Aspirasi Mahasiswa

Siapa Yang Berani Menjadi Seorang Petani?

Kang Fae – Menarik apa yang diungkapkan Presiden Jokowi perihal profesi yang diminati oleh para lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB), bahwa hampir semua mahasiswa lulusan kampus tersebut menghindari berprofesi sebagai petani, ini bisa dibuktikan dengan banyaknya direksi-direksi di tubuh BMUN yang diisi oleh para lulusan – lulusan IPB, kira – kira begitulah apa yang dikatakan Jokowi seperti. Entahlah, faktanya memang kebayakan dari lulusan institut paling ternama di Indonesia tersebut mayoritas berprofesi bukan sebagai petani, begitu juga dengan lulusan – lulusan fakultas pertanian kampus lainnya. Lalu untuk apa sebenarnya fakultas pertanian itu didirikan? Jika keberadaan fakultas pertanian itu tidak membawa dampak baik bagi pertanian di Indonesia, mendingan fakultas itu dibubarkan saja.

Mungkin Indonesia dulu pernah melakukan swasembada pangan, semacam ekspor beras kebeberapa negara tetangga, sebagian dari kita mungkin membangga-banggakan zaman tersebut, tapi itu dulu, saat mayoritas warga negara Indonesia sebagai petani, dan lahan pertanian masih luas membentang dari ujung Tanduk Sumatra hingga keujung ekor Papua, hingga pemerintah orba mau – tidak mau mengeluarkan kebijakan transmigrasi semacam bagi – bagi lahan kosong untuk ditanami. Tapi ini bukan zaman dulu, peningkatan jumlah penduduk menyebabkan lahan – lahan pertanian itu terpaksa dijadikan pemukiman,  akibatnya, lahan irigasi semakin sempit.

Zaman terus berubah, jumlah penduduk semakin hari semakin bertambah, kebutuhan – kebutuhhan pokok seperti sandang, pangan dan papan semakin meningkat, sementara lahan – lahan pertanian semakin hari semakin menipis, mustahil bagi kita untuk kembali seperti zaman orba, melakukan swasembada pangan, jika tidak disertai dengan semangat anti konsumtif. Ditambah gaya hidup modern seolah menolak dan mengkerdilakn profesi petani.

Peningkatan jumlah penduduk tentu saja mempengaruhi perluasan wilayah untuk pemukiman, seperti satu Kepala Keluarga, dalam waktu 20 hingga 40 tahun, mereka akan menjadi 5 sampai 10 kepala keluarga, begitu seterusnya, ini membutuhkan lahan – lahan baru untuk pemukiman, dan tentu saja butuh pekerjaan yang lain diluar profesi petani. Meski pemerintah mati – matian menekan angka pertumbuhan penduduk agar tetap stabil melalui berbagai cara, akan tetapi, namanya juga mahluk hidup yang senang berkembang biak, dan berkembang biak dijadikan sebagai suatu kesenangan, maka akibatnya pertumbuhan penduduk tetap saja meningkat. Imbasnya adalah kesenjangan sosial yang semakin menjadi – jadi, pengangguran merajalela, karna minimnya lowongan pekerjaan mengaharuskan pemerintah mengambil jalan pintas yakni menghadirkan dan membuka seluas – luaskan investor asing dan mendirikan pabrik – pabrik serta perusahaan – perusahaan bertaraf nasional dan internasional, akhirnya, ribuan hektar lahan pertanian harus ditanami puluhan pabrik industri raksasa demi menyerap dan menurunkan angka pengangguran. Tapi ini hanya menjawab masalah pengangguran, diluar itu, kesenjangan sosial semakin menjadi – jadi sebab secara tidak sengaja, pemerintah telah membentuk kelas baru dalam masyarakat yakni kelas buruh.

Dari uraian ini, saya bisa menyimpulkan bahwa mayoritas masyarakat di Indonesia lebih memilih menjual lahannya untuk biaya pendidikan anaknya, agar sianak mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang layak dimasa depan, jika saya boleh berandai – andai, maka ini jelas terlihat semakin konyol, misalnya anda menjual lahan seluas 2 hektar dibelakang rumah anda untuk pembangunan gudang pabrik, lalu dana itu anda gunakan untuk biaya pendidikan anak anda, dan setelah besar, anak anda lulus, akhirnya dia diterima kerja sebagai kepala gudang diperusahaan belakang rumah anda dengan gajih dibawah 5jt/bulan. Lalu, apa sebenarnya yang telah anda lakukan? Anda menjual aset paling berharga dan menjadikan anak anda buruh yang suatu hari bisa di PHK.

Ini bukan cuma salah pemerintah, tapi seluruh kita sebagai warga negara turut menyumbang kesalahan – kesalah yang lain, kita menolak impor sementara kita tidak cukup mampu untuk mengelola dan membuat sendiri, kita memprotes impor bawang sementara kita mati – matian menolak menjadi petani bawang, kita menolak impor beras sementara kita tidak menghargai jasa – jasa para petani, memandang rendah profesi petani dan cenderung menjauh dari hal – hal yang berkaitan dengan petani, seperti malas menanam pohon atau menyiram bunga walau satu kali seumur hidup, sungguh kita adalah bangsa kanak – kanak yang terlalu manja.

Kita mungkin pernah mengkritik pemerintah karna harga kebutuhan pokok menjadi naik tanpa mencari tahu dulu fakta dan data dilapangan, dengan santai mengatakan “Apa susahnya pemerintah menurunkan harga garam, beras, telur atau daging, apasusahnya?, sungguh pemerintah tidak becus, sebab garam saja harus impor”. Ini komentar terlalu awam, dia pikir pemerintah itu tengkulak yang manaikan harga seenaknya, padahal pemerintah hanya berusaha mengendalikan dan menyeimbangkan harga – harga dipasar agar tidak terlalu tinggi, tidak juga terlalu rendah, sebab pertimbangan mereka adalah petani/produsen, pengusaha, dan konsumen, semuanya harus sama – sama merasa diperhatikan dan diuntungkan. Sudah menjadi hukum ekonomi, bahwa jika barang mengalami kelangkaan dipasar, atau mengalami peningkatan permintaan sementara persediaan barang kurang, maka secara otomatis harga akan naik, begitu sebalikanya, maka untuk mengendalikan harga pasar agar tidak terlalu liar, solusi yang dianggap tepat oleh pemerintah adalah mengatasi kelangkaan dengan cara impor meski akhirnya harus dikritik mati – matian oleh masyarakat dengan menuding pemerintah tidak mampu mengelola persediaan pangan.

Lalu, pertanyaan yang kemudian muncul adalah, kenapa barang – barang kebutuhan pokok tersebut bisa mengalami kelangkaan? Ada banyak sebab, kita tidak bisa membahas ini satu persatu, yang pasti terdapat faktor internal dan external, Misalnya produktifitas yang semakin menurun karna kesulitan mendapatkan bahan – bahan baku, sarana dan prasarana yang kurang memadai, semangat pegawai, harga jual dipasar yang terlalu rendah menyebabkan beberapa produsen alih profesi, atau mungkin juga karna hal – hal lain seperti gengsi, gaya hidup atau terlalu banyak permintaan dipasar, seperti kelangkaan garam yang terjadi beberapa minggu yang lalu disebabkan karna cuaca, sarana dan alat-alat produksi, juga karna harga jual terlalu murah hingga sebagian petani garam alih profesi.

Begitu juga dengan petani lainnya seperti petani padi, cabai, singkong, dll, harga satu kilo singkong dipasar berkisar antara Rp. 2500 – 3500, ini adalah harga pasar, semantara harga dari petaninya persatu kilogram berkisar antara Rp.500 hingga Rp.1000, terlalu rendah bahkan, ini juga bukan harga mati, petani masih berani menjual dibawah harga tersebut, kenapa? Karna ancaman membusuk dan khawatir tidak terjual.

Ini hanya sebatas gambaran kecil bagaimana profesi petani ini semakin tidak diminati dikalangan pemuda dan mahasiswa, selain gengsi, pendapatan yang minim serta dianggap terlalu kuno juga dianggap tidak menjanjikan.

Kita tidak pernah mendengar cerita seseorang melamar pekerjaan sebagai petani, mungkin uraian diatas ada benarnya, bahwa pekerjaan itu terlalu kuno dan identik dengan pekerjaan orang-orang tua, hingga samasekali tidak diminati oleh pemuda apalagi mahasiswa, mungkin juga terlalu berat menanggung malu jika seorang Doktor berprofesi sebagai petani, atau seorang sarjana pertanian tapi mencangkul di sawah. Faktanya memang begitulah profesi tersebut, para sarjana, doktor dan insiyur pertanian sekalipun tidak akan berani memilih bertani sebagai profesi, kecuali mungkin bagi sebagian mereka yang benar-benar mengerti arti sebuah profesi petani.

Ini semua tidak lain karna pandangan masyarakat indonesia sendiri yang cenderung meremehkan seorang petani,  mungkin karna penghasilan mereka yang terlalu minim atau mungkin juga karna keseharian mereka menggunakan cangkul, golok, kapak dan alat-alat pertanian lainnya yang dinilai sedikit udik dan kampungan, atau mungkin juga karna doktrin yang berkembang di masyarakat jika orang tua itu sebagai petani maka anaknya sebaiknya tidak seperti orang tuanya, jika stigma semacam ini terus berkembang dimasyarakat, maka 100 tahun kedepan, Indonesia akan mengalami kelangkaan petani, dan tentu saja Mentri Pertanian akan dihapuskan dalam kabinet presiden, kita tunggu saja.

Apa yang akan terjadi jika Indonesia benar – benar mengalami kelangkaan petani? Otomatis akan mengalami kelangkaan pangan, Imbasnya kita juga sudah merasakan hari ini, beberapa kali pemerintah telah melakukan impor, baik logis juga impor yang tidak logis, Indonesia akan kembali dijadikan pasar paling menguntungkan untuk produk – produk pertanian negara – negara tetangga, misalnya hari ini, produk teknologi hampir semuanya impor, itu karna di indonesia sendiri belum mampu menciptakan teknologi versi sendiri, mungkin masih dimaklum oleh sebagian masyakat kita, mengingat indonesia adalah negara yang baru berkembang, tentu saja pengetahuan teknologinya masih berkiblat pada dunia barat, dan kita masih memperlajari sistem – sistem pemprograman yang mereka ciptakan. Namun berbeda jika yang di impor tersebut adalah produk – produk pangan dan kebutuhan pokok lainnya seperti sembako, karna tidak ada lagi peternak dan petani, maka kita akan bergantung pada impor dan suatu saat bisa saja kita mati kelaparan karna negara – negara luar menolak menjual bahan – bahan pangan nya keluar negri. Jika sebuah negara terlalu bergantung pada negara lain, maka negara tersebut tidak akan bertahan lama.

Petani itu bisa disebut sebagai unsur pembentuk dapur negara, maka kemakmuran petani juga kemakmuran sebuah negara, persediaan pangan yang cukup dilihat sejauh mana pemerintah meperhatikan nasib – nasib para petaninya, cuek sedikit terhadap mereka, maka akan berimbas pada ketidakstabilan harga kebutuhan – kebutuhan pokok dipasar.

Bagaimana jika indonesia mengalami kelangkaan petani? Siapa yang siap menjadi relawan petani? Beranikah kita tidak menjual lahan pertanian produktif? Dan beranikah pemerintah tidak menggusur lahan – lahan pertanian produktif?

You might also like
Comments
Loading...