Aspirasi Mahasiswa

Indonesia Krisis Nasionalisme

Oleh : Muhammad Jejen

71 tahun indonesia merdeka, terlepas dari founding father yang membawa bangsa ini keluar dari massa penjajahan yang merenggut banyak darah, seluruh rangkaian mengisahkan perjalanan menuju kemerdekaan, dari penculikan Soekarno hingga di bacakannya teks proklamasi, dari berbagai tokoh yang ingin menuangkan gagasaanya untuk ideologi indonesia dalam rapat tertentu, tidak hanya satu agama, akan tetapi melainkan berbagai agama. Entah dari pendirian NII, Komunisme dan lain sebagainya, di lihat dari kemajemukan bangsa Indonesia,S menolak gagasan tersebut, hingga tertuanglah gagasan Soekarno yaitu ideologi pancasila yang isinya terdiri dari 5 butir, yang kini menjadi falsafah hidup bangsa Indonesia. Namun terlepas dari Pancasila, banyak dari berbagai golongan yang ingin menumbangkanya, seiring perkembangan zaman, dewasa ini muncul golongan-golongan yang ingin memisahkan diri dari indonesia, contoh kecil seperti Aceh, Papua dan lain-lain. Konflik-konflik di tanah air yang marak terjadi dewasa ini erat kaitannya dengan nasionalisme. Nasionalisme tidak lagi tumbuh subur di dalam diri masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda.

Menyaksikan begitu banyak peristiwa yang terjadi di Indonesia, baik itu demonstrasi  411, Ahok sebagai tersangka, isu provokasi rush money, rencana-rencana demo susulan , ancaman dari Papua ingin memisahkan diri dari Indonesia, pernyataan Polri dan TNI akan adanya kemungkinan makar dalam demo 212 serta berbagai berita lainnya yang memilukan dan menghancurkan hati nurani. Mungkin ini adalah  ujian bahwa semua itu terjadi supaya kita menyadari dan melihat multikrisis yang sedang terjadi di Indonesia dan mencari petunjuk Tuhan untuk mengatasinya.

Multikrisis ini terjadi karena adanya para pejabat pemerintah, elit politik, tokoh agama, wakil rakyat dan masyarakat yang masih berusaha mempertahankan sistem korup di Indonesia, mereka juga berupaya membuat rencana dan konspirasi untuk menggulingkan kekuasaan presiden serta mengambil kekayaan di bangsa ini. Beberapa pandangan dari para penulis dan pengamat politik menyampaikan keadaan Indonesia baik-baik saja dan pemerintah menguasai strategi politik, namun tidak dapat di pungkiri, Indonesia berada di ambang perpecahan dan terjerat dalam berbagai krisis dalam tingkat nasional.

Mengambarkan krisis di bangsa ini seperti awan gelap dari langit yang turun menyelimuti seluruh kepulauan di Indonesia. Awan gelap ini begitu pekat dan di dalamnya terdapat pusaran angin serta mengeluarkan kilat dan bunyi guntur yang sangat keras. Pusaran angin, Guntur dan kilat ini sangat mengejutkan, bahkan menggoncang serta menghancurkan rumah penduduk, fasilitas umum, gedung perkantoran, gedung pemerintahan, rumah sakit dan gedung sekolah di beberapa daerah. Saat Tuhan membawa saya untuk melihat lebih jelas, saya melihat di dalam awan gelap tersebut muncul 3 poin tulisan yang menunjukkan 3 krisis yang sedang terjadi di Indonesia, yaitu:

Krisis pemimpin yang nasionalis, berani, jujur, adil, ahli strategi dan bekerja keras untuk kesejahteraan Indonesia.

Inilah keadaan yang terjadi di Indonesia, banyak pemimpin agamis, otoriter, munafik dan egois di pemerintahan dan parpol yang memperjuangkan kepentingan pribadi dan kelompok tertentu. Mereka mengambil kekayaan bangsa ini dan mempertahankan sistem yang korup dengan mengatasnamakan kepentingan agama dan rakyat. Semuanya ini akan tampak semakin jelas seiring berjalannya waktu, mereka akan mengadakan konspirasi dan membuat strategi untuk melawan sistem pemerintahan yang baru yang bersih dari korupsi dengan cara menekan pemimpin nasionalis yang berani, jujur, adil dan bekerja keras bagi kesejahteraan Indonesia sampai puncaknya melengserkan presiden.

Solusinya, para pemimpin yang nasionalis, berani, jujur, adil, ahli strategi dan bekerja keras untuk kesejahteraan Indonesia harus mempersiapkan dan menempatkan generasi pemimpin seperti dirinya untuk berada dalam pemerintahan.

Krisis kepercayaan dari berbagai daerah kepada pemerintah.

Inilah prasangka dan pikiran negatif karena provokasi dari orang-orang yang tidak mendukung pemerintah. Mereka menyebarkan pikiran negatif tentang pemerintah agara masyarakat di daerah-daerah kehilangan kepercayaannya terhadap pemerintah. Pemikiran negatif yang disebarkan antara lain:

a)Pembangunan infrastruktur yang tidak merata (seperti jalan raya, transportasi,dll)

b)  Ketidak-adilan pemerintah dalam memberikan kesempatan yang sama rata kepada agama minoritas di Indonesia untuk menduduki kursi kepemimpinan di pemerintahan.

c) Agama mayoritas yang merasa bahwa pemerintah lambat dalam menindak  Ahok sehingga tidak segera diadili dan penjara. Oleh karena itu mereka kemudian berkonspirasi dengan kelompok organisasi radikal internasional dan ormas-ormas tertentu untuk mempengaruhi masyarakat dan menguasai pemerintahan di Indonesia.

Para koruptor sengaja menghembuskan isu-isu dan perselisihan mengenai SARA untuk melemahkan pemerintah Indonesia. Strategi ini seringkali efektif digunakan oleh para penjajah untuk menguasai masyarakat dan pemerintahan di Indonesia.

Krisis anak bangsa yang nasionalis, jujur, tulus, adil dan mendukung pemerintah.

Inilah keadaan dimana semakin sedikitnya orang-orang di Indonesia yang berjiwa nasionalis dan berideologikan pancasila. Sehingga lebih banyak ideologi-ideologi selain pancasila yang mempengaruhi mereka, seperti hedonisme, radikalisme yang menentang pancasila, egoisme yang bertujuan memperkaya diri sendiri/kelompok tertentu, hingga pemikiran/keinginan untuk mendirikan negara agama yang mana ini tidak sesuai dengan pancasila. Hal inilah yang membuat masyarakat menjadi mudah terprovokasi dan memprovokasi teman-teman serta keluarganya untuk ikut mendukung para pejabat pemerintah, elit politik, tokoh agama, wakil rakyat yang mempertahankan sistem korup di Indonesia dan bahkan membuat mereka rela melakukan aksi demo, teror serta bom bunuh diri.

Dampak dari ketiga krisis ini cepat atau lambat akan melemahkan kinerja dari Presiden Jokowi sehingga menimbulkan goncangan dan tekanan berat bagi masyarakat Indonesia yaitu menghancurkan kesejahteraan masyarakat dalam bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, politik dan pembangunan di Indonesia.

Mencermati isu-isu yang terjadi mungkin imbasnya ingin menjatuhkan persiden, karena kebanyakan aksi dari ormas-ormas tertuju pada persiden,”pepatah mengatakan”seribu kebenaran akan tertutupi oleh satu kesalahan”. Hal ini yang kini terjadi di masa pemerintahan Jokowi, apa yang telah di perbuat untuk menyatukan masyarakat dan untuk mensejahterakan terhalang oleh berbagai golongan yang ingin menumbangkanya. Sehingga dalam hal ini tidak dapat di pungkiri akan terjadinya multikrisis di berbagai daerah terhadap penanaman jiwa nasionalismenya. Kemiskinan menjadi faktor utama yang kini di hadapi oleh bangsa indonesia, dari berbagai penjuru menginginkan kesejahteraan, sehingga menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, karena yang sering terjadi uang rakyat hanya terpusat di tangan pemerintah yang korup.

Adakalanya Nasionalisme berhubungan dengan makan. Logikanya pemerintah menggemborkan untuk mencintai tanah air tetapi masyarakat tidak di beri makan maka kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah akan semakin menurun. Hal ini yang sering terjadi dalam jiwa manusia, karena kesejahteraan yang di dambakan hanya sebatas tertuang dalam mimpi. Jiwa nasionalisme harus diiringi oleh  kedewasaan pemerintah dalam  menghadapi masalah yang sering terjadi, akhir-akhir ini pergantian ideologi dan didorongnya oleh oknum yang ingin menumbangkan pancasila masih terjadi, merambatnya keberbagai lini yang mudah tervropokasi sehingga pemerintah harus penumbangkan ormas-ormas yang ingin mengganti ideologi pancasila.

Harapan-harapan tertuang dalam berbagai aspirasi, Keutuhan NKRI modal awal untuk mensejeahterakan masyarakat, kesatuan harus di jaga dalam bangsa yang majemuk. Maka peran pemerintah untuk menjaga kedaulatan NKRI harus di dasari oleh Ke Bhinekaan dan kesejahteraan harus segera di selesaikan,

You might also like
Comments
Loading...