Aspirasi Mahasiswa

Jeritan Anak Sang Komunis : Keluargaku Bukan Penjahat

2017 “Agustus Bulan Kemeredekaan”

Bendera merah  putih berkibar-kibar di setiap sudut kampung, hiasan dari berbagi macam benda dengan latar berwarna merah putih memenuhi setiap tempat di kampungku, yang paling terlihat gagah adalah gapura bergambar burung garuda yang menjadi ikon selamat datang, semua bersorak sorai menyambut hari kemerdekaan bangsa tercinta ini, namun masih ada sedikit luka yang tidak bisa aku dan keluargaku jelaskan kepada bangsa ini, aku tahu semua itu adalah cerita masa lalu, aku tidak bisa menyalahkan bangsa ini sepenuhnya, karena kisah menyakitkan itu hanyalah perbuatan dari segelintir orang saja  atau lebih tepatnya orde pemerintahan yang saat itu berkuasa sedang tidak bersahabat baik dengan golongan kami, aku sangat mencintai negara dan tanah air ini, sebagaimana ayahku dulu mencintai tanah airnya dan juga memperjuangkannya.


1965 “Pembantaian Massal”

Terdengar dobrakan keras di pintu depan rumah kami.

“Cepat kalian semua keluar” teriak pria berbaju loreng dengan senjata laras panjang.

Ia tidak sendirian, dibelakangnya ada banyak massa yang mengenakan sarung dan kopiah, mereka membawa senjata tajam dan segala alat yang bisa membuat orang berkeringat darah.

“Sudah tarik paksa saja mereka”

Komunis eta teu percaya ka Gusti Allah, geus seret paksa bae[1]


1957 “Periode Kemenangan Rakyat”

Setelah hampir dua puluh lima tahun bergerak di bawah tanah, keanggotan partai komunis pun berkembang pesat, PKI memiliki berbagai sayap gerakan di berbagai lini mulai dari serikat petani, buruh, barisan wanita, kepanduan pemuda, kaum intelektual, cendikiawan dan juga lembaga seni dan budaya, PKI menjadi semacam tumpuan dan harapan bagi kaum lemah tertindas untuk melakukan perlawanan terhadap kaum lintah penghisap yaitu para kapitalis.

Ayahku tergabung ke dalam anggota Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) di wilayah Cikande Ilir, ia daulat sebagai ketua pada saat itu, abangku bekerja sebagai jurnalis di cabang media milik PKI untuk wilayah Serang Timur yaitu koran harian Bintang Merah, sedangkan kakak perempuanku masuk keanggotan Gerwani ia juga di daulat sebagai ketua, keluarga memang mendapatkan posisi yang sangat baik pada saat PKI berkuasa, keluargaku bukanlah penjahat, kami tidak pernah membunuh siapapun, bahkan keseharian ayah selalu dekat dengan masyarakat, terlebih kakak perempuanku, ia sangat giat dan aktif mengajak kaum perempuan di desaku untuk berpikir maju dan kreatif.

22 November 1965 “ Kabar Buruk, Pemimpin Besar dan Kejatuhan golongan kiri”

“Ketua Saman..Ketua Saman”. Terdengar suara tergopoh-gopoh seperti habis dikejar setan

“Ada apa kau Tarsim, sampai berteriak seperti itu”

“Ketua, apakah ketua sudah mendengar kabar tentang “Pemimpin Besar”? tanya Tarsim

“Hari ini aku belum mendapat pesan ataupun berita dari pusat, memangnya ada apa?

“Pemimpin Besar telah dieksekusi di Boyolali, dan pemerintahan kini sudah beralih, dan katanya akan ada program sapu bersih”

“Dari mana kau mendapatkan berita ini? Sudahkah kau periksa keabsahannya, memangnya apa salah kita sehingga harus takut?”

“Bukan seperti itu ketua, pasalnya mereka tidak mau tahu dan tidak peduli, siapapun yang terindikasi dengan PKI akan ditumpas habis, aku mendapatkan informasi ini dari kawan Sakirun, ia  ketua PKI wilayah Lebak, keadaan Jakarta saat ini sangat mencekam, karena Pemimpin Revolusi sudah ditumbangkan, sepertinya sudah terjadi kudeta secara halus”

“Kita harus segera pergi dari sini ketua”

“Bruakk…” Tidak lama kemudian terdengar suara pintu didobrak

“Cepat keluar kalian, kalian orang-orang komunis cepat keluar”

Aku melihat kakak perempuanku dijambak rambutnya dan diseret-seret seperti anjing, abangku langsung diikat dan ditutup matanya, Kepala ayahku dipukul memakai popor senjata, mereka melakukan itu semua tanpa pernah memberikan kami kesempatan untuk menjelaskan.

Saat itu usiaku baru enam tahun, aku tidak terlalu mengerti dan memahami kejadian saat itu, tapi yang aku ingat pada saat itu ibu menggendongku dan membawaku berlari melalui pintu dapur, walaupun sudah berusaha melarikan diri akan tetapi aku dan ibuku tetap dikejar dan diburu, lalu kemudian paman Tarsim yang saat itu bersama kami sengaja mengalihkan perhatian para pengejar tersebut, sehingga kemudian aku dan ibuku bisa selamat.


Dari kejauhan si anak kecil itu hanya bisa menatap ayah, abang lelaki dan kakak perempuannya yang dibawa dengan keadaan tangan terikat dan mata tertutup, kemudian mereka diangkut ke sebuah mobil truk dan entah akan dibawa kemana, perlahan lampu truk mulai meremang dan meninggalkan desa.

[1] Komunis itu tidak percaya kepada Allah, ya sudah seret paksa saja

Comments
Loading...