Aspirasi Mahasiswa

Mas Kalam Sastra Kalimasada : Apakah yang dimaksud dengan “Ada”

Padang rembulan kali ini terasa berbeda, karena bulan purnama terlihat lebih dekat dan sangat terang, kalau orang-orang kekinian menyebutnya sebagai fenomena Super moon, saking terangnya cahaya dari Super Moon tersebut, anak-anak perempuan di majelis aksara bisa melihat lubang jarum dan memasukan benang ke dalamnya dengan jelas tanpa bantuan lampu teplok atau penerangan lainnya. Seperti biasa kegiatan rutin di majelis aksara, kami akan mendengarkan Cacahan ( pelajaran dari guru kami, tak lama beberapa saat kemudian guru pun datang dan duduk di atas mastabah (tempat duduk dari batu).

“Hari ini kita akan membahas tentang ADA”, ucap guru

“Apakah yang dimaksud dengan Ada, Apakah Ada itu adalah suatu bentuk wujud materi dari keberadaan sesuatu benda ataukah bisa juga sebaliknya”

Semua murid memasang telinga dengan sigap dan serius mendengarkan Guru.

“kita tidak bisa menjelaskan “Ada” secara makna tunggal, karena “Ada” itu terbagi menjadi dua, yaitu “Ada” secara Izati ( wujud materi) dan “Ada” secara Idafi (non materi).

“Yang pertama penjelasan tentang Ada secara Izati yaitu keberadaan sesuatu dalam bentuk dan wujud zat materi yang bisa kita lihat, contohnya seperti apa, misalnya kursi, pepohonan, batu, bumi, bulan, matahari, manusia, patung dan bahkan udara sekalipun, karena udara memiliki bentuknya dalam wujud molekul atom terkecil, dan pengertian Ada secara Izati terbagi lagi menjadi dua jenis, yaitu :

Ada dalam pengertian bentuk abstrak (tidak beraturan) dan Ada dalam pengertian bentuk nyata, pengertian Ada dalam bentuk abstrak misalnya cahaya, yang keberadannya mewujud dalam terang dan gelap atau suhu yang mewujud melalui dingin dan panas, yang diukur melalui tekanan udara, secara wujud kita memang tidak bisa melihat bentuknya secara jelas, bagaimanakah bentuk cahaya atau suhu itu, apakah bentuknya kotak, lingkaran atau gelombang seperti benang, seperti apakah warnanya aslinya, apakah berwarna kuning, putih, biru atau merah ataukah warna tersebut tergantung dari mana cahaya itu bersumber, bagaimana teksturnya dan apakah mereka memiliki jangka masa batas akhir layaknya wujud materi yang lain semisal kayu yang akan melapuk atau seperti besi yang berkarat dan akhirnya habis lalu menghilang? kita tidak bisa mengetahui wujudnya yang secara nyata yang tetap (asli) , tapi kita masih bisa melihat wujudnya secara abstrak, kita masih bisa mengukurnya dengan hitungan, kita bisa melihat cahaya atau merasakan tekanan udara.”

Lalu yang kedua adalah Ada secara Idafi alias ada secara non material, tidak mewujud dalam bentuk materi dan tidak bisa diukur, namun pasti keber”Ada”annya.

nyata “Ada”nya keberadaan dari sesuatu hal tersebut, karena akal sehat kita dan perasaan hati kita bisa merasakan hal itu, misalnya kita ambil contoh yang mudah adalah perasaan kita, yaitu rasa cinta, rindu, yakin, sabar, ikhas atau kebalikan dari perasaan tersebut seperti amarah, benci, dendam, iri, dengki, hasad, aniaya dan khianat.

Ada secara Idafi yaitu keberadaan sesuatu yang keberadaannya diwujudkan melalui perantara keberadaan yang lain, sehingga keberadaan perantara keberadaan yang lain itulah yang menjadi bukti nyata bahwa sesuatu itu ada, misalnya adalah keberadaan rasa cinta, bisakah kita melihat bagaimanakah wujud nyata secara materi dari perasaan cinta tersebut?

apakah benar bahwa bentuk cinta itu sama seperti bentuk hati (love) yaitu mirip bentuk segitiga terbalik namun memiliki lengkungan di garis tengahnya, seperti yang umumnya kita ketahui, apakah warnanya merah muda, seperti apakah cinta itu, bila tidak mewujud dalam bentuk materi bisakah cinta itu disebut sebagai sesuatu yang Ada.

Jadi sesuatu yang Ada itu tidak selalu dan tidak harus mewujud dalam bentuk materi, tapi kita yakin bahwa cinta itu keberadaannya Ada dan nyata dalam kehidupan bagi manusia yang memiliki akal sehat (hikmah) dan hati yang bersih, walaupun kita tidak pernah mengetahui wujud nyata yang berbentuk secara materi dari pada cinta, tapi kita yakin bahwa cinta itu ada.

Lalu bagaimanakah kita bisa yakin bahwa cinta itu ada, kita bisa yakin bahwa cinta itu Ada karena diwujudkan melalui sebuah perantara atau keberadaanya bisa menjadi Ada karena diwujudkan melalui perantara sesuatu, yaitu melalui sikap, tindakan dan perilaku.

Keber”Ada”an cinta bisa diketahui melalui sikap dan tindakan kita atau juga sebaliknya misalnya amarah, kita bisa mengetahui bahwa amarah itu Ada karena mewujud dari sikap dan perilaku kita.

Begitu juga dengan keberadaan kita sebagai manusia, keberadaan siang dan malam, keberadaan bumi, bulan, matahari, planet-planet dan juga alam semesta, itu semua adalah perantara untuk memberitahukan dari sesuatu yang ADA” walaupun kita tidak pernah sekalipun melihatnya, tapi melalui perantara-perantara yang Dia ciptakan, kita menjadi yakin bahwa Dia yang kita sebut sebagai Tuhan itu sungguh Ada dan nyata  keber”Ada”annya.

Comments
Loading...