Aspirasi Mahasiswa

Bung Karno, Dinamisnya Islam Terhadap Demokrasi

              Dalam buku yang pernah di tulis bung karno ia pernah menuliskan judulnya tentang “saya kurang dinamis” dalam maksudnya itu bahwa dari rakyatnya yaitu Indonesia membicarakan bahwa ia terlalu dinamis tetapi bung karno menjawab berbeda dari perkataan rakyat Indonesia dengan menjawab “jika rakyat Indonesia membicarakan ku kurang dinamis maka aku akan menjawab aku belum dinamis lagi” seperti itu miripnya perkataan yang dijawab oleh bung karno.

            Dalam buku tersebut ia sedikit berbicara tentang demokrasi, ia berfikir rakyatnya yang mayoritas umat muslim, yang ia fikir takut bahwa rakyat Indonesia dengan mayoritas umat muslim, mereka malah ingin berkuasa dengan menyatukan agama dan Negara tetapi di Indonesia sendiri bukan hanya agama islam yang terdapat dari badan bangsa singkat perkataan, masih ada agama lain di Indonesia yang ingin hidup damai bersama walaupun itu beda keyakinan, jika umat muslim memaksakan Negara dan agama maka itu hal yang maha sulit akan timbul kedzoliman yang ada , menurutnya dengan memaksakan mereka untuk menuruti kemauan umat muslim dengan cara berdiktator itu sangat kejam, bukankah sudah lama kita menantikan hidup damai dan sejahtera terlepas dari penjajahan? Sekarang bukan era nya zaman dahulu, tetapi sekarang era modern, yang dimana manusia sekarang bukanlah orang bodoh yang dibodohi oleh orang.

            Bung karno khawatir berfikir jika soal ini hanya dibicarakan oleh ahli agama saja tetapi tidak dalam ahli Negara. Ia mengajak semua rakyat berfikir untuk memecahkan masalah ini dengan tidak main dictator-diktatoran dan tidak mengucapkan selamat tinggal kepada orang-orang selain ulama islam, di zaman Sultan Turki tidak mengenal demokrasi, maka dari itu Turki mudah untuk mempersatukan agama dan Negara, bung karno mengetahui bahwa “rakyatnya sangat memihak kepada demokrasi dan mereka membenci kepada sistem diktatoris dan zalim, ataukah salahkah saya?” Tanya nya dalam buku tersebut, tetapi jika memang kalian memihak demokrasi, maka pakailah demokrasi itu, dan ercayalah kepada demokrasi itu.

            Berfikir menyatukan agama dan Negara adalah suatu hal yang sulit, bukankah demokrasi yang menciptakan kedamaian dengan dengan undang undang Negara bukan mekasakan umat lain dengan undang undang dasar islam, hukum adalah hukum-hukum islam, umat muslim seharusnya mempunyai palu godam untuk memukul meja demi menambahnya lantangan suara sehingga pendengar merasa takut, tetapi bukan dengan cara memaksa atau dictator. Menurut kehendak azas demokrasi,  mengadakan satu badan perwakilan rakyat, dimana perwakilan tersebut terdapat dari berbagai umat, umat Kristen, umat Islam, umat yang tak beragama. Umat muslim harus berfikir secara meluas jika memang ingin mempunyai undang-undang tidak memelihara babi, ataupun minuman alcohol dan sebagainya yang dilarang oleh islam, maka kalian harus memperbanyak suara dalam pintu badan perwakilan rakyat, gebrak lah gedung disana dengan memperbanyak orang-orang yang tidak menyukai memelihara babi dan tidak minum alcohol, buatlah propaganda sehebat mungkin dengan mengajak orang-orang tersebut dan mereka akan mengambil orang-orang sama seperti kalian untuk menduduki badan perwakilan rakyat sehingga suara kalian bisa tercapai, maka orang-orang luar negri akan melihat kalian bahwa Negara Indonesia hidup akan islamnya, jiwa islamnya, ruh islamnya. Tetapi dengan sistem memisahkan agama dan Negara, sungguh hebatkah bukan begitu umat muslim dengan berfikir secara luas. Tidak usah berkecil hati dengan tanggungan nya demokrasi itu yang terpisah dari Negara dan agama, didalam undang-undang dasar nya tidak menutup pintu kepada badan perwakilan rakyat untuk mengambil undang-undang yang setuju dengan syari’at islam.

            Renungkanlah perkataan bung karno yang sudah ia tulis untuk rakyat Indonesia, inilah menurutnya cita-cita islam dengan bahwa “Negara harus bersatu dengan agama” Negara bisa bersatu dengan agama meskipun azas konstitusinya ia memisah dari agama.

            Rakyat yang tidak bisa mencapai cita-cita islamnya dengan perjuangan dan kehebatannya sendiri di era demokrasi modern ini adalah rakyat yang tidak mampu membanjiri badan perwakilannya dengan utusan-utusan Islam, menurutnya ia mempunyai getaran jiwa yang dikatakan dinamis itu belum lah boleh menerima “Rakyat Islam” yang sejati, rakyat yang demikian itu memberikan dirinya bukti bahwa Islamnya hanyalah Islam kulit belaka, keagamaan nya hanyalah keagamaan sana-sini belaka, bung karno lebih baik menjadi satu kambing hitam yang secara “dinamis” selalu menggembor-gembor dan membuat onar dan membongkar kebekuan rakyatnya itu. Agar ia bangun dan menjadi dinamis pula, dari pada manggut-manggut saja menyetujui anggapan kuno dengan tidak sesuai dengan dinamisnya roh Islam yang berkobar!, Bung karno lebih menyukai mengajak rakyat itu secara laki-laki menerima demokrasi modern yang memisah dari agama dari Negara menumpahkan segenap jiwa-raganya di dalam kan­cah pengolahan dan bengkel penggemblengannya perjuangan, agar supaya segala putusan-putusannya badan-perwakilan itu menjadilah putusan-­putusan yang setuju dengan kehendak Islam! Jiwa bung karno yang dikatakan rakayat dinamis tersebut itu ikut mengover lah tantangannya  demokrasi modern itu, dan berserulah, banjirilah badan perwakilan rakyat itu dengan utusan-utusan islam, kalau memang engkau rakyat Islam! Dengan tegas ia menulisnya.

You might also like
Comments
Loading...