Aspirasi Mahasiswa

Parodi Sekolah di Indonesaah

Sekolahan di Indonesia, baik swasta atau negeri semuanya punya tujuan yang sama seperti yang tertulis dalam pembukaan undang-undang. Dengan kata lain, apapun yang terjadi pada murid, sekolah harus berusaha keras untuk membuat para muridnya cerdas, berilmu dan bermoral. Tapi kalo diperhatikan, hamper dari semua institusi pendidikan baik swasta atau negeri seolah samasekali tidak ada niat untuk mendidik anak-anak bangsa, entah karna sekolahanya atau mungkin karna para pendidiknya atau juga karna kurikulum yang dibuat oleh pemerintahnya.

Dari beberapa kasus yang sering kita dengar, bahwa ada banya sekolah yang mengeluarkan anak didiknya secara paksa karna melakukan tindakan criminal atau amoral, artinya, sekolah hanya mendidik anak-anak yang nurut, anak-anak yang sudah tau norma dan moral dan tidak mendidik anak-anak yang brutal, berandalan, su’ul adab, melanggar undang2 negara atau melanggar norma agama dan tipe anak lain yang mungkin bisa membuat buruk almamater sekolah. Mungkin kita yang belum pernah merasakan di DO (Red : Tendang Keluar) oleh kepala sekolah tidak akan merasakan sialnya menjadi anak yang dikucilkan dan ditendang dari sekolahan, tapi bagaimana perasaan mereka yang di keluarkan dari sekolahan dan tidak diterima disekolahan lain karna tindakanya yang dianggap melanggar hukum atau melanggar norma agama? Bayangkan bagaimana perasaan kamu jika kamu cewek remaja usia sekolah dulu atau sekarang kemudian kamu hamil diluar nikah dan diketahui oleh pihak sekolah, dan tentu saja kamu akan dikeluarkan, kemudian punya anak tanpa ada ayahnya, sementara usia kamu masih pada usia harus sekolah? Sekolahan mana yang bersedia menanggung aib yang dibawa oleh kamu? Tidak ada.

Atau jika kamu lelaki dan masih sekolah, kemudian tidak sengaja dijumpai oleh pihak sekolah sedang melakukan tindakan asusila (Red : Mesum) dengan teman kelasmu, atau mencabuli adik kelasmu, apa kemungkinan besar yang akan diputuskan oleh sekolahan untuk dirimu kalau bukan di tendang keluar dari sekolahan? Dan jika sekolahan lain mengetahui tindakanmu, apa mungkin mereka mau menerimamu sebagai muridnya? Tidak.

Atau seperti kasus lain yang mungkin pernah kita alami, kebanyakan dari kita pernah merasakan “Ditolak” oleh sekolah favorit karna kita sedikit agak bodoh. Tidak lulus tes masuk. Alasan klasik yang mereka publikasikan adalah “kurangnya fasilitas kelas, bangku tidak memadai, maka mereka harus menerima siswa yang kapasistas otaknya lumayan cerdas, pinter, dan berduit” ya, ini tidak terlalu disayangkan, tapi bagaimana jika hanya itu satu-satunya sekolah yang ada dan dekat dengan tempat tinggal kita misalnya, atau hanya sekolahan itu yang cukup dengan saku orang tua kita. Dan bukankah fungsi dari sekolahan itu untuk mencerdaskan anak didik? Artinnya mereka yang sudah cerdas untuk apa harus dididik kembali disekolahan? Dan akhirnya yang terjadi bagaimana? Orang-orang cerdas belajar ditempat yang berkualitas, sarana dan prasarana lengkap, pendidiknya kompeten dan orang-orang yang dibawah cerdas harus sekolah disekolahan yang tidak terlalu berkualitas, sekolahan swasta akreditasi c misalnya, dengan tanpa sarana dan prasarana yang memadai, kemudian sekolahan di Indonesia menghasilkan pelajar yang berkelas-kelas dan berkasta dengan tingkat kecerdasan dankeilmuan yang jauh berbeda, kemudian menghasilkan lulusan yang berkelas-kelas juga, yang akhirnya lapangan pekerjaan harus dipadati oleh mereka yang lulusan dari sekolah-sekolah favorite dan ternama.

You might also like
Comments
Loading...