Aspirasi Mahasiswa

Hati-hati Mendukung Bakal Calon Walikota Serang, Salah Dukung Kepalamu Dijual!

Kang Fae – Lebih dari 17 bakal calon walikota serang yang sudah muncul dipermukaan, beberapa sudah menjadi calon sementara sisanya masih Bakal Calon. Entah lah, sabagai masyarakat awam, saya tidak begitu paham maksud para politikus itu memanjang gambar wajah – wajah tua di pinggiran jalan, diatas selokan, tiang listirik, tempat pembuangan sampah, dan dijendela angkot bagian belakang juga toilet umum. Sepertinya mereka berusaha mengenalkan kepada public bahwa wajah tua yang membosankan itu adalah wajah yang mencerminkan  perubahan, pembaharu atau juga mungkin wajah masadepan. Ah, jika saja aku boleh menilai, masa aku harus percaya pada wajah masadepan yang sudah tua itu, wajahnya tidak mencerminkan masadepan sama sekali, malah lebih mencermin ketamakan dan obsesi. Begitupun dengan wajah yang sedikit muda, tidak ada bedanya.

Masa kampanye sebetulnya masih jauh, tapi strategi politik mereka mengharuskan kampanye jauh – jauh hari, mungkin ini dinilai efektif untuk menarik massa walau hanya sekedar memajang foto wajah dan selogan menjanjikan, dari selogan yang elegan hingga yang alay. Dan sayangnya, masarakat kota Serang juga masih belum cukup dewasa untuk menilai sosok bakal calon pemimpin kotanya, kebanyakan dari kita tidak penting siapa, yang penting isi dompetnya atau setidaknya isi dompet partai pendukungnya.

Saya percaya, bahwa tidak sampai pada angka 50% bakal calon itu lolos menjadi calon, sisanya akan tetap menjadi bakal calon hingga periode pemilihan calon walikota berikutnya, jika verifikasi tidak meloloskan si bakal calon tersebut, tentu saja yang dia lakukan adalah menjual massa pendukungnya, dan kehadiran bakal calon tersebut adalah untuk mengkondisikan dan mengorganisir massa agar pada saat kampenye berlangsung, mereka di lelang dihadapan para calon – calon walikota, siapa yang membayar lebih besar, entah dengan uang secara langsung atau dengan posisi dan jabatan strategis di pemerintahan kedepan, maka massa akan dialihkan.

Meski mengaku independen dan tidak diusung oleh partai manapun, tetap saja pada waktunya mereka butuh kekuatan partai, khususnya partai – partai yang mempunyai kursi terbanyak di DPRD kota atau bahkan provinsi. Publikasi “independen” rupanya hanya sebatas kamuflase agar lebih banyak mengundang simpati massa, tidak heran, jika hari ini kita banyak menjumpai bakal calon walikota yang dibelakang spanduknya tidak ada logo partai.

Ini adalah strategi terbaik dalam mengumpulkan pundi – pundi rupiah, musim pemilihan adalah peluang bisnis massa yang menjanjikan bagi mereka, kita secara tidak sadar telah dijadikan komoditas politik yang dibayar mahal perkepala, sementara kita hanya bisa menelan uang tak lebih dari Rp. 100.000 an dan mie instan 2 bungkus, beras setengah liter dan telor 1 biji sisanya sticker dan ajakan mencoblos wajah calon.

Beginilah wujud kongkrit dari budaya politik masyarakat kita, para politikus yang mengaku bersih dan anti money politik itu ternyata memang berperan aktif dalam memelihara budaya money politik. Begitulah para actor politik itu bermain, mereka tetap ingin dipandang bersih meski sebenarnya lebih kotor dari kotoran apapun.

Keberadaan mahasiswa dikota serang tidak banyak membantu, kebanyakan dari mereka menolak berpartisipasi dalam ranah politik praktis dengan alasan idealisme. Tentu saya tidak menyalahkan hal ini, mungkin ini adalah bagian dari prinsip. Akan tetapi tidak sedikit juga mahasiswa yang terlibat, mereka tidak memposisikan diri sebagai pemberi “pencerahan politik” terhadap masyarakat melainkan ikut mengkampanyekan calon pendukungnya. Hal ini juga bukan bagian dari kesalahan, hanya sedikit disayangkan, posisinya yang dipercaya sebagai symbol perubahan, symbol perlawanan dan symbol control sosial malahan berbalik menjadi antek.

Sebetulnya mahasiswa bisa terlibat dalam kontes politik di kota Serang dan diwilayah manapun, mereka bisa membantu KPU dan bawaslu dalam mensosialisasikan politik bersih, mengajak masyarakat untuk menolak politik uang, mengajarkan cara mencoblos kartu suara, atau juga bisa melaporkan kepada Bawaslu segala macam bentuk kampanye yang dinilai melanggar aturan, atau setidaknya menulis pandangan – pandangannya tentang riuh politik di kota Serang, tapi itu dilakukan jika tidak menganggu aktivitas kuliah. Tentu saja.

You might also like
Comments
Loading...