Aspirasi Mahasiswa

Indonesia Darurat Konflik Agraria

Oleh : Samsul Ma’arif

Indonesia adalah salah satu jajahan kaum imprealisme Belanda yang terlalu lama dan karna inilah maka dampak yang ditinggalkannya pun tidak hilang sampai saat ini. Kendatipun mereka (Kolonial Belanda) telah pergi dari bumi pertiwi, namun langkah dan  kebijakan yang mereka terapkan dulu hingga kini masih digunakan oleh sebagian kalangan  penguasa di pemerintahan. Masalah agrarian misalnya, di Indonesia sendiri masalah agraria dari dulu sampai sekarang belum bisa diselesaikan dengan baik oleh aparatur Negara. Negara yang seharusnya menggunakan lahan pertanian tersebut untuk memenuhi kepentingan kesejahteraan warga negaranya namun faktanya disalah gunakan hanya untuk kepentingan kelompok elite dan feodal. Lantas apa perbedaan antara sekarang dengan beberapa abad yang lalu? kemerdekaan yang diagung – agungkan ternyata hanya sebatas nama belaka namun  faktanya rakyat masih merasakan kegelisahan dan penindasan oleh penguasa ditanahnya sendiri layaknya pada zaman penjajah dulu. Sudah cukup keperihan yang dirasa oleh bangsa ini atas penjajahan kolonial yang memaksa para pejuang kita untuk dipaksa bertani di tanah nya sendiri akan tetapi hasilnya dirampas dengan begitu biadabnya dan kini kenyataan pahit tersebutpun terjadi di Negara Indonesia. Rakyat dimana-mana resah karena sumber kehidupan mereka dirampas dengan seenaknya oleh para feodal dengan kedok industry dan lain sebagainya, namun mana buktinya ? hingga saat ini negri kita tak pernah maju dalam sector industri seperti yang sering di gembor-gemborkan oleh penguasa. Rakyat hanya diberi seribu janji dan omong kosong. Namun kebijakan yang seolah pro rakyat tersebut hanya untuk kepentingan kaum elit dan kelompok – kelompok feudal. Maka wajar permasalahan agraria di Indonesia hingga kini tidak bisa diselesaikan.

                Masalah agraria selalu menjadi masalah sentral di negri ini, ika kita mau belajar dari Negara Jepang, mungkin Indonesia akan makmur dengan kesuburan tanah yang dimilikinya, jika hari ini petani di Jepang harus dihormati oleh masyarakat yang disana, kenapa di Indonesia malah sebaliknya, dihinakan dan ditindas begitu saja. Tanah adalah sumber kehidupan yang nyata dan manfaatnya jelas banyak di rasakan oleh banyak orang. Jika dilarikan pada sector pertanian, berapa ribu rakyat China harus mati mengenaskan akibat sumber kehidupan mereka ditinggalkan dan memilih lari kepada sektor industry, berjatuhan layaknya laron di lampu patromak dimalam hari akibat kelaparan karena kekurangan bahan pangan. Penguasa terlalu bernafsu bahwa kebijakan jangka panjang mereka akan membawakan hasil yg memuaskan namun ternyata semuanya sia sia dan nihil. Yah.. sepertinya memang kita harus banyak belajar dari Jepang, mengapa disana para petani dihormati dan di istimewakan?  karena mereka sadar lahan pertanian adalah nyawa bagi kehidupan mereka, menurut mereka tidak ada lahan agraria artinya kematian dan kehancuran. Dan perlu kita sadari bersama bahwa turun nya Adam kemuka bumipun untuk menjaga dan melestarikannya, untuk tidak mencemari dan tidak merusaknya. Pada saat ini seolah penguasa dan kaum feodal itu telah menyalahi fitrah bapak moyang nya sendiri, dan ini saya kira akan berdampak buruk bagi kelangsungan hidup manusia seperti yang telah terjadi di Negara cina yang saya sedikit saya gambarkan diawal tadi. Lantas akan bergantung kepada siapa lagi kita jika sumber kehidupan tersebut telah di alihkan pada sector perusahaan dan industri .

                Berangkat dari keresahan dan kegelisahan masyarakat terkait dengan masalah tersebut, kawan – kawan mahasiswa mencoba menghadirkan beberapa tokoh aktifis yang berkecimpung dalam pengamatan konflik agraria seperti Ahmad rifai dari ketua umum KPP STN, Raden elang yayan (Kontras) dan Rudi Tagaroa (Aktifis SPI / Serikat Petani Indonesia) juga mahasiswa dari lintas organisasi lainnya  untuk mencoba memecahkan masalah tersebut yang kian hari kian banyak meresahkan rakyat. Bagaimana kita lihat hari ini misalnya,  para petani Jambi dan SAD (Suku Anak Dalam) mencoba merintih  mengadukan nasibnya yang penuh dengan  kemarahan dan kemurkaan, mereka rela berjalan kaki dari jambi sampai istana Negara untuk mengadukan permasalahannya kepada presiden demi memperjuangkan hak mereka yang dirampas. Karena bagi mereka tanahku adalah nyawa ku. Bukan hanya sekali ini saja mereka melakukan pengaduan ini, tiga kali berturut-turut dengan hal yang serupa namun belum membuahkan hasil. Seolah kasus ini di gantung begitu saja. Yah, memang darurat agraria ini bukan saja pada masa sekarang seperti yang saya katakana, namun juga sudah menjadi permasalahan yang bahkan tidak asing terdengar di telinga orang tua kita terdahulu.

Bahkan dulu bapak pendiri bangsa menawarkan kebijakan untuk permasalahan agraria. Pada saat itu Indonesia telah benar-benar ingin menjadi Negara yang mandiri tanpa dikendalikan oleh kaum kapitalis dan feodal, tapi ternyata tidak seperti yang diharapkan, kebijakan tersebut kontradiktif, ditentang oleh sebagian kalangan, akibatnya cita-cita mulia bapak pendiri bangsa, Ir. Soekarno harus hangus dan terabaikan begitu saja.

                Pada saat ini persoalan agraria tidak ada bedanya dengan kasus-kasus lain seperti korupsi dan lain sebagainya, tidak transparan dan cenderung turtutup di publik karena ini hanya untuk kepentingan mereka saja, bukan untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia. Perusahaan dan pabrik korporasi seperti “SINAR MAS DAN BILMAR”  telah banyak berdiri di tanah-tanah pertanian yang akibatnya rakyat harus kehilangan sumber kehidupan dan bahan pangannya. Akibat dari itu semua, bukan saja masyarakat harus kehilangan tempat tinggal dan bahan pangan, tetapi juga mencemari lingkungan hidup karna pembuangan limbah yang kadang tidak sesuai dengan peraturan perundang – undangan.

                Bukan hanya di Provinsi Jambi, tetapi di Banten juga kita sering mendengar permasalahan agraria. Bahkan disetiap daerah di Indonesia masalah agraria ini nampaknya menjadi permasalahan serius. Bagaimana lahan-lahan pertanian telah mengalami penyempitan akibat pemerintah lebih mengedepankan perusahaan, industry dan pabrik-pabrik yang hanya menguntungkan bagi mereka. Untuk melancarkan itu semua maka penguasa tidak saja hanya melibatkan kaum elite namun  juga aparat dan sejumlah keamanan Negara di kerahkan untuk menjamin lancarnya kerjasama tersebut dengan pengusaha, maka dengan begitu semuanya akan aman dan terkendali, kendatipun mahasiswa demonstrasi dimana-mana selalu nihil dan tidak membuahkan hasil. Bukan soal berapa meternya tanah yang mereka rampas namun memang lahan pertanian adalah harga mati untuk kelangsungan hidup manusia. Apa yang akan terjadi jika di Indonesia terjadi ledakan penduduk, tapi lahan pertanian dan sumber pangan itu telah di sempitkan demi pembangun yang hanya menguntungkan segelintir kaum elite.

Sesungguhnya kedok pembangunan dan infrastruktur ini adalah untuk memudahkan akses penguasa dan imperealis dengan segulung kepentingannya. Pembangunan jembatan selat sunda, tol yang akan di bangun di Sumatra, dan tol yang akan di bangun di banten ini untuk mengubungkan akses ke Cibaliung sana tidak lain untuk itulah tujuannya. Dari dulu Negara kita ini memang selalu menjadi boneka bagi kaum imperealis dan penguasa, Selagi menjadi boneka inilah persoalan agraria di Indonesia tidak akan pernah terselesaikan, karena tangan asing yang bermain didalamnaya. Maka saat ini bangsa Indonesia perlu pemimpin yang mandiri yang tidak bergantung kepada kaum foedal dan imperealis. Pemimpin yang bisa adil yang bisa mengendalikan semua, khususnya masalah agraria tersebut dengan mandiri. Seperti kebijakan yang telah dilakukan oleh bapak revolusioner kita Ir. Soekarno.

Akhirnya bangsa Indonesia lagi-lagi harus merasakan keperihan dan duka sama seperti jaman penjajah dulu, para petani, mahasiswa, nelayan dan sebagainya kini marak unjuk rasa meminta hak mereka yang dirampas oleh kaum kapital, antek, imperialis dan feodal. Apakah sesungguhnya Indonesia ini, dengan segudang permasalahan yang tidak bisa di tuntaskan dengan serius. Maka, kekhawatiran kita mungkin saja terjadi seperti kengerian tragedy malari dan kerusuhan dalam negr. Akankah negri ini berujung pada kericuhan yang sama  terjadi sebelum-sebelumnya  karena tangisan dan keresahan mereka tidak juga di dengar oleh para penguasa. Ketidak pekaan penguasa terhadap rakyat yang tertindas menjadikan mahasiswa geram dengan. maka berbicara peka, siapa lagi yang peka jika bukan mahasiswa yang selalu di harapkan ada di garis depan mengawal para rakyat tertindas.

Bukan kata “merdeka” ini yang di harapkan oleh rakyat, yang masih banyak penindasan, kelaparan dan keterlantaran mereka yang dirampas lahannya. Tapi merdeka dalam arti seperti yang di cita-citakan oleh para pendiri bangsa, merdeka dengan sejumlah keadilan tanpa penindasan, mandiri dengan segudang kekayaan yang melimpah ruah di dalam negri  tanpa melibatkan kaum imprealis barat  dan lebih mengutamakan kesejahteraan rakyat, bukan mengutamakan kesejahteraan para penguasa. Itulah sesungguhnya cita- cita negri yang di harapkan oleh para pejuang kita terdahulu.

You might also like
Comments
Loading...