Aspirasi Mahasiswa

Bisnis dadakan TIMSES dan Budaya Money Politrik.

Mungkin dulu istilah money politik tidak sepopuler hari ini, hingga akhirnya mayoritas kader partai politik mempopulerkan dan memaksa masyarakat untuk terbiasa dengan suap-suap senyap sebelum pemilu, ya, inilah istilah yang hari ini kita sebut dengan money politik. Secara bahasa mungkin semua orang tau istilah money dan politik, namun secara hakikat saya rasa tidak semuanya mengerti apa sebenarnya money politik, saya juga gak tau apaan itu.
Karna strategi yang disusun murni berorientasi pada kemenangan, maka cara apapun dilakukan, termasuk dengan menghilangkan nyawa lawan atau menggelontorkan isu-isu miring hingga jalan terkahir dengan menyuap seluruh kelompok masyarakat dengan recehan atau bungkusan mie instan dan kopi hitam. kemudian berdampak pada kebiasaan menerima suap lalu secara cepat dan sistematis terciptalah sebuah budaya baru yang merusak demokrasi yaitu money politik.
Jika ini menjadi budaya, maka sulit bagi siapapun untuk melenyapkan suatu budaya kecuali dengan memberantas para pelaku dan alat budaya tersebut. dan sayangnya, yang mampu meberantas budaya ini adalah kelompok – kelompok yang dulunya turut serta membangun budaya money politik, seperti partai dan politikus.

Elemen masyarakat pendorong money politik terkuat selain partai dan politikus adalah Tim sukses pasangan calon yang akan maju, bahkan strategi yang mereka terapkan lebih apik daripada strategi partai. Timses ini memang bukan politikus, dan kebanyakan dari mereka hanya baru lagi belajar berpolitik, namun pola gerak dan strateginya jauh lebih membahayakan dan mengancam demokrasi. tidak jarang kita jumpai beberapa orang yang mengaku siap dan mampu mengorganisir masa dari masyarakat atau mungkin RT RW setempat dengan syarat “Harga perkepala”. Tidak penting apa partainya, siapa orangnya dan tidak penting pula bagaimana track recordnya bahkan mantan seorang koruptor pun (Koruptor gak ada istilah mantan) jika memang dia mampu memberikan harga yang lebih tinggi daripada calon lainnya, maka apa dan bagaimanapun akan dilaksanakan hingga akhirnya harus menggunakan uang untuk mengajak masyarakat memilih.
Masyarakat sebagai objek menjadi komoditas pasar paling menarik dan berharga, hingga bisnis sampingan (Timses) pun menjadi sebuah kesempatan paling bagus untuk mengisi waktu luang mencari uang musiman. hingga akhirnya pesta rakyat selalu diidentikan dengan bagi – bagi uang, mie instan, amplop kerempeng, ramah tamah iseng, dan munculnya beragam foto selfie calon yang sok ngartis sok bijak dan sok sok an.
Jika budaya money politik dan politik transaksional dibiarkan dan diwajarkan, maka sampai demokrasi ini hancur dan berganti menjadi MONARKY (Bukan merek kaos oblong), kita sebagai rakyat yang hidup di negara tidak akan pernah merasakan kesejahteraan, tidak akan pernah sampai pada cita-cita yang ditulis oleh mendiang kakek saya dalam UUD.
Lalu, apakah kehendak alam bahwa demokrasi memag identik dengan money politik, suap, kolusi dan korupsi? Tidak dan bukan. tapi ini kehendak orang – orang yang rakus dan mementingkan harta, tahta, wanita, waria, wirog dan wah bisa apa aja. Jadi, apakah budaya money politik ini bisa dihancurkan? bisa saja, namun agak sulit, tapi kita bisa melawan atau mungkin menolaknya dengan cara paling mudah dan simpel “Ambil uangnya, coblos semuanya” atau “Ambil uangnya, jangan coblos orangnya”. Tapi yah kita ini didik oleh agama yang asih, jadi kalo dikasih duit terus gak milih ya gak enak. Jangan pikirin soal enak gak enak, ini bukan soal siapa yang enak dan siapa yang gak enak, tapi ini soalnya penggadaian kesejahteraan, bahwa sekali saja kita menerima suap lalu kemudian memilih penyuap, maka artinya kesejahteraan kita dan orang – orang yang kita sayang digadaikan kepada penyuap, ya paling sebentar 5 tahun. mau lo? kalo gua si gimana yah -_-
Jadi mulai dari hari ini, sampaikan pada orang tua kita bahwa menerima suap itu HARAM (Eh, mereka udah tau kali ya). oke bilang saja pada mereka bahwa yang melakukan suap agar dipilih adalah membeli kesejahteraan (eh mereka mana ngerti ya). Oke bilang saja kalo ada yang ngasih duit terus suruh nyoblos, coblos aja semua yang ngasihnya. atau bilang aja “Ambil uangnya, Coblos aja semuanya” eh sesat nih. maap maap -_-

You might also like
Comments
Loading...