Aspirasi Mahasiswa

Kegilaan Kekuasaan Negara Mencipta Pasar Pemikiran

Ganja, dilarang, tanpa ada fakta yang pernah ditampilkan oleh Negara mengenai “ganja dapat membunuh”. Bukan aku pengguna ganja, atau pun penghisap cigarette, tapi aneh dan gelisah di benakku, ganja yang di seluruh dunia tak pernah kudengar dampak membunuhnya, tak ada satu pun kasus yang kutahu bahwa seseorang meninggal akibat terlalu lama menghisap ganja, atau pun mati “overdosis” karena ganja, satu pun aku tak tahu. Tapi aku tahu rokok dapat membunuh manusia, siapa pun, memang bukan karena “overdosis” tapi dampak durasi dan intensitas penghisapannya dapat jadi variabel penunjang timbulnya penyakit-penyakit dalam. Ini bukan opiniku, Negara kita membenarkan pendapatku mengenai “rokok dapat membunuh”, silahkan cek setiap bungkus rokok komersil. Sedangkan ganja, saat ini sudah diijinkan keberadaannya untuk penelitian kesehatan, berkat LGN, dan sedang diusut selain dampak “kesenangan” sebenarnya seberapa benar khasiat ganja dalam hal medis. Ya di seluruh dunia banyak memperbincangkan dampak positif atau khasiat dari ganja, banyak berita beredar bahwa ganja “katanya” bisa jadi pencegah kanker, bahkan mengobati kanker, bahasa kerennya ganja punya khasiat anti-cancer. Itu salah satunya. Lucu, rokok dengan sifat membunuh dibiarkan dan dilegalkan padahal tak ada satu pun efek positif dari rokok, sedangkan ganja yang tidak mampu dibuktikan mengenai dampak mematikannya dilarang dan diilegalkan hanya karena kemampuannya untuk membuat seseorang “kesenangan”. Memang bakal kocak Negara kalau semua warganya jadi zombi pelamun savana imajinatif, alias pelamun cengar-cengir. Setidaknya, ganja bisa ditempatkan agak lebih layak di atas rokok, rokok harusnya bisa dihilang dan diilegalkan. Kelucuan rokok vs ganja ini mirip dengan Marxisme-Lenninisme atau Komunis. Negara dengan adidaya sebagai pemegang kekuasaan yang dimotori oleh orang-orang dengan label pemikiran Agama dan Nasionalis seenak jidat memangkas satu pemikiran. Melarang Marx-Lenin-PKI-Komunis hanya karena tuduhan yang tidak jelas, dari mulai Komunis dianggap “Atheis” sampai dianggap “Fasisme”. Kekuasaan Negara di sini udah gila, sejenis gilanya sama kaya rokok yang udah jelas nimbulin penyakit dan kematian malah dilegalkan, hanya karena opini ganja membahayakan karena kemampuan membuat orang terlalu senang justru diharamkan. Nasib ganja sama seperti nasib orang-orang yang punya pola pemikiran ala Komunis atau Marxis, dituduh Negara sebagai orang-orang penjahat, tukang jagal lah, atau tidak percaya Tuhan. Padahal semua orang dengan pola pikir Komunis-Marxis di Indonesia ga mungkin bisa lepaskan keTuhanan dalam sanubarinya, ga mungkin membenarkan pembunuhan. Dengan tercetak jelasnya pelarangan ideologi Komunis-Marxis di Undang-undang sebenarnya Negara lah yang sedang melakukan pembunuhan massal, bukan pembunuhan seperti G30S, tapi pembunuhan pemikiran massal. Negara dengan kekuasaannya hanya ingin menciptakan dan terus melahirkan masyarakat sebagai objek/target sasaran bagi ideologi-ideologi Nasionalisme dan Agama saja. Padahal Negara sudah punya dasar yang jelas, PANCASILA. Pancasila kesaktiannya terlalu luntur bila hanya dijadikan sebagai dasar untuk langgengnya otak-otak yang berpegangan pada Agama saja, dan Pancasila terlalu rendah bila hanya dijadikan dasar tapakkan kaki bagi pemikir-pemikir Nasionalisme. Pancasila milik gua ga sehina itu. Pancasila-ku ga secemen pemikiran Pancasila skeptis itu. Pancasila sejati ga pernah takut dengan ideologi apa pun, Pancasila murni ga bakal kalah diadu dengan pemikiran apapun sekalipun itu pemikiran “imajiner” mengenai ketiadaan Tuhan. Karena Pancasila milikku, Pancasila yang ada di benak ku, Pancasila yang aku terapin derajatnya ga sanggup dilangkahin oleh paham apapun, Pancasila saat ini masih sakit! PANCASILA GUA TUH SAKTI.

 

penulis    : sayapkiri

Comments
Loading...