Aspirasi Mahasiswa

Otak kita bukan Tong Sampah yang menunggu untuk di isi

Pikiran anda adalah api yang perlu dinyalakan bukan tong sampah yang menunggu untuk diisi (Dorothe Brande)

Ini adalah satu dari ratusan kata-kata bijak dan bajik yang ucapkan oleh Dorothe Brande yang menurut saya sangat benar. Kita ketahui bersama bahwa hampir dari mayoritas orang didunia menggunakan dan menganggap fikirannya itu sebuah tempat yang kosong, seperti gelas kosong, tong sampah kosong dan semua benda yang kosong-kosong. Kita bisa memperhatikan kenyataan ini melalui sebuah proses belajar mengajar antara murid dan guru, mahasiswa dan dosen atau yang lain.

Memang ada yang mengatakan bahwa jika kita menuntut ilmu, baiknya pergunakan otak dan fikiran itu seperti gelas kosong yang kemudian nanti akan diisi oleh ilmu dan pengetahuan yang baru untuk menambahkan pengetahuan yang sudah ada. Sedikit saya coba gambarkan bagaimana gambaran gelas berisi yang dikosongan kemudian diisi kembali, jika isi dalam gelas itu adalah air, maka kita perlu mengeluarkan air tersebut dari dalam gelas demi mendapatkan air baru dari tempat selain gelas, nah, dikemanakan air yang tadi dikeluarkan? Kalo bukan dipindahakan kegelas yang lain? Atau mungkin dibuang dan tidak digunakan samasekali?, menurut saya tidak dibuang tapi dipindahkan ketempat lain kemudian tidak digunakan ketika proses pengambilan air baru, maka yang terjadi adalah semua jenis air akan masuk kedalam gelas tanpa disaring oleh isi yang ada dalam gelas kita tadi. Maka doktrin inilah yang menyebabkan generasi siswa/i pemuda/i yang begitu mudah menerima pengetahuan baru mentah –  mentah  tanpa disertai dengan sikap kritis. Dan bagi saya kritis terhadap segala sesuatu itu penting.

Generasi yang dihasilkan dari doktrin gelas kosong adalah mereka yang mudah menerima hal – hal baru kemudian tidak tau positif dan negativnya hal –  hal tersebut, mereka generasi merunduk terhadap doktrin dan kata-kata kaum tua meskipun kata-kata itu jelas salah, juga meraka para plagiator.

Perhatikan mereka yang mengunakan fikirannya sebagai gelas kosong, cenderung diam dan manut, tidak bisa menyampaikan argumentnya didepan buku-buku dan para guru, tidak bisa menyampaikan sikap kritisnya terhadap pengetahuan yang baru, dan tentunya susah diajak diskusi. Tapi bagi mereka yang menganggap dan menggunakan otak dan fikirannya sebagai api yang perlu dinyalakan, maka sikap kritis terhadap pengetahuan baru akan slalu ada, argument pribadinya akan slalu disampaikan tanpa rasa takut salah karna dalam fikiranya hanya ada satu kata, yaitu “sampaikan” meskipun dimentahkan, tidak peduli seperti apa pemikiran buku-buku dan mereka, yang penting pemikiran pribadinya tersampaikan, tidak peduli meski dipandang soktau.

Dan hasilnya bisa kita saksikan secara nyata, bahwa mereka yang mempunyai sikap kritis terhadap segala hal akan jauh lebih berada didepan, mengusai kelas, forum, bahkan pemerintahan. Maka mulai dari sekarang, gunakan fikiran kita seperti api yang perlu dinyalakan, bukan tong sampah yang menunggu untuk di isi, kemudian setelah terisi penuh dibuang.

You might also like
Comments
Loading...