Aspirasi Mahasiswa

Pola Baru Antisipasi Politisasi Gerakan Mahasiswa

Mahasiswa sebagai penyandang status formal tertinggi dalam dunia kampus selalu dieratkan pada tiga hal prinsip dasar yang biasa kita dengar sebagai tridharma perguruan tinggi yang salah satunya iyalah “Agen perubahan”. Hal inilah yang kemudian banyak para sarjana-sarjana terdahulu mempertanyakan peranan mahasiswa ketika issu-issu yang ada (baik politis maupun populis) tidak mampu diselesaikan dengan serius dan tuntas. Mengapa hal demikian terjadi, Apakah pola gerakan nya kolot, mental yang tidak frontal atau memang gerakan-gerakan mahasiswa didominasi oleh basis politik?

Pertanyaan-pertanyaan itu memang harus dijawab sebagai pertanggung jawaban kita sebagai mahasiswa masa kini.

Dalam basis basis pergerakan dewasa ini ada kekalutan sistem pola gerakan yang memang terhitung tidak kreatif (aksi massa). Hal inilah yang memang perlu dirubah sehingga setiap mahasiswa mempunyai masa-masa nya sendiri dengan konsep dan pola gerakannya sendiri pula. Ini sebagai bentuk antisipasi agar mahasiswa sebagai bentuk agen perubahan tidak dicampuradukan dengan kepentingan politik luar yang hari ini mencoba memobilisasi gerakan mahasiswa. Langkah inilah yang harus segera kita terapkan sebagai mahasiswa agar semua berjalan sesuai dengan porosnya masing-masing, walaupun elemen-elemen politik tidak bisa dipungkiri selalu memaksakan diri mencoba memanfaatkan basis gerakan mahasiswa dengan cara idealnya yang memang itu dilakukan sejak dahulu (sayap partai) .

Yang kedua masalah mental yang kerap menjadi penghalang dalam stabilitas perjalanan mahasiswa sebagai pribadi-pribadi Agen perubahan. Mental adalah hal terpenting yang memang harus dimiliki oleh seorang mahasiswa yang dalam hal ini juga ada semacam pengkebirian dari lembaga-lembaga lewat aturan aturan yang memojokan, dari mulai kerapihan dalam berpakaian, absensi, hingga aturan lulus 5 tahun. Pola pendidikan seperti inilah yang kemudian tidak ada pembatas antara mahasiswa dan siswa. Hal inilah yang kemudian mahasiswa menjadi apatis dengan permasalahan-permasalahan sosial yang ada. Maka untuk meminimalisir pengkerdilan mental semacam ini harus ada solusi baru yang diciptakan agar disamping kita tetap patuh pada aturan yang ada kita juga mampu meninggalkan prasasti yang positif bagi diri kita pribadi dan orang lain.

Dengan begitu kita sebagai mahasiswa tidak lagi dipertanyakan dan pola gerakan yang kita ciptakan selalu bisa berjalan sesuai dengan tiga prinsip dasar yang saya sebutkan diatas tadi. Lepas dari pengaruh kepentingan aktor-aktor politik, menciptakan kualitas diri yang bisa membanggakan dengan banyak prestasi yang diraih, dan tidak lagi dijustifikasi sebagai mahasiswa apatis karena kita bisa menuntaskan gejala-gejala sosial dengan pola gerakan baru lewat tulisan-tulisan yang bersifat kritis.

Dan yang terpenting jika ada yang mempertanyakan peran mahasiswa kita punya gagasan baru yang tidak sama dengan pola pola orang terdahulu yang tidak relevan jika diterapkan dimasa kini.

Comments
Loading...