Kolom

Pro Kontra Ahok Muslim

Oleh : Muchlas Subni

Serang(05/11) “Rawe Rawe Rantas Endog  Pecah Siji Pecah Sepetarangan” ujaran yang sering dilontarkan  Tb Aat Syafaat (Mantan Walikota Cilegon 2000-2010) untuk mewakili keadaan kota cilegon pada masa kepemimppinannya. Sepercik api yang sedikit demi sedikit tertiup angin menjadi gejolak api membakar indonesia , sama halnya dengan keadaan ibu kota DKI Jakarta yang sekarang mulai dihadapkan oleh berbagai benturan oleh pihak pihak yang berkepentingan, menjadi menarik ketika kita mencoba membahas kota Jakarta menjadi topik pemrbincangan kita hari ini, ditemani aroma segelas kopi yang sekarang ada di hadapan pembaca, perspektif  al- maidah ayat 51 yang mengawali berbagai kisruh sosial yang terjadi di kota Jakarata merupakan sumbu awal teciptanya berbagai perubahan keadaan baik sektor sosial, ekonomi, politik, agama dan konflik sosial yang terjadi, sampai kemudian presiden RI Jokowidodo menemui Prabowo Subianto kadidat pasangan lawan pada pilpres 2015 untuk membicarakan antisipasi yang harus dilakukan oleh pemerintah  mengawal demonstrasi masa besar besaran pada 4 november yang sebelumnya ketua GNPF MUI Bachtiar Nasir menghimbau agar umat islam menggelar aksi secara terpusat di Jakarta, menangapi persoalan hukum yang harus diterima gubernur dki Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ( alias: ahok).

Img : Tribunnesws.com | Massa aksi dari FPI pada 14 Oktober 2016

Kemudian apa makna dan bagaimana umat muslim harus menanggapi persoalan tersebut apakah muslim diharuskan terlibat aksi pada 4 november? bukan kah aparat yang ditugaskan mengawal berjalanya demostrasi juga merupakan umat muslim, yang kemudian dibenturkan keduanya, sedang subjek pelaku hanya duduk manis melihat huru hara yang terjadi diluar jendela. lengahnya muslim indonesia tidak bisa menyadari bahwa gambaran muslim indonesia saat ini menjadi kiblat sorotan kaca mata dunia sebagai modal dasar islam yang akan datang. Muslim yang fanatik dengan agamanya tetap bertahan dengan modal  penistaan agama sedang yang menistakan agama bersih kukuh telah meminta maaf terhadap apa yang telah ia ucapkan tidak bermaksud dan secara sengaja ia perbuat. Jika respon yang sekarang tejadi dibalikan terhadap umat muslim apa tangapan seorang muslim ketika darah dagingnya sendiri enggan belajar membaca al- qur’an? Sudahkah MUI menaruh perhatian besar sebagai jawaban pesoalan tsb. bukan maksud penulis pro terhadap Ahok akan tetapi rosul kita mengajarkan untuk koreksi diri. Tidak sedikit muslim indonesia yang paham terhadap agama jika  memang Indonesia Negara hukum maka penegakan hukum  yang harus di pertanyakan, persoalan muslim dengan Basuki Tjahaja Purna sudah pudar sejak lama tersisa persoalan hukum yang perlu diproses. sekarang apa yang membuat FPI begitu giroh ( semangat) untuk men-sukseskan gelar demostrasi? sudahkan jawaban tersebut terlintas di benak pembaca.

“FPI tidak suka ahok dan ahok tidak suka FPI” ujar ahok setelah tejadi aksi FPI yang pertama(0../) Atas nama Pengurus Front Pembela Islam (FPI) Habib Novel Bamukmin menilai, Basuki Tjahaja Purnama memimpin DKI Jakarta dengan penuh kezaliman, arogan, sombong dan tidak punya hati nurani.  Jika kita mau bersikap jujur terhadap Islam sebagai agama langit yang terakhir yang ingin menebarkan salam (kesegaran, perdamaian, keamanan, kesehatan) dan rahma (rahmat, belas asih, keharuan, simpati, kebaikan), maka apa yang terjadi di Jakarta dari dulu sampai sekarang adalah pengkhianatan terhadap nilai-nilai luhur agama. Pertumpahan darah antar sesama muslim jusrtu yang dimungkinkan terjadi pada 4 nov begitu mudah  mengadu perseteruan sesama muslim indonesia terlepas apa yanng mereka bela. Saat tanah makam nabi belum berubah warna khalifah Utsman Bin Afan dibunuh setelah konfrotansi muslim dari Kufah dam Mesir memulai perlawan. Tragedi ini seluruhnya bertalian dengan masalah kekuasaan. Menarik benang merah dari pengalan sejarah tersebut  konflik antara FPI dan gubernur DKJ Jakarta tidak terlepas dari persoalan politik kekuasaan. Pihak yang fanatik terhadapa agama siap membela namun dilain sisi menghindari pertumpahan darah sesama muslim itu jauh lebih utama.

Bumi nusantara bukan tempat untuk menumpahkan daran secara percuma yang kemudian rakyat menjadi korbannya sedangkan penguasa dan pengusaha menari diatas gendang yang ditabuh dengan persoalaan agama. Kini muslim mengghadapi begitu banyak dilema, jaring jaring persoalan telah menjebak muslim untuk memiliki sebuah jalan tunggal, jalan yang 100% benar atau 100% salah. Dalam situasi ini, keputusan untuk tetap aksi demonstrasi memang bukan keputusan yang memuaskan, tapi bisa memberi harapan akan terselengaranya proses hukum. Ada saat kita perlu mengakui bahwa kita tak mampu memindahkan gunung, tapi kita bisa mengangkat batu- batu terjal. Disinilah rakyat Indonesia memiliki arti penting bagi tegaknya hukum indonesia. Bukan mengatasnamakan agama sebagai yang dinistakan. Rakyat indonesia menyimpan begitu banyak energi yang menyebar mulai dari perkotaan sampai desa dan dusun dusun dipedalaman untuk menatap indonesia emas.

  • Penulis adalah mahasisa IAIN SMH BANTEN, kader HMI kom. Fasei. Aktifis fron aksi mahasiswa( FAM).
loading...

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close