Aspirasi Mahasiswa

Yang jadi pejabat bagusnya mantan aktivis atau akademisi yak?

Jika ditanya mana yang ideal untuk menjadi pejabat pemerintahan antara akademisi dan aktivis mahasiswa, saya masih tidak bisa menilai mana yang lebih ideal, tapi setidaknya ada yang lebih baik meskipun suma sedikit.
saya membedakan aktivis dengan akademisi karna kebanyakan kawan saya juga demikian, hingga saya menilai bahwa akademisi adalah seorang intelektual yang sibuk dengan teori sedangkan aktivist adalah seorang intelektual yang disibukan dengan aksi. tapi bukan berarti kedua model mahasiswa ini hanya menggunakan satu metode, keduanya sama, hanya saja kecendrungan mereka pada aksi atau teori.
Untuk menjadi seorang pemimpin atau mungkin pejabat, dengan teori saja tidak cukup. karna memipin adalah merencanakan, menyusun, membuat dan menciptakan, mengatasi dan menyelesaikan masalah dengan aksi. Penggunaan teori tidak terlalu dominan tapi tetap digunakan. orang – orang yang terbiasa dengan aksi akan lebih maju dan berkembang daripada mereka yang sibuk dengan teori, komentar, bualan dan omong kosong yang lain.

Ada pendapat yang mengatakan, “teori tanpa aksi sama dengan omong kosong, aksi tanpa teori ya radikal” artinya, keduanya memang harus berjalan beriringan, sesuai menyeusaikan beda dan saling melengkapi. tinggal bagaimana kita menilai mana yang lebih baik antara omong kosong atau “Radikal”. Jika omong kosong samasekali tidak berguna, setidaknya radikal ada gunanya meskipun mungkin negative nya banyak. maka tentu saja sebaiknya tidak hanya teori, lebih baik dibarengi dengan aksi dan akan lebih baik lagi jika keduanya seimbang.
Kembali pada persoalan awal, yang MUNGKIN lebih tepat untuk menjadi seorang pejabat pemerintah adalah dari kalangan atau mantan aktivis mahasiswa, karna mereka bisanya tau dan merasakan langsung penderitaan rakyat, mengerti bagaimana seharusnya pemerintah membuat kebijakan, dan tentu saja pengalaman dan wawasannya bisa menjadi bahan rujukan untuk mengatur dan mempertimbangkan setiap keputusan – keputusan yang akan diambil. Namun sayangnya, kebanyakan dari mereka setelah menjadi pejabat (penguasa) cenderung melupakan visi misi dan lebih mempertimbangkan dan mempertahankan posisi melalui loby-lobi dan manipulasi. Pernyataan ini mungkin tanpa dasar, namun faktanya bahwa pejabat hari ini adalah aktivis mahasiswa masalalu dan pejabat/pemimpin masadepan adalah aktivist mahasiswa masa kini, dan faktanya hari ini kita masih belum merasakan kesejahteraan karna keberadaan mereka dalam pemerintahan. yatoya? dan ini mungkin akar masalah kenapa hari ini kita belum merasa puas atas prestasi mereka. Kalau begitu, apakah tidak lebih baik jika yang menjabat dalam pemerintahan adalah mantan akademisi? Tidak juga, dan tidak menutup kemungkinan merekapun sama, selalu berusaha mempertahankan posisinya dan melupakan visi misinya. karna persamaan dari keduanya adalah Manusia dan Miskin. jadi visi misi utama mereka untuk merebut kekuasaan adalah memperkaya diri, keluarga dan kolega. itu saja.
Jika saya amati di Banten saja misalnya, yang hari ini menduduki posisi penting dalam pemerintahan seperti kepala dinas, kepala seksi, kepala dewan,kepala panwas dan kepala batu yang lain adalah senior teman seperjuangan saya, mereka alumni dari organisasi pergerakan mahasiswa, entah dari himpunan, keluarga atau bahkan komunitas.Jadi memang bukan suatu kebanggaan bagi kita jika senior kita berada dalam pemerintahan jika hari ini saja kita tidak merasakan kesejahteraan sedikitpun. tapi mungkin cuma saya tidak, temen saya sejahteraa 😀 eh -_-

You might also like
Comments
Loading...