News

Parpol Islam dan Nasionalis Sama Saja

Bagi Arya Fernandes, Peneliti CSIS, tidak ada perbedaan yang signifikan antara platform maupun program-program yang diusung oleh partai Islam dan partai nasionalis. Hal ini membuat partai-partai Islam tidak berhasil posisitioning dengan maksimal di hadapan pemilih.

Menurutnya, kondisi ini diperparah dengan konflik yang melanda partai-partai Islam. Selain itu, gagalnya pengkaderan internal di tubuh partai-partai Islam juga berpengaruh.

“Mantan aktivis mahasiswa dari berbagai organisasi mahasiswa Islam juga tidak banyak yang kemudian berminat menyalurkan aspirasi politiknya dengan berkarir dalam partai-partai Islam. Di sisi lain, partai-partai nasionalis juga berusaha membentuk organisasi sayap bercirikan Islam,” kata Arya dalam diskusi publik bertema “Arah Politik Umat Islam 2018 dan 2019” yang digelar SIMAK Institute, di Ciputat, Tanggerang Selatan, Banten, Sabtu, (20/01/2018).

Arya mengungkapkan, dalam penelitian CSIS tentang “Pengaruh Agama Terhadap Pemilih” menemukan bahwa, keshalehan personal dan religious contex tidak menjadi faktor dominan yang mempengaruhi pemilih. Demografi pemilih cenderung termoderasi, lebih-lebih ketika koalisi yang dibangun juga acak antara partai Islam dan partai nasionalis.

Bahkan dalam penelitian tersebut juga mengungkapkan, migrasi pemilih pun cuma 75% pemilih partai Islam yang konsisten tetap memilih partai Islam jika berganti pilihan partai. Sedangkan 90% pemilih nasionalis tetap memilih partai nasionalis jika berganti pilihan partai.

Menurut Arya, gerakan 212 pun tidak akan berpengaruh signifikan baik pada partai Islam maupun kandidiat pada pilkada 2018. Gerakan tersebut telah gagal bertransformasi secara politik, baik membentuk partai (tidak realistis) maupun dalam kontestasi kandidat di setiap partai. Alumni 212 pun terpecah dan penerimaan massa terhadap alumni 212 juga lemah.

Sementara itu bagi Pangi Syarwi Chaniago dari Voxpol Center memandang efek gerakan 212 akan terasa di Pilpres. Apalagi jika pemerintahan Jokowi gagal mengelola isu dengan baik. Namun Pangi tidak setuju jika ulama (umat) dihadap-hadapkan terus dengan pemerintah.

“Politik pembelahan tersebut sangat berbahaya dan justru akan merugikan umat Islam dan bangsa Indonesia secara keseluruhan,” ungkapnya.

Menurutnya, sepanjang pemilu nasional, Partai Islam tidak pernah jadi pemenang. Yang terbaik cuma Masyumi ketika meraih posisi kedua pada pemilu 1955.

“Jika ingin maju, partai-partai Islam harus mengedepankan platform, program, gagasan dan ide ketimbang identitas yang simbolik,” pungkasnya.[]

Source link

loading...

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close