Aspirasi Mahasiswa

Pornografi Lebih Baik Dari Terrorisme

Kritik Terhadap Budaya Kekerasan dan Intimidasi

Kang Fae – Yang menarik dari pernyataan Said Aqil beberapa bulan yang lalu, dia mengatakan bahwa mengakses situs porno masih lebih baik dari situs terorisme dan radikalisme (kurang lebih artinya begitu), 100% saya sepakat, meski pornografi membahayakan, tapi terorisme dan radikalisme jauh lebih membahayakan.

Terkait dengan istilah “Bahaya” kita semua sepakat bahwa konotasi ini mengandung arti hal-hal yang merusak juga merugikan, entah itu untuk diri kita sendiri, tetangga dan masyarakat atau juga negara.

Pornografi memang merusak, tapi ia tidak merugikan, setidaknya tidak merugikan orang lain atau pihak-pihak tertentu, kita masih bisa mentolerir kerugian-kerugian pribadi yang disebabkan oleh pornografi.

Kerugian-kerugian ini hanya bersifat pribadi, meskipun mungkin dalam kurun waktu beberapa tahun kedepan dampaknya juga berbahaya, tapi kita masih bisa mencegah efek dari pornografi dengan banyak cara. Inilah sebabnya kenapa banyak dari negara-negara maju melegalkan pornografi.

Bahkan menurut sebagian kalangan, pornigrafi adalah Seni, dan pornografi pada hakikatnya adalah humanisme dan naturalisme, sebab kita semua dilahirkan dari hal-hal yang bersifat porno. Bahkan kitab suci kitapun (Islam) adalah kitab yang paling porno (Kata Gusdur)

Berbeda dengan terorisme dan radikalisme, tindakan ini bukan hanya merusak, tapi juga merugikan, bukan hanya merugikan satu atau dua pihak, tapi melibatkan banyak pihak, mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat sekitar, instansi dan lembaga pemerintah bahkan negara.

Kerugian dan kerusakan ini tentu saja mengarah pada kehancuran, kehancuran budaya, etika, norma dan hukum bahkan sebuah negara. Bahaya dan kerugian yang disebabkan oleh tindakan kriminal jenis ini samasekali tidak bisa ditolerir apalagi dianggap wajar.

Pencegahan terhadap tindakan dan faham model begini luar biasa sulit, pemerintah harus membentuk sejenis pasukan anti teror, lembaga dan instansi pemerintah sibuk menyusun dan menggerakan anti terorisme, ayat-ayat Tuhan dibuka dan ditafisrkan ulang agar benar-benar menjadi pesan Tuhan yang menuju pada perdamaian, cinta dan kebahagiaan. Berapa dana yang dibutuhkan untuk pencegahan terorisme?

Berdasarkan pertimbangan bahaya tersebut, wajarlah jika aturan hukum fiqih menyatakan bahwa kita dianjurkan untuk memilih satu hal yang kerugian dan kerusakannya lebih sedikit daripada hal yang lain yang kerugian dan kerusakan nya lebih banyak. Dan ini logis, (Tazakumul mafaasidi fatarkibul adna minal mafasidi/ Idhaa ta’aarodho dhororooni daf’u akhfahuma) Dalamkonteks ini, pornografi lebih baik daripada terorisme. (Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. al-Baqarah : 173 )

Namun bukan berarti kita menghalalkan pornografi, bukan juga menganjurkan pemerintah untuk melegalkan pornografi, aturan pelarangan pornografi ini sudah luar biasa syar’i dan sesuai dengan anjuran agama Islam.

Hanya saja saya pribadi tidak sepakat dengan ulah segelintir masyarakat yang seenak jidatnya dalam “menyampaikan amar ma’ruf dan nahi mungkar” mereka menggerebek pasangan muda-mudi tua-tui yang katanya sedang “mesum” atau melakukan hal-hal yang berhubungan dengan sex (Porno), atas dasar moral dan adab, mereka seenaknya mengintimidasi muda-mudi yang dianggap mesum “berzina”.

Padahal belum tentu mereka benar-benar melakukan. Terkait dengan hal ini, bukankah al-Qur’an memberikan aturan yang begitu ketat dalam “Menentukan seseorang berzinah atau tidak” setidaknya ada 4 orang saksi bukan?(QS. An-Nisaa: 15), dan saksi tersebut tentu saja bukan saksi abal-abal, saksi yang tidak bisa dibayar dan saksi yang benar-benar faham bagaimana suatu perbuatan itu bisa disebut zina atau tidak.

Budaya grebek ini samasekali tidak memberikan pendidikan yang baik bagi masyarakat terlebih bagi pelaku yang dituduh, urusan grebek mengrebek itu urusan pihak yang berwenang, itupun menggunakan prosedur yang sesuai dengan undang-undang.

Masyarakat atau kelompok-kelompok tertentu tidak diperkenankan melakukan pengerebekan terhadap hal-hal yang dianggap mencurigakan, kalopun ada, maka hal yang pertmakali dilakukan adalah melaporkan kepada pihak yang berwenang, entah itu polisi atau mungkin densus 69, sebab yang mempunyai kewenangan dalam hal ini tidak lain adalah mereka yang berseragam.

Sebelum proses penggerebekan dimulai, bukankah itu berawal dari kecurigaan, kemudian kecurigaan itu berubah menuju kearah kebencian, dan kebencian ini harus benar-benar terpuaskan, maka mulailah memprovokasi orang-orang terdekat, akhirnya, terkumpullah tiga hingga 10 orang dengan rasa kebencian yang sama, maka dari sana terciptalah sebuah “kekuatan kelompok” dan dari sana jualah muncul sikap-sikap merasa paling benar dan paling mulia dari orang lain.

Akhirnya, semua tindakan intimidasi (Memukul, menampar, menelanjangi dan merampas) diakui sebagai perbuatan yang paling “Benar”.

Menggunakan cara-cara kekerasan hanya untuk melarang perbuatan yang dinilai “Amoral” tersebut adalah sama saja “Biadab” nya.

Tindakan yang dinilai menyimpang seharusnya tidak diselesaikan dengan cara-cara “biadab” atau dengan cara yang menyimpang pula, sesuai dengan ketentuan hukum, bahwa menghilangkan bahaya tidak boleh dengan bahaya yang lain (al-Dharaaru La Yuzalu Biddlarari).

“Mesum” atas dasar suka sama suka itu mungkin membahayakan, karna ia melampau batas-batas aturan norma dan adat, tetapi dampak yang paling besar karna tindakan intimidasi dan kekerasan fisik/seksual adalah tekanan psikologi korban yang mulai tidak beraturan dan ini bisa berujung depresi kemudian bunuh diri.

Dalam proses intimidasi tersebut, juga tidak jarang para pelaku merekam korban yang dalam keadaan telanjang, kemudian dia menyebarkan rekaman tersebut dari teman keteman, ini jelas melanggar UU Pornografi dan melanggar Hukum agama, artinyakan ini juga bagian dari menyebarkan kemaksiatan toh, jadi nanti siapa yang paling berdosa antara pelaku dan korban? Terlebih jika si korban samasekali tidak memaafkan perbuatan pelaku.

Terkait dengan urusan moralitas, pada dasarnya kita semua sama tidak bermoralnya, hanya saja kita menyepakati bahwa hal-hal yang dianggap “tidak bermoral” adalah suatu tindakan/aib yang “kebetulan” diketahui oleh orang lain, sementara aib kita yang dirahasiakan Tuhan itu masih dalam batas moral dan tidak disebut “Amoral”.

Artinya, konsep moral hanya sebatas perspektif orang lain terhadap aib kita, semntara tindakan amoral kita yang disembunyikan tidak termasuk dalam istilah “Amoral”. Dan disini, menuduh orang lain tidak bermoral adalah tindakan merendahkan dan ini dilarang, sebab merendahkan orang lain artinya menganggap diri paling baik dan paling mulia, disinilah benih-benih Takabbur mulai bermunculan.

Berdasarkan pertimbangan ini jugalah maka negara telah melakukan hal yang tepat, meskipun secara khusus belum terdapat aturan yang mengatur istilah “Main Hakim Sendiri (Eigenrichting)” tapi dalam ayat-ayat KUHP tentang “Kekerasan, Intimidasi dan Penganiyaan” telah jelas disebutkan bahwa pelaku “Main Hakim Sendiri”
bisa dipidana penjara selama 12 tahun. (Pasal 351, 170, 406 KUHP)

Berdasarkan analisis resiko, akibat dan kerusakan yang ditimbulkan oleh dua model istilah tersebut (pornografi dan terorisme) maka jelaslah bahwa yang paling baik diantara dua keburukan tersebut adalah pornografi.

Bandingkanlah negara yang damai dengan negara yang dipenuhi oleh tindakan-tindakan anrkisme, seperti Syuriah, Afganistan dll, mereka tidak pernah merasa aman dalam beribadah, mereka itu kekurangan mengkonsumsi “pornografi”, maka yang terjadi adalah kekerasan seksual seperti pemerkosaan dan melalukan praktek pergundikan.

Jadi bersyukurlah jika pemuda kita banyak yang mesum, setidaknya mereka lupa untuk merampok, membunuh dan mengintimidasi. Pemuda itu yang ada dibenaknya cuma dua, bercinta atau perang, jika bercinta dilarang, mereka memilih perang demi bercinta, ya begitulah yang terjadi dengan kelompok-kompok ekstrimis dan kaum jihadis, mereka berperang demi bercinta dengan 70 bidadari (entah didunia atau mungkin juga di Sorga).

Bayangkan, seandainya dua tahun kedepan banyak dari pemuda Indonesia angkat senjata, menyerang tetangga dan temannya, maka apa yang akan terjadi? Bisa perang saudara kita. Itulah kenapa pornografi tidak terlalu membahayakan bahkan dinegara tertentu itu dibolehkan. Berbeda dengan terorisme dan radikalisme, disemua negara, entah negara yang dihuni malaikat sekalipun itu dilarang.

You might also like
Comments
Loading...