Aspirasi Mahasiswa

Seandainya Rohingya itu penganut Syiah atau Ahmadiyah, Apa kalian masih mau membantu?

Beberapa pekan lalu jagad maya seperti Twitter, Facebook, dan Portal berita ramai membicarakan soal krisis kemanusiaan yang terjadi di Rakhine Myanmar, mereka orang-orang yang berasal dari Rohang yang kemudian disebut sebagai Rohingya katanya sedang mengalami genosida dan pembantaian masal, terlepas dari benar atau tidaknya berita yang beredar bahwa itu adalah tindakan genosida atau bukan, kita tidak boleh menelan mentah-mentah berita yang beredar begitu saja, apalagi sampai terbawa Hoax, karena kita tidak pernah tahu secara pasti tentang permasalahan yang sedang terjadi di Rakhine, jangan sampai kemudian perrmasalahan yang terjadi di Rakhine malah dibawa ke negara Indonesia dengan dalih mengaitkan isu SARA, kita sebagai anak bangsa harus berhati-hati terhadap permasalahan ini. Walaupun demikian kita juga mengecam segala bentuk penindasan dan perampasan hak hidup terhadap sesama manusia seperti yang sedang dialami oleh masyarakat Rohingya, bila hak hidup masyarakat Rohingya dirampas kita harus lantang menyuarakan keadilan bagi mereka, bila diri kita merasa hidup sebagai manusia maka sudah seharusnya bertindaklah selayaknya manusia yaitu saling tolong menolong dan membantu dalam kebaikan.

Salah satu fenomena yang paling menarik adalah adanya gerakan solidaritas muslim seperti yang terjadi di Indonesia, dalam hal ini sebenarnya tidak ada yang salah dan memang di dalam ajaran Islam para penganutnya diharuskan untuk saling tolong menolong terhadap sesama saudara muslim, lalu saya mulai gatal untuk mempertanyakan suatu hal, terlebih dengan keadaan yang terjadi pada umat Islam Indonesia saat ini.

waktu lalu kita dihebohkan dengan berita viral tentang adanya penutupan paksa sebuah masjid di bogor yang disinyalir beraliran wahabi yaitu masjid Imam Ahmad bin Hanbal, lalu bentrokan yang terjadi di madura antara Sunni dan Syiah beberapa tahun ke belakang atau penghancuran dan pembunuhan terhadap pengikut Ahmadiyah di Cikeusik Banten, adanya egosime dan keserakan nafsu tentang klaim kebenaran seringkali menimbulkan anarkisme yang kemudian bahkan malah diartikan sebagai perbuatan mulia (jihad), lalu pertanyaannya adalah “Seandainya masyarakat Rohingya itu penganut Syiah atau Ahmadiyah, Apa kalian masih mau membantu?”, apakah akan masih tetap ada solidaritas, kepedulian dan lain sebagainnya, apakah untuk bisa saling menolong dan membantu harus segolongan saja?

Bila masyarakat Rohingya itu adalah penganut Syiah atau Ahmadiyah masihkan hati kita tergerak untuk peduli dan menolong mereka, apakah untuk menolong terhadap sesama manusia dalam hal kebaikan itu harus bersyarat seperti misalnya kita menolong karena dia agamanya sama, golongannya sama, etniknya sama, sukunya sama atau bagaimana?

Kemudian dalam hal ini penulis hanya ingin menyampaikan bahwasanya ketika kita ingin menolong seseorang atau siapapun bukan hanya karena mereka golongan dan agamanya sama dengan kita, tapi kita menolong orang lain karena kita merasa bahwa diri kita ini adalah manusia bukan binatang, bila binatang hanya mempedulikan dan menjaga sesama golongan saja, bila kawanan anjing tentu mereka hanya akan saling membantu dan menolong kawanannya saja, begitu juga dengan, kambing, domba, kerbau, monyet dan semua hewan yang berkelompok hanya akan saling menolong dan melindungi kelompoknya saja.

Kalau kita merasa hidup sebagai manusia maka saling tolong menolong dalam kebaikan bagi manusia tidak mengenal batas dan syarat, bantulah siapapun yang memang harus dibantu dan membutuhkan bantuan, selama hal itu masih dalam koridor kebaikan dan tidak bertentang dengan kemanusiaan.

Comments
Loading...