Aspirasi Mahasiswa

Stress, Membunuh Ingatan!

Pernahkah kita mengalami kondisi dimana anda merasa sangat tertekan, khawatir berlebihan, emosi memuncak, agresif, tidak dapat rileks  bahkan sulit tidur. Adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berfikir dan keadaan seseorang begitulah pengertian stress menurut Hasibuan H. Melayu S.P (2003).

Menurut Ghai (2003:119) ada tiga gelaja seseorang mengalami stress dapat dilihat dari tanda-tanda, diantaranya: Gejala Fisik seperti sakit kepala, tekanan darah naik bahkan sampai serangan jantung. Gelaja Psikologis seperti sulit tidur, mimpi buruk, depresi, gelisah, tidak bergairah, bingung, mudah tersinggung, dan gejala depresi lainnya dan gejala Prilaku seperti seseorang sering membuat kekeliruan, uring-uringan,  produktivitas menurun dan sering membolos. Namun taukah anda bahwa selain daripada tiga gejala diatas, stress juga dapat membunuh ingatan.

Kita kenal betul bahwa waktu adalah musuh nomor satu dalam membunuh ingatan kita secara perlahan-lahan, namun disisi lain, stress juga adalah musuh yang brutal. Secara harafiah, stress yang berlebihan bisa merusak beberapa wilayah otak, dan menghancurkan sel-sel. Stres bisa menghalangi penerimaan, merintangi penyimpanan dan menghambat proses mengingat informasi. Stress juga mampu mengubah struktur dan fungsi otak , stress akan menekan proses kelahiran saraf-saraf baru yang sudah ada, dan yang lebih buruk lagi penelitian menunjukan bahwa dampak stres yang akut dapat memunculkannya dampak lain pada tubuh.

karena itu, menghindari situasi stress adalah upaya agar kita dapat menjaga dan memelihara ingatan kita. Dengan ingatan,  kita dapat memperbaiki kehidupan kita. Ada beberapa hal yang mudah dilakukan untuk menguragi stress, seperti membiasakan untuk berjalan kaki dan fokuskan pada beberapa hal yang baru yang belum pernah kita perhatikan, mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah didatangi, membaca buku, mendengarkan music yang menenangkan, berbaur dengan teman-teman dan yang paling penting adalah mendekatkan diri kepada Tuhan YME.

Namun tidak semua stress itu dalam konotasi “buruk” karena menurut National Safety Council (2004) stress itu terbagi dalam dua jenis, ada stres buruk (Distress) yang memiliki dampak seperti di atas, dan ada stress baik (Positif) yaitu segala situasi dan kondisi apapun yang dapat memotivasi atau memberikan inspirasi seperti promosi jabatan dan cuti yang dibayar.

Comments
Loading...