Aspirasi Mahasiswa

Ajang Demokrasi, Kekuatan Mental Harus Diisi

Dalam permaiannya pesta demokrasi terkadang memilukan akibat benturan saling pukul idiologi dan kekuatan politik yang keras.

Dalam situasi yang hangat dan sentral seperti sekarang, ajang demokrasi ini nampaknya memaksa segelintir elite politik untuk saling bentur antara sesama kawan menjadi lawan. Hal ini biasa terjadi dalam ajang seperti ini dan memang telah memunculkan selenehan sendiri, “dalam politik tidak ada kawan abadi tidak ada musuh abadi, yang ada hanya kepentingan dan kepentingan”. Inilah kata-kata yang kerap terdengar dibenak kita untuk dunia politik.

Dalam perjalanannya di indonesia sendiri moment demokrasi sedang berlangsung. Dimana Calon Gubernur dan Wakilnya begitu gencar dan antusias berkompanye. Spanduk, pamflet, blusukan dan sejumlah siasat lain dilakukan agar meyakinkan masyarakat bahwa sang calon merakyat dan siap mendengarkan aspirasi-aspirasi rakyat. Disamping sibuk berkompanye dengan berbagai cara, dirasa rakyat saja tidak menjamin untuk kemenangannya, maka siasat yang tepat untuk menyingkapi itu ialah dengan cara berkoalisi dengan beberapa partai untuk meminta dukungan walaupun terkadang harga yang harus diberikan begitu besar. Ini biasa dilakukan dalam moment-moment seperti ini, dan memang harus demikian adanya (saling koalisi dan bersahabat) dengan beberapa partai yang dianggap dekat dan seidielogi.

Bertepatan dengan itu, ternyata dalam dunia kampus pun (sebagai miniatur negara) mengalami hal serupa seperti di atas. Khususnya kampus yang ada di Banten seperti Kampus Universitas sultan ageng tirtayasa (Untirta serang), Universitas islam negri (UIN Serang), dan kampus Bina bangsa sedang ramai akan hal itu.

Di UIN Serang sendiri sejauh ini sejumlah siasat telah dilakukan. Kompanye blusukan dengan mengitari semua kelas, konsolidasi sesama organisasi dan berbagai hal lain dilakukan untuk meyakinkan mahasiswa lain untuk memilihnya dikemudian hari. Karena dalam hal ini tidak saja mahasiswa dituntut untuk memilih salah satu ketua untuk Himpunan mahasiswa jurusan (HMJ) saja, tetapi juga Dewan mahasiswa (DEMA) dan juga Presiden mahasiswa (PRESMA).

Tidak dipungkiri beberapa Calon yang naik baik HMJ maupun yang lain adalah usungan dari Organisasi yang diikutinya. Maka terkadang dalam calon sendiri, disisi mental dan umurnya yang belum mumpuni dan siap untuk memimpin, juga secara SDM belum cukup dikatagorikan mampu berkontribusi dan memberikan gagasan kreatif untuk kemajuan kekuasaan yang di embannya. Sebab inilah yang kadang mengkhawatirkan dan membuat kekisruhan antara pemimpin dan rakyatnya hingga isu kudeta pun tidak menutup kemungkinan akan terjadi.

Maka dalam ajang demokrasi ini, tidak saja hanya asal nyalon sebagai bentuk kepatuhan kepada pemimpin, tetapi juga harus ada kesiapan matang dari dirinya sendiri untuk bisa mengemban tugas yang oleh mahasiswa lain diberikan kepadanya. Jika semua itu tidak dipersiapkan dengan matang maka kemajuan dan kenirja lain yang seharusnya dia lakukan setelah kemenangannya akan menjadi pertanyaan besar ketika semua itu tidak berjalan dengan semestinya.

Comments
Loading...