Aspirasi Mahasiswa

Sugihardjo: Pemerintah Tidak Jadi Membangun Jembatan Selat Sunda

Senin (4/12), Dewan Mahasiswa UIN SMH Banten bekerja sama dengan Dinas Perhubungan menggelar acara bertajuk Dialog Sinergi Membangun Bangsa dengan tema “Konektivitas Infrastruktur Transportasi  Jawa-Sumatera”.

Pembicara dalam acara ini adalah Sugihardjo selaku Sekretaris Jenderal  (SekJen) Kementrian Perhubungan Republik Indonesia dan  di host-i oleh Dedi Gumelar atau yang hangat disapa Miing Bagito.

Di awal dialog, Djoko Sasono, kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) perhubungan yang juga hadir dalam dialog tersebut dan turut menjadi pembicara, mengajak audiens yang rata-rata adalah mahasiswa untuk menuntut ilmu dibidang transportasi seperti  di Lembaga Diklat Beasiswa  Pendidkan Sarjana Transportasi BPDSM Perhubungan.

Dalam dialog tersebut, pembicara memaparkan perihal perkembangan transportasi serta infrastruktur yang akan dibangun di Indonesia dan keterkaitannya dengan sumber daya manusia serta paradigma yang harus diubah pada masyarakat terkait transportasi yang ada di Indonesia.

“Konektivitas harus dirasakan oleh masyarakat Banten sendiri, karena itu kita di satu sisi bersyukur juga bahwa pemerintah memutuskan tidak jadi membangun jembatan Selat Sunda. Disamping karena faktor teknis/ resiko, ini juga memberikan kesempatan bahwa di dalam konektivitas transportasi udara ada tipografi yang bisa diselamatkan dari provinsi Banten”

Sugihardjo menambahkan bahwa konektivitas  hal yang positif maka memang harus dipikirkan dan dipersiapkan dengan baik agak bisa tercapainya kemajuan perekonomian yang ingin dicapai.

Menjawab pertanyaan seorang audiens mengenai jembatan Selat Sunda yang tidak jadi dibangun dan pelayanan transportasi laut penyebrangan Merak-Bakauheni, Sugihardjo pun menjawab bahwa tidak jadinya pembangunan jembatan selat sunda bukan berarti tidak ada upaya yang dilakukan pemerintah. Melainkan pemerintah melakukan upaya dengan mendorong pengembangan dermaga penyebrangan menjadi 6 pasang, dengan dermaga premium ada tujuh pasang.

Setelah diberi 3 tahun transisi, kapal-kapal yang beroperasi yang di Bakauheni minimal harus 3000 GT atau berkapasitas yang besar dan kecepatan yang pesat serta dengan jumlah dermaga yang banyak bisa menampung banyak. (Laila)

You might also like
Comments
Loading...