Aspirasi Mahasiswa

Dipenjara Tanpa Bui

Dipenjara Tanpa Bui

Penulis   : sayapkiri

kita manusia hidup di alam ini berada pada dua kesadaran: kesadaran fisik dan psikis. Fisik kita dengan berbagai keterbatasan dalam berpengalaman, seperti pengalaman jatuh yang hanya dari atas ke bawah—bukan dari bawah ke atas, terjedot tembok, dan juga fisik kita terbatas dalam hal ketahanan dan kekuatan, ada batasan saat kita berlari yang pasti kita akan terhenti karena kelelahan dan batas akhir adalah fisik kita akan habis terurai oleh bakteri dan parasit-parasit pengurai ketika jantung sudah tak berdetak; oksigen sudah tidak beredar di darah dan otak; tak ada pemompa darah ke seluruh tubuh: matilah fisik kita. Itulah alam fisik.

Psikis? Kenangan, berpikir, dan berimajinasi; inilah kemampuan di alam psikis. Mengenang sesuatu, memikirkan rumusan baru, mengimajinasikan hal yang belum ada merupakan hak kita sebagai manusia, dan menjadi pertanggung-jawaban oleh dan untuk diri masing-masing, bukan orang lain.

Adakah satu manusia di muka bumi ini yang mampu membuktikan bahwa aku—penulis tulisan ini, kau—pembaca tulisan ini, dan seluruh umat manusia di bumi memiliki keterbatasan dalam mengingat-mengenang momen indah, keterbatasan dalam berpikir memecahkan suatu masalah, dan memiliki limit dalam mengimajinasikan sesuatu yang tidak pernah kita temukan seperti malaikat? Adakah keterbatasan dalam alam psikis?

Semua manusia melekat dua kesadaran tersebut, tak bisa dibantahkan, tak bisa ditolak, tak bisa menghindari. Karena fisik manusia dapat berbenturan, dapat saling tabrak, dan ada kemungkinan fisik manusia lain sengaja dilayangkan menuju fisik manusia lainnya; entah untuk menyakiti atau menikmati secara satu arah, untuk menghindari kemungkinan tersebutlah maka dari di dalam sistem kehidupan sosial kita diterapkan sanksi, seperti hukuman PENJARA bahkan ke-mati-an. Ada dua tujuan sederhana,

pertama: mengancam; upaya untuk mencegah terjadinya hal-hal saling menyakiti atau menikmati, dan

kedua: mengajar; memberi hukuman sebagai bentuk penyadaran bahwa segala sesuatu hal yang dilakukan harus mampu dipertanggungjawabkan, semua ada bayarannya.

Ini semua karena alam fisik manusia terbatas, memberi sekat tembok dan jeruji secara logika memang efektif membatasi manusia-manusia yang kurang bijak dalam menggunakan kemampuan fisiknya, karena fisik manusia memang terbatas dalam berbagai hal, terutama memiliki batasan dalam membenturkan diri dengan benda-benda semacam tembok dan jeruji: PENJARA.

Tapi apakah manusia dapat disalahkan dalam menggunakan kesadaran alam psikisnya? Apakah manusia dapat dikatakan bersalah karena mengingat dan menyimpan memori-memori menyenangkan? Salahkah kita bila mengenang sesuatu hal yang romans? Mengganggu orang lainkah apabila kita memiliki wawasan luas, tahu ini-itu? Melanggar aturankah bila kita dapat menemukan teori hitung baru untuk merumuskan seberapa luas alam raya ini? Salahkah bila aku mengimajinasikan bahwa 25 Desember bukan hari kelahiran Yesus Kristusku? Salahkah kalian bila mengimajinasikan adanya Nirvana/Nirwana? Salahkah kita bila mengimpikan dapat berada di sisi sang Khalik?

Melanggar aturankah bila Soe Hok Gie pada era Orde Lama mengimpikan etnis China menjadi berbaur dan melebur di Nusantara dan hidup dengan budaya Indonesia? Salahkah John Lennon mengidamkan dunia yang satu tanpa membeda-bedakan cara ibadah dan menyembah serta membayangkan Tuhan itu satu? Salahkah Karl Marx yang berpegangan pada idenya bahwa beragama serta ber-Tuhan tidak bisa dicampur-adukan dalam hal ber-Negara? Atau salahkah kaum-kaum ideologi Komunis mengimpikan tatanan dunia dengan sama rata dan sama rasa dalam kehidupan sosial?

Salahkah bila aku berpendapat bahwa PANCASILA taraf pemikirannya berada jauh di atas ideologi agama Islam; Ortodoks; Yahudi, serta jauh lebih mengedepankan prinsip sosialis dengan asas sama rata sama rasa daripada Komunis/Marxis sendiri, jauh lebih mulia dari ideologi apapun di muka bumi?

Aku pun berpikir, bila Komunis/Marxis serta PKI dianggap berbahaya dan mengancam keamanan Negaraku Indonesia karena prinsip sosialisnya (seperti tertuang dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana pasal 107 a, b, c, d, e, f dan 108) bukankah itu sama saja melecehkan PANCASILA; karena sila kelima jelas berbunyi: “Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia”, bukankah bunyi sila ini jauh lebih mulia dibanding prinsip sederhana sosialis? Jelas prinsip sosialis bukan apa-apa bila dihadapkan dengan Pancasila. Tapi aku pun berpikir, kenapa Negaraku mengutuk pemikiran Komunis? Pancasila jauh di atas Komunis, bukankah terlalu hina dan kotor bila Kitab Undang-undang kita yang menjadikan Pancasila sebagai dasar pemikiran namun secara jelas dan gambalang menyebut Komunis/Marxisme-Leninisme di dalam poin perpoin aturan?

Aku berpikir bahwa PANCASILA-ku terlalu hina dan kotor untuk dijadikan dasar untuk melarang pemikiran cetek, pemikiran rendah si Marx-Lenin!

Pemikiran PANCASILA jauh di atas pemikiran KARL MARX-ENGELS! Jauh lebih berkelas dibandingkan pemikiran cetek LENIN!

Ini bukan soal perkara anggapan bahwa Karl Marx-Engels, Lenin, John Lennon serta Friedrich Nietzsche dan Adolf Hitler yang mengesampingkan Tuhan dalam berkehidupan dan juga berpikir, bukan ranahku manusia untuk memberi penilaian terhadap ke-Tuhanan mereka, tapi ini soal PANCASILA yang jauh lebih maju; jauh lebih beradab; jauh lebih manusiawi; jauh lebih mengedapankan sama rata dan rasa; jauh lebih tinggi dibanding pemikiran rendah mereka semua, sehingga tak ada alasan apa pun dalam Undang-undang harus sampai menyebutkan dan mencantumkan nama mereka serta ideologi-aliran pemikirannya di dalam Undang-undang Negara ini, karena dasar Negara yang dijadikan acuan pembuatan Undang-undang terlalu mulia dan hina sampai harus takut dengan pemikiran [dangkal] mereka akan menjadi kejahatan terhadap keamanan Negara kita.

Pancasila tidak semurahan itu, Pancasila tidak sehina itu, Pancasila tidak girly dan penakut seperti itu, ideologi Pancasila adalah rahim keberanian; rahim kebenaran. Pancasila ada bukan untuk membatasi alam psikis masing-masing kita individual, karena kenangan; pikiran dan imajinasi di kepala kita adalah hak kita, dan menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing, bahkan Negara tidak berhak ikut campur dan membatasi.

Memang pemikiran Pancasila tidak bisa melahirkan surga dan menghadirkannya ke dalam bumi Nusantara ini, tapi setidaknya Pancasila sebagai ideologi dapat mencegah lahirnya Neraka di muka bumi.

You might also like
Comments
Loading...