rasional, itulah yang disebut kedewasaan mahasiswa.

Ilmu yang dikuasai melalui proses pendidikan di perguruan tinggi harus diimplementasikan dan diterapkan, salah satunya dengan langkah ilmiah, seperti melalui penelitian. Penelitian mahasiswa bukan hanya akan mengembangkan diri mahasiswa itu sendiri, namun juga memberikan manfaat bagi kemajuan peradaban masyarakat dan kepentingan bangsa. Selain pengembangan diri secara ilmiah dan akademis, mahasiswa pun harus senantiasa mengembangkan kemampuan dirinya dalam hal softskill dan kedewasaan diri dalam menyelesaikan segala masalah. Mahasiswa harus mengembangkan pola pikir yang kritis terhadap segala fenomena yang ada dan mampu mengkajinya secara keilmuan.

Peran mahasiswa dalam aktualisasi Tri Dharma Perguruan Tinggi sangat di perlukan, karena mahasiswa diharapkan untuk menjadi mahasiswa yang lebih termotivasi dan sadar bahwa betapa pentingnya peranan kita sebagai mahasiswa untuk mencapai tujuan pendidikan nasional bangsa Indonesia yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 yaitu “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Sayangnya, sedikit mahasiswa yang mengerti tentang apa sesungguhnya tanggungjawab mereka sebagai mahasiswa. Bahkan beberapa mahasiswa yang saya temui, mengaku tidak mengetahui apa itu makna Tri Dharma Perguruan Tinggi. Mayoritas dari mereka hanya menginginkan ijazah saat lulus nanti, tidak peduli pada lingkungan sosial apalagi kebijakan pemerintah saat ini. Akhirnya, tidak sedikit mahasiswa saat ini yang bingung kemana seharusnya mereka melangkah setelah mereka lulus.

Peran mahasiswa tentu saja bukan karna nilai dan kuliahnya , melainkan juga karna kepekaan dan kepedulian mereka terhadap lingkungan dan kehidupan sosial. Selain itu, mahasiswa juga harus memiliki sikap yang rasional dan dapat dipertanggungjawabkan. Sejauh yang saya amati, mahasiswa sekarang sangat berbeda dengan mahasiswa dulu, mahasiswa sekarang cenderung apatis dan kurang peduli terhadap lingkungan social dan nilai-nilai Tridarma Perguruan Tinggi, sedangkan mahasiswa dahulu, baik angkatan 1902 hingga 1998, mereka lebih peka dan lebih peduli terhadap kehidupan social dimasyakat.

Cerita sukses tentang peran mahasiswa, tentu bukan karena pergerakannya saja, melainkan juga karena pengetahuannya tentang Tridharma Perguruan Tinggi. Kini cerita sukses tersebut tinggal cerita, sebab pengetahuan akan Tridharma Perguruan Tinggi mulai megalami penurunan (degradasi), sikap mereka juga cenderung apatis.

Tri Dharma Perguruan Tinggi sebagai salah satu pondasi dan dasar tanggung jawab yang dipanggul mahasiswa (sebagai bagian dari perguruan tinggi) harus dikembangkan secara simultan dan bersama-sama. Dengan kondisi Indonesia saat ini yang mulai memprihatinkan, sebagai mahasiswa perlu mengetahui dan menyadari salah satu pedoman untuk melaksanakan tanggung jawabnya dalam rangka menjawab tantangan negara dan bangsa Indonesia di masa depan. Sebab kata orang – orang bijak, bahwa pemuda hari ini adalah penerus dan pelaksana tugas masadepan bangsa.

Afaf Fatiha Mahasiswi Pendidikan Sosiologi Untirta

Mahasiswa Indonesia hari ini mengalami penurunan semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi, pengabdian mereka hanya sebatas formalitas semata untuk mendapatkan nilai dan memelihara ijazah untuk kemudian digadaikan. Entah itu KKN, atau mungkin KUKERTA atau mungkin Praktek Kerja Lapangan yang merupakan program wajib bagi perguruan tinggi rupanya hanya sebatas dijadikan alat untuk mengumpulkan nilai – nilai. Akhirnya, karna mahasiswa terlalu fokus pada pencarian dan penggalian nilai dalam angka, mereka malah melupakan nilai – nilai norma agama, budaya dan aturan perundang – undangan. Tidak sedikit mahasiswa yang kuliahnya hanya sebatas menghabiskan uang jajan dari orang tua, berkumpul dalam komunitas-komunitas hedon, sombong dan membanggakan diri dengan apa yang dikenakannya, mulai dari pakaian, gadget hingga kendaraan, padahal semuanya itu mereka dapatkan dari orang tua. Entahlah, merka masih punya malu atau tidak, yang pasti, bentuk pamer apapun itu adalah proses mempermalukan diri sendiri.

Kuncinya adalah kepekaan social, bahwa sesungguhnya Tri Dharma Perguruan Tinggi diciptakan untuk melatih kepekaan mahasiswa terhadap masyarakat, untuk mengembangkan respon sosial mahasiswa terhadap isu dan masalah – masalah yang berlangsung di lingkungan masyarakat, untuk menjadikan mereka sebagai agen social control dan agen perubahan yang sesungguhnya, dan tentu saja perubahan – perubahan[irp] yang membawa kearah yang lebih baik.

Penulis : Afaf Fatiha – Mahasiswi Pendidikan Sosiologi Untirta |  Editor : Syamsul Maarif | Publisher : Kang Fae
You might also like
Comments
Loading...