Aspirasi Mahasiswa

Minat Baca Mahasiswa UIN Banten Kurang

Sebagai mahasiswa yang sudah cukup tua berkiprah dalam dunia luntang – lantung disekitar kampus UIN Banten, saya banyak mengamati prilaku mahasiswa UIN yang cenderung menjauhi dunia literasi seperti menulis, membaca dan berdiskusi. Kebanyakan dari mereka lebih memilih menjadi mahasiswa kupu-kupu atau mahasiswa organisasi yang kesehariannya dihabiskan oleh urusan rapat dan rapat, entah apa yang dibicarakan, namun saya bisa menebak bahwa kegiatan rapat mereka hanya berkutat pada bahasan persiapan – persiapan kegiatan ceremonial seperti lomba, seminar dan kaderisasi atau mungkin ulangtahun kelas.

Menjamurnya organisasi mahasiswa dalam lingkup ekternal belum mampu menyalurkan budaya membaca dan menulis dikalangan mahasiswa, kebanyakan dari organisasi tersebut lebih memilih untuk menutup diri dalam persoalan kajian, diskusi dan bedah buku. Ormawa external yang dipercaya mampu merubah budaya siswa menjadi mahasiswa rupanya tidak begitu maksimal, entah memang kecendrungan mereka tertutup untuk mahasiswa kupu – kupu atau memang kegiatan – kegiatan literasi tersebut terlalu kuno untuk di ikuti oleh mahasiswa secara luas.

Kurangnya minat baca mahasiswa UIN Banten dapat kita saksikan secara jelas di setiap perpustakaan yang ada disekitar kampus. Ada lebih dari 3 perpustakaan yang dimiliki oleh UIN Banten, namun kebanyakan mahasiswa yang masuk keperpus tersebut bukan untuk membaca melainkan hanya sekedar mengutip untuk keperluan tugas. Pemberian tugas oleh dosen yang dimaksudkan agar mahasiswa bermain keperpus ternyata memang berhasil, namun sayangnya, setelah mereka didalam perpus, yang mereka lakukan adalah menumpang wifi gratis sambil mencari segala macam buku, lalu dikumpulkannya jadi satu diatas meja kemudian dicek satu persatu daftar isi buku tersebut. Jika tidak ada subjudul dalam daftar isi tersebut yang tidak ada kaitannya dengan bahasan tugas, maka buku tersebut tidak akan disentuh lagi kecuali ada tugas berikutnya.

Memang tidak begitu masalah jika minat mahasiswa bukan pada membaca atau menulis, namun akan jadi masalah jika kita menolak membaca hanya karna alasan tidak minat baca. Jika sebanyak 6000 mahasiswa UIN Banten dan 1000 nya adalah mahasiswa yang suka membaca, maka budaya membaca dilingkungan kampus sedikitnya akan hidup, namun jika dari 6000 mahasiswa tersebut yang suka membaca hanya segelintir mahasiswa saja, maka UIN Banten tidak akan pernah meluluskan para pemikir-pemikir cerdas dan kritis tetapi hanya sekedar meluluskan sarjana – sarjana penadah lowongan pekerjaan seperti angkatan – angakatan sebelumnya.

Sejak 2011 hingga 2017, saya hampir tidak pernah menemukan mahasiswa dilingkungan kampus UIN Banten yang sedang memabaca buku, kebanyakan dari mereka asik dengan smartphonnya sendiri. Tidak pernah menjumpai mahasiswa yang duduk dihalte dan baca buku, atau dikantin baca buku, atau didepan kelas baca buku, hampir tidak pernah. Berbeda dengan kampus – kampus lain seperti UI, UGM, disetiap lorong dan tempat duduk, kita hampir selalu melihat mahasiswa membaca buku atau paling tidak buku mereka diluar tas bukan didalam tas. Di UIN Banten juga ada banyak mahasiswa yang bukunya diluar tas, tapi itu majalan MLM Shopie M, atau mungkin Oriflame

Yang dikhawatirkan untuk masalah ini adalah, jika ada mahasiswa baru kebetulan dia adalah seorang kutu buku, sementara lingkungan kampus tidak mendukung keberadaan kutu buku, maka sikutu buku lama kelamaan akan berubah menjadi kutukampus seperti saya. Malu membaca buku ditempat umum sebab khawatir ada nada cacian dan hinaan dari mahasiswa sekitar, entah dibilang sok lah, atau dibilang sombong, pamer atau apalah, kita sudah hafal watak – watak iri orang Indonesia.

Keberadaan organisasi mahasiswa yang pernah menyelenggarakan kegiatan bedah buku masih terhitung jari, dan peserta yang hadir dalam kegiatan bedah buku tersebutpun sama, masih terhitung jari. Entah karna kebanyakan mahasiswa malu untuk menghadiri dan ikut berpartisipasi atau mungkin kegiatan bedah buku dinilai kegiatan yang menghabiskan waktu? Omagat. Padahal, promosi dan sosialisai yang dilakukan saya rasa sudah maksimal, namun kebanyakan mahasiswa menolak hadir, entah juga karna tidak ada sertifikat sama nasi kotaknya, atau mungkin tempat bedah bukunya yang terlalu kumuh, seperti parkiran.

Terlebih dikampus UIN Banten belum ada sebuah komunitas gerakan yang focus pada gerakan membaca, kebanyakan oramawa tersebut lebih focus pada persoalan politik primordial dan nasional. Mungkin ada beberapa organisasi mahasiswa yang terlihat sering menjejerkan buku – buku di depan mesjid, itupun hanya ada satu dan jarang terlihat, biasanya dia hanya akan menjejerkan buku-bukunya kalau ada hajat rekrutmen anggota baru.

Jika ada mahasiswa yang mengatakan bahwa ini bukan kampus baca, ini adalah kampus pergerakan, maka bagaimana mereka melakukan pergeraka jika tidak disertai dengan membaca, jangan bilang kalau gerakan tersebut ternyata milik para penggembala atau para senior – senior yang haus kekuasaan diring-ring politik yang tidak perlu dikaji atau dibaca terlebih dahulu instruksinya.

Ini memang bukan persoalan yang serius, ini hanya hal sepele, se sepele ijazah S1 yang tidak ada harganya dimata para korporat dan sesepele skripsi yang dimuseumkan oleh lembaga. Tapi perlu dicatat, bahwa lulusan – lulusan terbaik dan tidak disepelekan adalah mahasiswa – mahasiswa yang gemar membaca, menulis, berdiskusi dan tentu saja pernah berdemonstrasi meskipun hanya sekedar menolak UKT BKT

Walau bagaimanapun, saya berani mengatakan bahwa budaya membaca dilingkungan UIN Banten masih belum terbentuk, ini tentu saja bukan tanggung jawab saya, kamu, atau ormawa manapun, tapi ini tanggung jawab kita semua yang mengaku sadar dan mengaku mahasiswa. Maka dari itu, mari membaca, bisa dimulai dengan membaca opini saya

(Kang Fae – Masih Mahasiswa)

You might also like
Comments
Loading...