Aspirasi Mahasiswa

Kompanye bersih

kompanye, itulah yang saat ini terjadi dan gencar dilakukan oleh pihak calon gubernur dengan berbagai cara. mula mulanya ada yang mengitari seluruh kawasan provinsi dengan kompanye damainya, ada yang memberikan bantuan pada rakyatnya, menjanjikan sesuatu, menaiki kendaraan


-kendaraan yang sederhana seraya mengangkatkan tangannya laksana bung karno pada masa dahulu kala, dan lain sebagainya. itu semua bentuk merakyatnya calon pemimpin agar supaya rakyat bisa mengenalnya dan memilihnya. namun, ada yang tragis yang sudah menjadi rahasia umum dikalangan masyarakat yang membuat cedera demokrasi kita yang sudah susah payah dikonsep dengan sedemikian rupa oleh pendiri bangsa yaitu aksi kompanye serangan fajar atau lebih dikenal money politik. ini menjadi celah buruk bagi bangsa ini yang kemudian banyak kalangan mengatakan hal ini sudah membudaya di negri ini. hal ini memang sangat masuk akal untuk rakyat2 kecil karena mereka menggap inilah kesempagannya mendapatkan uang. karena dilain waktu hal serupa tidak akan pernah terjadi. korupsi, ternyata sangat mempengaruhi psikologis rakyat dan membuat truma hingga   rakyat tak lagi mau percaya dengan yang namanya penguasa. hingga pada akhirnya sentilan miringpun dilontarkan “siapapun dia, islam,  baik, wibawa dan lain sebagainya jika jadi penguasa korupsi itu pasti”. maka hal inilah yang menjadi kredo dimasyarakat kita jika saat kompanye calon penguasa tidak memberinya uang tidak akan dipilih. padahal memang tidak semua orang penguasa seperti itu, namun seperti yang saya katakan tadi, peristiwa buruk pernah dilakukan oleh sebagian penguasa memberikan celah nestapa yang membuat luka hati rakyatnya membuat mereka tak percaya dengan penguasa. untuk mengembalikan reputasi penguasa ini agaknya sulit dan perlu waktu yang lama, itupun harus tidak dibarengi dengan celah lainnya. hari ini kita mencoba sedikit belajar dari negara arab. disana tidak ada rusuh dengan penguasa, tidak ada demonstran, korupsi atau yang lainnkompanye, itulah yang saat ini terjadi dan gencar dilakukan oleh pihak calon gubernur dengan berbagai cara. mula mulanya ada yang mengitari seluruh kawasan provinsi dengan kompanye damainya, ada yang memberikan bantuan pada rakyatnya, menjanjikan sesuatu, menaiki kendaraan-kendaraan yang sederhana seraya mengangkatkan tangannya laksana bung karno pada masa dahulu kala, dan lain sebagainya. itu semua bentuk merakyatnya calon pemimpin agar supaya rakyat bisa mengenalnya dan memilihnya. namun, ada yang tragis yang sudah menjadi rahasia umum dikalangan masyarakat yang membuat cedera demokrasi kita yang sudah susah payah dikonsep dengan sedemikian rupa oleh pendiri bangsa, yaitu aksi kompanye serangan fajar atau lebih dikenal dengan sebutan money politik. ini menjadi celah buruk bagi bangsa ini yang kemudian banyak kalangan mengatakan hal ini sudah membudaya di negri ini. hal ini memang sangat masuk akal untuk rakyat-rakyat kecil karena mereka menggap inilah kesempagannya mendapatkan uang, karena dilain waktu hal serupa tidak akan pernah terjadi.  maka dengan budaya ini mau tak mau penguasa pun harus menuruti permainan rakyatnya yang juga penguasa berfikir bahwa hal ini disamakan dengan bisnis yang ada untung ruginya. disinilah timbul masalah yang sekian lama ditangani namun tak pernah usai, yaitu Korupsi.

korupsi, ternyata sangat mempengaruhi psikologis rakyat dan membuat truma hingga   rakyat tak lagi mau percaya dengan yang namanya penguasa. hingga pada akhirnya sentilan miringpun dilontarkan “siapapun dia, islam,  baik, wibawa dan lain sebagainya jika jadi penguasa korupsi itu pasti”. maka hal inilah yang menjadi kredo dimasyarakat kita jika saat kompanye calon penguasa tidak memberinya uang tidak akan dipilih. padahal memang tidak semua orang penguasa seperti itu, namun seperti yang saya katakan tadi, peristiwa buruk pernah dilakukan oleh sebagian penguasa memberikan celah nestapa yang membuat luka hati rakyatnya membuat mereka tak percaya lagi dengan penguasa. entah penguasa atau rakyat yang salah tapi korupsilah yang mengakari ini semua.

untuk mengembalikan reputasi penguasa ini agaknya sulit dan perlu waktu yang lama, itupun harus tidak dibarengi dengan celah lainnya. hari ini kita mencoba sedikit belajar dari negara arab. disana tidak ada rusuh antara warga dengan penguasa, tidak ada demonstran, korupsi atau yang lainnya. kalau kita mau berfikir sejenak mengapa hal demikian terjadi, apakah karena hanya sistem khilafah yang mereka tegakkan, sehingga jika ada aksi massa atau korupsi dipotong tangan, atau misalkan melakukan perzinahan dirajam dan membunuh sesamanya dihukum mati. ternyata tidak hanya terbatas pada sistem saja, tetapi karena disana rakyatnya makmur SEJAHTERA. ya, sejahtera yang membuat mereka tentram dan damai hidup bernegaranya, suhu derajat yang sangat terbalik jika kita bandingman dengan indonesia yang jauh dari kata sejahtera. dari era berdirinya sampai sekarang indonesia masih jauh untuk taraf kata itu. ir. soekarno, bung hatt, m. yamin dan para tokoh bangsa lainnya pun meneriakan hal yang sama, “sejahtera” karena mereka tahu jika indonesia sejahtera tidak akan ada perang saudara, jika makmur rakyatnya tidak akan ada aksi massa, jika sama rasa sama rata rakyatnya tidak ada anak gelandangan tak sekolah dan tak akan lahir lagu tanah juang oleh para mahasiswa. itulah yang seharusnya indonesia punya. kita perlu banyak sosok yang mempunyai SDM yang mumpuni dan banyak sosok yang kreatif dalam memobilisasi jalannya pemerintagan. yang bisa bisa menghapuskan angka kemiskinan atau paling tidak menguranginya. karena kemiskinan inilah yang membuat bangsa tidak nyaman dan tentram. disinilah pemimpin kreatif yang harus berperan, yang majunya tanpa suap suapan uang, yang mempunyai seribu cara untuk penghapusan kemiskinan itu. maka siapapun itu pemimpinnya, selagi dia sesuai dengan amanat undang-undang dan bisa menghantarkan pada kesejahteraan itulah yang perlu dibanggakan dan dipilih. rakyat tidak semuanya selalu ingin uang, jika sang calon tidak memotori itu semua mustahil semua rakyat goolp out. hanya saja memang tidak dipungkiri penguasa itu egois dan mau menang sendiri, tidak berniat membut sejahtera rakyatnya. inilah yang perlu kita pikirkan bersama. namun pada intinya jima korupsi dan tingkat kemiskinan marak terdengar di indonesia sungguhpun indonesia tidak akan pernah sampai pada cita citanya. hendaknya kita harus tahu sejarah bangsa ini, agar kita bisa mengenang dan introspeksi diri bahwa indonesia pernah mempunyai cita-cita mulia yang belum bisa terwujud.

You might also like
Comments
Loading...