Aspirasi Mahasiswa

Perut Lapar, Kemerosotan Nasionalisme Mengundang Sejumlah Konflik

Oleh : Arif Assenge

Indonesia sebagai negara yang melimpah akan sumber daya alam, budaya yang berwarna warni, ras yang begitu bermacam-macam dan agama yang berbeda-beda menjadikan negara ini dikagumi dan banyak dikunjungi oleh negara-negara lain. Namun naas, atas semua kekayaan yang melimpah, warna warni budaya, suku, ras, dan agama yang banyak tersebut membuat negara ini tidak seharmonis dan sedemokratis seperti sedia kala.

Issu-issu sara yang akhir-akhir ini terjadi dan sejumlah eksploitasi-eksploitasi kekayaan alam yang semakin hari semakin sering terdengar membuat negri ini terguncang dan kestabilan politik semakin tidak menentu. Belum lagi issu-issu sejumlah Ormas konservatif yang menolak Pancasila dan beberapa wilayah yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik ini menjadikan indonesia krisis akan nasionalisme.

Tatkala carut-marut dan ketidakstabilan politik sampai pada puncaknya, sudah saat nya indonesia bangkit dari keterpurukan krisis nasionalisme dan rentannya disintegrasi sosial.

Agar mutu Nasionalisme nya meningkat dan disintegrasi sosial bisa diselesaikan secara instan, pemerintah dalam hal ini harus cekatan memberi kesejahteraan untuk rakyat, terutama kebutuhan-kebutuhan yang mendasar, seperti bahan pangan, kebutuhan pakaian dan lain sebagainya. Karena sederhananya, nasionalisme perlu makan, Nasionalisme perlu dihidupi dan Nasionalisme perlu disejahterakan. Bukti dari menipisnya rasa Nasionalisme dalam diri setiap individu-individu indonesia yang tidak disejahterakan adalah munculnya berbagai Organisasi-Organisasi kemasyarakatan yang pada akhirnya mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia itu sendiri,  Organisasi Papua Merdeka (OPM)misalnya. Karena merasa dikecewakan oleh pemerintah atas janji-janji yang sebelumnya pernah diumbar dan tidak meratanya pembangunan serta tidak sejajarnya bahan-bahan pangan yang memang menjadi pokok bagi setiap insan yang bernyawa menjadi bukti tersendiri bahwa organisasi tersebut lahir sebagai bentuk kemarahan masyarakat Papua atas tidak meratanya kesejahteraan yang diberikan oleh pemerintah.

Sebagai wilayah yang kaya akan sumber mineralnya dan penyuplai bahan uranium dan emas terbesar di dunia sudah selayaknya Wilayah tersebut menjadi contoh wilayah yang sejahtera bagi wilayah-wilayah lainnya. Namun faktanya, setelah 30 tahun lebih semenjak kekayaan itu dikeruk masyarakat setempat meringik terus menerus terhadap pemerintah karena kekayaan yang melimpah yang ada diwilayah tersebut tidak bisa menghantarkannya ketampuk kesejahteraan. Untuk menjaga disintegrasi tersebut, langkah pemerintah cukup bijak dengan digenjotnya pembangunan transportasi dan lain sebagainya agar kesejajaran bahan pangan yang melonjak diwilayah tersebut bisa disamaratakan. Langkah tersebut termasuk juga pelestarian keutuhan NKRI dan Kebhinekatunggal ika an Neraga republik indonesia ini.

Selain OPM, ada pula gerakan yang basisnya ingin merubah Ideologi bangsa lebih mundur dan konservatif yaitu Khilafah. Gerakan ini dimotori oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dengan propaganda Agama yang dibawa sebagai alat pemersatu umat yang sensitif. Dengan meninjau perekonomian dan kebijakan pemerintah serta konstalasi politik yang dinilai thogut, Organisasi/partai ini mulai mengajak kepada masyarakat indonesia merubah ideologi bangsa karena dinilai sudah tidak efektif dan relevan lagi. Kebijakan ekonomi yang lebih berkiblat pada kapitalis dan kesejahteraan yang dinilai hanya sepihak menjadi alat pemanas tersendiri untuk di umbar didepan orang awam dimimbar-mimbar bebas. “Hanya khilafah yang mampu menyelamatkan perekonomian bangsa”, Kata kelompok tersebut dalam selembaran yang berserakan dijalanan.

Melihat keseriusan sistem yang ingin mereka tanamkan sebagai juru penyelamat sistem yang saat ini berlaku, mengundang protes dari sejumlah pakar,  akan seperti bagaimana konsep yang akan mereka jalankan nantinya. Seperti yang disampaikan oleh mantan Mahkamah Konstitusi, Mahfud Md kala itu yang ditulis dalam media cetak, Konsep khilafah kendati tertera dalam Al-Qur’an,  namun itu sebatas ayat yang tidak terperinci adanya. Dan seperti bagaimana konsepnya dalam Kalamullah tersebut tidak tertera secara spesifik seperti konsep pancasila yang abstrak dan gamblang adanya. Maka diawal penyampaian Mahfud tentang ketidak relefanan konsep khilafah tersebut sempat menimbulkan kontra dari salah satu audiens. Namun audien sendiri tidak bisa memerinci konsep khilafah yang dimaksud ketika prof Mahfud Md memintanya memaparkan konsep tersebut.

Semua peristiwa yang terjadi, kendati sebagai pewarna jalannya dinamika sebuah bangsa, adanya disintegrasi yang ingin memecah-belah negara harus segera ditindak tegas agar sejarah kelam seperti masa lampau tidak terulang kembali. Maka, akar dari ketidakgoyahannya persatuan tersebut adalah Sistem Ekonomi yang memadai agar Nasionalisme dari setiap insan bisa terus hidup dan tumbuh makin kokoh. Karena jika kita sedikit mau belajar di masa lalu, tumbang nya Orde lama juga didominasi oleh sistem ekonomi yang keruh dan menyengsarakan rakyat (terlepas dibuat-buat oleh oknum atau tidak).

Dari sejumlah uraian masalah diatas. Nampaknya peristiwa-peristiwa tersebut tidak jauh berbeda dengan peristiwa masa lalu yang pernah terjadi di negri ini. Baik dari sejumlah pemberontakan yang dilakukan oleh DI/TI atau NII yang mengatas namakan agama, sama halnya dengan HTI yang ada seperti sekarang. Juga peristiwa 65 (saya sebut sebagai peristiwa), pemberontakan skala sepele yang kemudian dibesar-besarkan, juga diperkeruh oleh masalah ekonomi yang kala itu memburuk. Kemudian menimbulkan sejumlah demonstrasi di pusat-pusat kota sebagai bentuk kritik tajam mahasiswa atas kebijakan pemerintah yang dinilai tidak mensejahterakan rakyat lewat bahan pangannya (terlepas dibuat-buat atau tidak). Juga didominasi oleh politik yang kala itu memang tidak stabil akibat kecemburuan sosial yang terjadi di sejumlah pembesar militer. Ini juga perlu di antisispasi agar sejarah kelam tidak terulang kembali seperti dahulu.

Arif Assenge – Doc Pribadi

Namun, nampaknya agak sulit untuk kita sampai pada pemahaman situasi politik yang terjadi pada peristiwa 65 tersebut. Disamping banyak nya sejarah yang dibelokan, minat membaca dari anak anak generasi sekarang yang menurun, masih tingginya masyarakat indonesia terhadap doktrin yang miring, membuat setengah dari anak bangsa ini menjadi seperti kaum bumi datar yang menelan mentah-mentai apa yang ia peroleh dari orang lain. Juga kurangnya dukungan pemerintah terhadap gerakan-gerakan pelurusan sejarah yang selalu menilai gerakan kiri, pro marxisme dan sejumlah tuduhan-tuduhan lain yang menakutkan.

You might also like
Comments
Loading...