Aspirasi Mahasiswa

Ada apa dengan 17 November?

Kita dipaksa untuk nostalgia kembali mengenang sebuah peristiwa era fasis berjaya tahun 1939. Dimana semua universitas ditutup dan pembunuhan pada beberapa mahasiswa oleh Reichsprotektor Ceko (semacam perwakilan nazi dinegara boneka Bohemia dan Moravia). Inilah yang kemudian pada 17 November 1989 oleh sekitar 150 orang mahasiswa memperingati tragedi ini di Cekoslavakia yang sekarang dikenal dengan sebutan “Hari Pelajar Internasional”.
Peristiwa ini mengingatkan kita bagaimana untuk menghirup udara bebas dari buah demokrasi itu sangat sulit. Menghancurkan semua universitas mengindikasikan bahwa kebebasan mendapatkan pendidikan yang layak tidak diperbolehkan, dan kebebasan mendapatkan hak hidup bagi mahasiswa yang kala itu dibunuh adalah bentuk tidak berprikemanusiaannya seorang penguasa, dan bobroknya sistem kapitalisme yang dengan rakus menguasai semua aset bangsa serta memonopoli semua jalannya ekonomi membuat semua rakyat menderita.
Isue pendidikan memang selalu sentral. Karena maju mundurnya suatu negara koncinya ada pada pendidikan. Ketika konci majunya negara ini di batasi dan dihalang-halangi, dijadikan ladang bisnisnya ala noeliberalis, mahalnya biaya serta lain lain ini tidak ada bedanya dengan tragedi kelam pada masa dahulu. Bedanya, jika dahulu dihalang-halangi secara frontal jika sekarang lewat jalur politik yang tak kasat mata. Ini pula yang terjadi di negara indonesia yang kian hari akibat mahalnya biaya pendidikan membuat banyak anak anak tidak bisa mengenyam pendidikan secara layak dan harus meminta-minta dijalanan, ngamen, mulung, jadi anak jalanan dan sebagainya.

Tingkat anak yang tidak sekolah makin tahun makin meningkat, berkali kali penguasa silih berganti tidak membuat nya pencerdasan bangsa sebagai cita-cita tidak pernah terwujud. Pembodohan melalui pendidikan ini membuat ketakutan tersendiri bagi bangsa akan dibawa kemana sesungguhnya indonesia jika selalu disetir oleh orang – orang yang selalu gila kekuasaan dan mementingkan perut nya sendiri serta golongannya saja. Entahlah, yang jelas setibanya orde baru yang diktator itu berkuasa, menjadikannya pendidikan indonesia harus di ikutsertakan dengan World Trade Organization (WTO) sejak tahun 1995. Organisasi ini adalah organisasi dunia yang sengaja dibentuk oleh PBB yang tujuannya untuk mengatur tata perdagangan barang, jasa dan atau hak atas kepemilikan intelektual yang terkait dengan perdagangan.

Ini adalah bentuk liberalisasi ekonomi yang untuk memuluskan jalan ini, maka jalur pendidikan harus dihancurkan dengan cara di lonjakkan biayanya. Akibatnya anak bangsa bodoh, tidak tahu menahu tentang hal ini, dan mudah dikendalikan oleh penguasa. Namun semua liberalisasi ekonomi yang berdampak buruk bagi pendidikan ini membuat para pelajar, hususnya mahasiswa tidak tinggal diam. Karena biaya pendidikan yang mahal adalah musuh bersama bagi rakyat kecil, para pelajar dan elemen-elemen yang bener- benar memperhatikan akan hal ini dan lain sebagainya.

Desas desus aksi massa pun terjadi di seluruh kampus, tujuannya agar penguasa dan elemen tataran pemerintah bisa mendengarkan dan tergugah bahwa rakyat kecil yang ada dibawah menderita dan bodoh karena tidak bisa nya mengenyam pendidikan karena mahal.
Dari kesemua itu, jika memang betul semua pihak sadar bahwa pendidikan sangat penting, maka jalan utamanya adalah turunkan biaya pendidikan dan pembebeasan wajib belajar selama 12 tahun.

Comments
Loading...