Kolom

PILKADA, NIKMATNYA MENELAN JANJI

Oleh : Muhamad Jejen-“ Pilkada dan dusta ibarat saudara kembar. Tiada pilkada tanpa dusta” ( J kristiadi)

Melihat lucunya negeri yang ini  kedudukan janji hanyalah jilatan semata, tentu membuat sebagian orang skeptis untuk memilih seorang pemimpin. Karena memang sudah banyak rakyat tertipu oleh janji-janji manis yang di umbar oleh seorang calon pemimpin.

Melihat realita yang terjadi, masyarakat di benturkan dengan dramatisasi yang di kemas oleh seorang yang mempunyai kepentingan, kemudia hal ini dijadikan  ajang untuk memikat rakyat. Dalam Negara demokrasi kedudukan janji sangatlah istimewa, bagaimana mungkin seorang calon pemimpin berdiri tanpa sebuah janji?

Janji politik tentu sudah tak terdengar aneh di telinga kita, terlebih ketika menjelang Pilkada. Denga segudang visi dan misi yang berbauran di pinggir jalan,  di sertai  wajahnya  yang menawan terpampang jelas di halaman rumah rakyat , kemungkinan tujuannya agar semua orang tau bahwasanya  merekalah yang akan memenuhi kebutuhan rakyatnya.

Melihat banyaknya kebutuhan rakyat banyak pula janji yang di umbar, janji tersebut di sulap menjadi suatu yang bernilai, melalui kata-kata yang dikemas bagaikan penyedap rasa untuk memoles manisnya mengumbar janji.

Suatu tolok ukur dalam meraih suara yang mungkin bisa dimenangkan oleh seorang calon pemimpin yaitu dengan memperbanyak janji, kita lihat  alibi-alibi dalam menangkal kegelisahan rakyat terucap ketika masa-masa kampanye.

Janji  politik itu bermacam-macam variannya, entah itu janji mensejahterakan rakyat, meningkatkan SDM, menggratiskan sekolah, janji  mempercepat pembangunan infrastuktur, dan lain sebagainya, kemudian seorang calon pemimpin tersebut berubah menjadi super hero yang cuma  terdapat di dunia khayalan.

Ketika kedudukan sudah diraih penyakit “amnesia” menghampiri pemimpin, sehingga kemungkinan besar akan lupa dengan janji-janji yang di umbarkan kepada rakyat.

Idealnya jika tidak ingin di cap “ penipu”janganlah terlalu banyak mengumbar janji, dalam dunia politik tentu kita mengenal “adagium”Tidak ada kawan dan lawan sejati yang ada hanyalah kepentingan abadi.

Seorang pemimpin seharusnya dapat merealisasikan janji-janjinya, jikala memang serius dan dapat mempertanggung jawabkan perebuatannya, janji sifatnya universal karena memang menyangkut seluruh rakyat, pun kita sadari janji tidak masuk dalam ranah hukum.

Akan tetapi janji dalam kedudukan islam merupakan suatu perbuatan yang menyangkut dosa jikala tidak di realisasikan, sebuah ilustrasi prototype seharusnya cerminan daripada seorang pemimpin untuk bisa di kagumi oleh rakyatnya.

Lain hal-nya dengan keadaan yang membuat seorang pemimpin harus pragmatis melalui partai politik dengan merebut kedudukan menjadi penguasa, dengan cara yang sudah melekat pada budaya dan praktis digunakannya yaitu obralan njanji

Ketika memasuki masa pilkada rayuan-rayuan maut terucap dari kata-kata seorang pemimpin, di sebarluaskan melalu kepanjangan tangan penguasa, dengan segudang kemampuan dapat mengelabuhi rakyat dan  rakyatpun dengan mudah masuk dalam perangkap tersebut

Janji mudah diresapi oleh rakyat, terutama yang ekonominya di bawah menengah kebawah akan terbius oleh janji-janji politik, apalagi kalau misalkan di cekoki dengan lembaran-lembaran kertas merah, di tambah dengan factor pendidikan yang mungkin belum menyentuh mereka, ini sebuah problematika yang akan menimbulkan “money politik”

Hari ini rakyat membutuhkan ekspektasi seorang pemimpin yang nyata dalam memberikan sebuah jawaban terhadap apa yang telah diperbuat kepada rakyatnya tersebut,

Tugas seorang pemimpin tidaklah terlalu berat jikala memang serius dalam mengurusi rakyatnya, kemudian jika kekuasan sudah di genggam penuhilah janji-janji yang telah terucap

Harapan besar penulis, semoga penguasa dapat mendedikasikan kekuasaan untuk rakyat, dan kultur  politik yang hari ini mungkin kurang steril lantaran pengobral janji masih bergerliya dapat sadar dengan melihat rakyatnya,

Rakyat tidak membutuhkan ribuan janji yang tak pernah terealisaSi, melainkan rakyat butuh kerja nyata tanpa ada janji-janji dusta belaka

 

( Penulis merupakan Mahasiswa UIN Banten/kader Front Aksi Mahasiswa dan PERMAH I)

 

 

 

loading...

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close